Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Cinta itu bisa saja hadir tanpa kita duga, karena rasa itu adalah anugerah yang kuasa maka berharaplah cinta itu tidak jatuh pada hati yang salah. Agar tidak ada penyesalan di akhirnya.


~~


Anggabaya masih berdiri di samping pedati yang sudah siap pergi, sedangkan Nyi Sekar Asih berada di dalamnya.


“Nyai, sebenarnya ada yang ingin saya utarakan pada jenengan.” Pemuda beralis tebal itu menatap sayu ke arah Sekar Asih.


“Ada apa, Kang Mas?” Nyai Sekar Asih menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Anggabaya.


“Sejak pertama melihat, Nyai, entah mengapa saya selalu teringat akan diri, Nyai. Sepertinya saya jatuh cinta pada, jenengan.” Lega hati Anggabaya sekarang. Rasa yang terpendam akhirnya bisa terungkapkan sudah.


Gadis ayu, berhidung bangir itu tersenyum tipis mendengar pengakuan Anggabaya. Mendengar pujian bahkan ungkapan cinta sudah sangat sering kali dia dengar, tapi entah mengapa untuk kali ini rasanya berbeda. Ada bahagia yang menyapa di dalam jiwa. Getaran hatinya jauh lebih terasa. Mungkinkah perasaannya juga sama.


Sesaat sepi menjeda diantara mereka berdua. Membiarkan keduanya memahami perasaan yang sesungguhnya.


“Bukannya, Kang Mas sudah di jodohkan dengan. Nona muda Larasati?” terpancar kecewa di mata sang penari ronggeng, karena yang dia tahu Larasati memang menyukai Anggabaya.


“Aku tidak pernah mencintainya. Aku akan menolak perjodohan itu.” Anggabaya berusaha menyakinkan Sekar Asih.


“Tapi bagaimana dengan keluargamu, apakah...” ucapan Sekar Asih terjeda takala Anggabaya menepelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.


“Tak perlu kau berpikir terlalu jauh dulu, Nyai. Sekarang yang ingin aku pastikan hanyalah apakah kau menerima cintaku?”


Nyai Sekar Asih menarik nafas panjang dan mengembuskanya. Secepat itukah Anggabaya mengharapkan jawaban darinya. Jujur saja selama ini tidak pernah terbersit sedikit pun dalam hati Sekar Asih untuk menjalin hubungan cinta. Rasa dendam yang telah bersemayan di dalam dirinya telah menutup perasaan itu. Baginya sekarang adalah untuk menuntaskan semua amarah yang sudah lama terpendam. Bagaimana pun juga dia harus tau siapa yang telah menewaskan seluruh keluarganya.

__ADS_1


“Nyai!” Anggabaya begitu berharap Nyai Sekar Asih menberikan jawaban secepatnya.


“Maaf Kangmas, bolehkan memberikan waktu bagi saya untuk berpikir.”


Anggabaya menghela nafas panjang. Walaupun dia mengharapkan Sekar Asih memberikan jawaban sekarang yang pastinya sesuai apa yang diharapkan, tapi dia juga tidak boleh memaksakan kehendak. Dia harus bisa menjaga perasaan wanita yang dicintainya.


“Bagaimana, Nyai, boleh kita pergi sekarang?” ucap sang kusir yang sudah siap mengantar.


“Saya pergi dulu, Kangmas.” Gadis berkulit putih itu tersenyum manis.


“Hati-hati dijalan, Nyai.” Anggabaya menatap kepergian sekar Asih dengan hati yang sedikit sedih. Belum apa-apa hatinya sudah sangat merindukannya. Perlahan pedati itu menjauh dari pandanganya dan akhirnya hilang.


~~


Sepanjang perjalanan Sekar Asih sedang menyusun rencana untuk segera memusnahkan Nyai Wulandari. Tapi keberadaan Anggabaya di rumah itu bisa menjadi sedikit penghakang baginya. Bukan apa-apa dia ingin kematian Nyai Wulandari tidak menimbulkan kecurigaan bagi orang di luar sana. Oleh karena itu Sekar Asih menunggu Anggabaya keluar dari rumah itu.


Setelah memakan waktu satu malam perjalanan akhirnya tiba juga Nyai Sekar Asih di desanya. Tak ada satu manusia pun yang tau bagaimana caranya penari ronggeng itu keluar masuk ke dalam hutan. Karena ketika malam menjelang Nyai Sekar Asih memanggil peliharaan Mbah Warsih berupa mahluk serupa ular hitam besar yang memiliki sayap di kedua sisi tubuhnya dan tanduk di kepala. Maka dengan sekejap saja mahluk itu akan membawa terbang tubuh Nyai Sekar Asih ketempat tujuan. Saka nama mahluk itu.


Nyai Sekar Asih turun dari punggung Saka tepat di depan kediaman Mbah Warsih. Mahluk berwujud ular besar itu langsung melesat dan menghilang.


~~


“Jadi kau menyia-nyiakan kesempatan untuk memusnahkan wanita iblis itu?” Benar saja dugaan Nyai Sekar Asih. Mbah Warsih merasa kecewa ketika Nyai Sekar Asih bercerita perihal Nyai Wulandari.


“Maafkan, Sekar, Mbah. Bukan maksud Sekar mengulur waktu tapi segalanya harus di persiaplan dengan matang.”

__ADS_1


“Apa hanya itu alasanmu?” Mbah Warsih membuang nafas kasar. Ditatapnya tajam mata Sekar Asih. Mencoba menyelidiki lebih dalam. Dia merasakan ada yang disembunyikan oleh Sekar Asih.


“Sebenarnya di rumah itu ada seorang pemuda, Anggabaya namanya.” Terjeda sejenak ucapannya. Sekilas senyum mengembang dari bibir tipis itu takala nama pemuda itu terucap.


Mbah Warsih menautkan kedua alisnya. Dia belum paham ada hubungan apa pemuda itu dengan rencana memusnahkan Nyai Wulandari.


“keberadaan pemuda itu bisa menjadi sedikit penghalang dari rencana kita, Mbah. Dia bukan pemuda biasa. Sekar tak tau dia berilmu tinggi atau tidak tapi yang ku tahu dia pemuda yang taat beragama. Sekar tak mau dia ikut campur dan rencana kita bisa gagal.”


Mbah Warsih menganggukan kepalanya. Dia paham sekarang. Bagaimanapu juga manusia yang taat pada Tuhannya tidak boleh di pandang sebelah mata, karena mereka mempunyai keyakinan akan kebesaran sang pencipta dan itulah yang menjadi kekuatan bagi mereka. Setinggi apapun ilmu hitam yang dimiliki tetap tak akan pernah mampu mengalahkan kekuatan yang Maha Kuasa.


“Mbah, boleh, Sekar bertanya sesuatu?”


“Apa yang hendak kau tanyakan?”


“Apakah susuk dan ilmu pemikat yang ada dalam diriku ini mampu membuat pria jatuh cinta padaku dan tergila-gila?”


Mbah Warsih tertawa hingga tampak giginya yang berwarna kemerahan karena biasa mengunyah kapur sirih dan pinang.


“Sekar...Sekar, Mbah rasa kau sudah tau sendiri. Susuk yang tertanam di tubuhmu itu jelas akan membuat siapa saja terpesona padamu. Tapi Untuk membuat seseorang hingga jatuh cinta kau sendiri yang menentukan dengan cara membacakan mantra pemikat kepada orang yang kau tuju.” Mbah Warsih kembali menatap Sekar Asih dengan lekat.


“Siapa lelaki yang mencintaimu? Ingat Sekar, ingat kita masih memiliki urusan yang belum terselesaikan. Mbah harap kau bisa mengesampingkan hal lain sebelum tujuan kita semuanya tercapai.” Mbah Warsih melangkah masuk kedalam kamar meninggalkan Sekar Asih.


Entah mengapa ada rasa sedih yang menelisik kedalam hatinya setelah mendengarkan perkataan Mbah Warsih. Di hatinya yang terdalam dia pun ingin semua rencana balas dendam itu tuntas secepatnya. Tapi di sisi lain dia tak bisa menolak rasa yang singgah untuk pertama kalinya itu.


Sesaat senyum mengembang di wajah Sekar Asih dia akhirnya sadar bahwa Anggabaya tulus mencintainya karena dia tidak pernah memantrai pemuda itu dengan Pelet pengasih. Semoga saja pikirannya tak salah. Kembali bayangan wajah pemuda itu hadir dalam ingatannya. Cara terseyum dan ketika mengucapkan kata cinta padanya.

__ADS_1


Tanpa di sadari oleh Sekar Asih, Mbah Warsih sedang memperhatikan dirinya yang sedang tersenyum sendirian dari balik tirai kamar. Sikap gadis berwajah cantik itu seolah mengingatkan dia pada masa mudanya ketika pertama kali jatuh cinta. Gelagatnya tak jauh berbeda, sering senyum sendiri seperti orang gila. Cinta memang mampu membuat kita bahagia tapi sekaligus mampu membuat kita menderita.


__ADS_2