
Sementara keesokan harinya di rumah Ki Datang, dihebohkan dengan kejadian yang aneh. Ki Larang berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Sesekali dia menari-nari dengan gerakan yang tak jelas.
“Hahaha...siapa yang lebih hebat dari aku?” Ki Larang berteriak sambil menepuk-nepuk dadanya keras.
Tak lama kemudian dia sudah melompat dia atas meja kayu sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti seorang penari.
“Eling, Kang, eling!” teriak Nyai Anjarwati istri Ki Larang.
Walaupun dia sudah sering kali disakiti oleh suaminya itu tetap saja ada perasaan takut dan sedih melihat kondisi yang terjadi pada Ki Larang.
“Mang Diman, panggil Karto sekarang juga!”
“Baik, Nyonya.” Mang Diman yang sedari tadi ikut mencoba menenangkan Ki Larang langsung keluar mencari Karto.
Di ruangan itu terlihat beberapa pekerja yang melihat tingkah laku sang juragan. Mereka saling berbisik-bisik mencoba-coba menerka apa yang telah merasuki tubuh Ki Larang.
“Kesambet setan ronggeng kali, Juragan,” bisik seorang pelayan bernama Munirah ketelinga kawannya yang sesama pelayan.
“Hus, ngawur.” Surtini mecubit lengan kawannya iru.
“Gak percaya kamu, Sur. Coba lihat dari tadi juragan meronggeng terus.”
“Memang ada setan ronggeng? Ngarang kamu, Mun.”
“Hahaha...siapa yang lebih kaya dari aku?” Teriakan Ki Larang membuat kedua pelayan muda yang sedang berbisik-bisik itu tersentak kaget.
Nyai Anjarwati semakin kebingungan melihat tingkah laku suaminya yang semakin aneh saja.
“Nyonya, Karto tidak ada!” ucap Mang Diman yang berlari dari arah belakang.
“Hah,kemana dia? Sudah kamu cari kesemua tempat?”
“Sudah, Nyonya. Saya tanya kepada pekerja lainnya juga tidak ada yang melihat Karto sejak malam.”
“Kalian ada yang melihat, Karto?” Tanya Nyai Anjarwati kepada pelayan yang berada satu ruangan dengannya.
“Tidak, Nyonya” jawab para pelayan bersamaan.
“Mang Diman, kalau begitu kamu dan Suminto pergi ke rumah Ki Sukma. Ceritakan apa yang terkadi pada juraganmu ini, dan segera suruh datang Ki Sukma kemari,” titah Nyai Anjarwati.
“Baik, Nyonya.” Mang Diman segera pergi menjalankan titah sang majikan.
“kalian jaga Ki Larang jangan sampe dia berbuat yang mencelakakan dirinya. Perhatikan terus apa yang diperbuat juragan kalian!” perintah Nyai Anjarwati pada Sarmin dan Bowo dua orang pelayan pria yang berdiri sedari tadi melihat atraksi aneh sang junjungannya.
Keduanya hanya menganggukkan kepalanya patuh. Sementara Ki Larang masih saja menari berputar-putar di atas meja.
“Aduh, Kang, eling!” Nyia Sekar Asih berjalan mendekati sang suami.
__ADS_1
“Kang, kenapa jadi begini, Akang ini kenapa?”
Ki Larang tiba-tiba berhenti menari. Matanya menatap tajam istrinya. Perlahan Ki Larang menurunkan tubuhnya, dia berjongkok. Wajahnya kini tepat berhadapan dengan wajah istrinya. Nyai Anjarwati mundur selangkah melihat tatapan suaminya yang sangat menakutkan. Dalam hitungan detik bola mata Ki Larang terbalik dan hanya menyisakan bulatan putihnya saja.
Nyai Anjarwati terlonjak kaget melihat perubahan mata suaminya dan tanpa diduga Ki Larang meloncat dan menyergap tubuhnya.
“Ahh...Kang!” teriak Nyai Anjarwati.
Kedua tangan Ki Larang mencekik leher Nyai Anjarwati. Wanita paruh baya itu meronta mencoba melepaskan cengkraman dilehernya. Sarmin dan bowo yang melihat itu langsung berlari dan menarik tubuh Ki Larang sambil sambil berusaha melepaskan tangan yang mencekik leher Nyai Anjarwati.
Uhuk...uhuk...
Nyai Anjarwati terbatuk-batuk ketika kedua pelayannya tadi berhasil melepaskan cengkraman dilehernya. Sementara Ki Larang meronta-ronta ketika tubuhnya di tahan oleh dua pelayannya.
“Ikat dia, cepat!” perintah Nyai Anjarwati. Dia memegangi lehernya yang masih terasa sakit.
“Munirah, Surti cari tali, cepat!” ucap Sarmin yang menahan tubuh Ki Larang.
Tanpa lama mereka berdua bergegas lari kebelakang. Tidak perlu waktu lama mereka berdua sudah kembali dengan tali tambang ditangannya.
“Dudukan Juragan di kuris, Wo!” ucap Sarmin
Keduanya menarik tubuh Ki Larang dan mendudukkan paksa di atas kursi. Lalu diikatnya tubuh Ki Larang dengan tali yang dililitkan ke kursi.
“Sssttt...” terdengar suara Ki Dalang seperti berdesis. Tubuhnya meliuk-liuk berupaya melepaskan diri dari ikatan di tubuhnya.
“Iyah,kenapa yah! Kamu kasih makan apa Juragan sampai bisa seperti itu?” ucap Surti.
“Heh, sembarangan kamu, Sur! Aku masak seperti biasanya buktinya yang lain juga makan tidak apa-apa.”
“Hehehe. ..Bercanda, Mun. Gitu aja kok marah. Nanti pipimu tuh tambah tembeb loh,” ejek Surti sambil menutup mulutnya agar suara tawanya tak terdengar.
Munirah, wanita berbadan tambun itu langsung cemberut mendengar ledekan kawan seprofesinya itu.
“Munirah, Surti, sudah kalian ke dapur sana! Jangan terus bergosip yang tidak jelas,” ucap Nyai Anjarwati yang memperhatikan kelakuan pegawainya itu.
“Baik, Nyonya!” jawab mereka serempak dan buru-buru beranjak dari tempat itu.
“Gara-gara kamu sih, Mun, kena deh kita dimarahin, Nyonya,” ucap Surti
“Loh kok gara-gara aku?”
“Bicaramu sembarangan dari tadi jangan-jangan,Nyonya dengar lagi.”
“ehh,memang aku bicara apa?”
“Lah tadi kamu bicara, Juragan kesambet setan ronggeng!”
__ADS_1
“Hehehe...soalnya Juragan menari terus dari tadi. Ehh, Sur mari duduk di sana!” Munirah menarik tangan Surti dan mengajaknya ke sebuah balai-balai bambu yang berada tepat di samping dapur.
“Ada apa sih, Mun?” Surti mengikuti ajakan Munirah.
“Sudah duduk sini dulu!”
Keduanya duduk di balai yang terbuat dari bambu itu.
“Sur, tadi kamu lihatkan, Juragan waktu diikat tubuhnya kayak meliuk-liuk begitu.”
Surti hanya mengangguk menanggapi ocehan kawannya yang memang suka gosip itu.
“Apa, Juragan kesambet siluman ular yah.”
“Alah, kamu ini, Mun..Mun, tadi bilang kesambet setan ronggeng sekarang bilang siluman ular. Gak konsisten kamu.”
“Denger dulu, Sur!”
“Apa lagi sih, Mun?”
“Kamu kan tau juragan itu seneng banget sama yang namanya nyai ronggeng. Istri simpananannya aja ada beberapa yang dulunya mantan penari ronggeng.”
“Iya lalu apa hubungannya?”
“Jangan-jangan ada salah satu istri juragan yang ngirim santet biar juragan kapok main perempuan.”
“Huss...jangan bicara sembarangan kamu, Mun. Kalau ada yang mendengarnya bisa dipecat kamu karena bicara yang tidak-tidak.”
Kedua pelayan yang hampir sama usianya itu celingukan, memperhatikan sekitar jangan sampai ada orang yang mendengar percakapan mereke berdua.
“Lalu kamu pikir kenapa juragan sampai begitu?” tanya Munirah
“Yah gak tau, Mun. Mumet aku mikirinya.”
“Kamu ini memang paling gak asik, kalau di ajak diskusi, Sur.”
“Diskusi opo toh, Mun, yang ada tuh gosip!”
“Digosok makin sip toh, Sur.”
Keduanya pun tertawa cekikikan.
“Walah-walah, dua bocah iki nemen tenan!” Kerjaan wes rampung kabeh?”
(Aduh-aduh, dua anak ini keterlaluan sekali! Kerjaan sudah beres semua?)
Surti dan Munirah terkejut mendengar suara tepat dibelakang mereka. Keduanya menoleh perlahan kebelakang.
__ADS_1
Bersambung...