Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Pembersihan


__ADS_3

Tipu daya setan itu nyata adanya. Dia diberikan keleluasaan oleh yang maha kuasa untuk menggoda manusia hingga akhir dunia. Segala cara akan dilakukannya untuk mengajak manusia pada kesesatan. Manusia yang dipenuhi nafsu dunia pasti akan tergoda karena muslihat kesenangan dunia yang hanya sementara.


~~


Larasati masih membisu, mendengar penawaran sang Eyang. Sulit baginya untuk menerima itu semua, tapi di sisi lain dia pun tak ingin kehilangan Anggabaya. Hatinya gamang. Sungguh persyaratannya diluar dugaannya.


“Apakah ada persyaratan lain selain menyerahkan tubuhku pada siluman buaya?” Gadis itu berharap masih ada cara lain tanpa harus mengorbankan dirinya.


Nyai Wulandari berdiri dari duduknya. Dia berjalan pelan dan berdiri tepat di belakang Larasati yang masih terduduk di lantai.


“Kau tau mengapa, Anggabaya begitu menyukai penari ronggeng itu? Karena dia melakukan hal yang sama, bersekutu dengan siluman!” Nyai Wulandari terus berusaha mempengaruhi Larasati agar menerima tawarannya.


“Tak ada yang gratis di dunia ini, jika kau ingin mendapatkan sesuatu maka ada harga yang harus kau bayar!”


“Tapi mengapa syaratnya sesulit itu?” Suara Larasati terdengar begitu lemah.


“Sudahlah, Eyang mau beristirahat. Pergilah ke kamarmu!”


Larasti berdiri dari duduknya. Dia berjalan gontai hendak keluar kamar.


“Jika kau berubah pikiran, kesempatan itu masih terbuka lebar.” Ucap Nyai Wulandari.


Larasati yang sudah memegang gagang pintu, memutar sedikit badannya kebelakang, menatap punggung sang eyang yang berjalan menuju ranjang. Akhirnya dia pun keluar dari kamar itu.

__ADS_1


~~


Dalam kamarnya Larasati belum juga bisa terpejam. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi. Di atas tempat tidur sedari tadi dia hanya menggulingkan badannya ke samping kiri dan kanan. Wajah Anggabaya terus saja terbayang, bisa-bisa dia gila dibuatnya. Belum lagi penawaran sang Eyang yang sungguh di luar dugaan, benar-benar membuat isi kepalanya ingin pecah.


Larasti berpikir sebaiknya dia menemui Anggabaya. Siapa tau setelah dia lepas dari ajian pemikat Nyai Sekar Asih, pemuda itu akan jatuh cinta padanya. Anggabaya akan sadar bahwa dirinya adalah gadis yang sangat cantik dan memiliki segalanya. Yah itulah satu-satunya jalan.


~~


Larasati mengutarakan keinginannya untuk bertemu kembali dengan Anggabaya kepada Orang tuanya. Alasannya untuk membicarakan lebih lanjut tentang perjodohan mereka dan sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga Anggabaya. Apalagi keluarga itu juga sedang ditimpa musibah dengan kejadian aneh yang menimpa Ki Larang.


Keinginan Larasati di sambut baik oleh orang tuanya, mereka akan mengatur jadwal berkunjung ke rumah Anggbaya.


“Rupanya anak gadis, Romo, ini sudah tak sabar ingin menikah dengan pujaan hatinya,” gurauan Ki Demang Atmaja itu berhasil membuat wajah putri bungsunya itu bersemu merah.


~~


Sementara Anggbaya yang telah sampai di Padepokan langsung menemui sang guru bernama Kiayi Ageng dan menceritakan prihal yang terjadi pada Ki Larang. Pria berjanggut putih itu terlihat manggut-manggut memahami setiap ucapan Anggabaya.


“Hal pertama yang harus kita lakukan nanti adalah, untuk tidak lagi melakukan perbuatan syirik dengan mendatangkan dukun dengan dalih pengobatan.” Ucap Kiayi Ageng. “Sejatinya para dukun itu juga ditunggagi oleh para jin.” Lelaki dengan wajah bersahaja itu mengusap-ngusap janggutnya.


“Sekiranya jika Kiayi bersedia, kalau bisa secepatnya untuk menolong mengobati Bapak saya.” Wajah Anggabaya terlihat penub harap.


“Insyaallah, besok kita dan beberapa orang santri,bersama-sama pergi kerumahmu. Sekarang kau beristiraharlah dulu. Saya akan menyiapkan apa saja yang harus dibawa besok.”

__ADS_1


Di halaman Padepokan terlihat beberapa orang sedang berlatih beladiri. Memang padepokan ini selain untuk menimba ilmu agama para muridnya pun di ajarkan ilmu bela diri. Untuk melatih fisik mereka agar kuat, dapat menjaga diri dan membantu orang lain. Selain ilmu beladiri mereka juga di latih ilmu kebatinan. Tapi tidak semua orang yang bisa di ajarkan ilmu itu, hanya orang-orang tertentu saja yang memang sudah menjalankan beberapa tahapan-tahapan hingga sampai pada jenjang dimana mereka berhak mendapatkan ilmu kebatinan.


~~


Keesokan harinya Anggabaya, Kiayi Ageng beserta dua orang santri pergi meninggalkan padepokan, menuju kediaman Anggabaya. Selama kepergian sang Kiayi padepokan di serahkan pengurusannya oleh Kiayi Rahmat yang merupakan Adik kandung Kiayi Ageng.


Selama dalam perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam tidak banyak yang diobrolkan. Mereka lebih banyak berzikir di sepanjang perjalanan agar mendapatkan keselamatan. Begitulah pola hidup manusia yang taat kepada sang maha pencipta. Tak pernah luput dari mengingat-Nya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya adalah kebaikan dan dalam diamnya ada zikir yang di ucapkan. Kelezatan iman sudah begitu meresap didalam hati mereka, hingga tipu dunia sudah tak lagi bisa memperdayanya.


Sepanjang jalan tidak ada halangan yang menghadang hingga mereka semua selamat sampai tujuan kedatangan mereka di sambut baik oleh keluarga Anggabaya. Kiayi Ageng dan ketiga santrinya setelah di jamu mereka di persilahkan untuk beristirahat dahulu di sebuah pavilun yang berada di belakang rumah utama yang memang di khususkan untuk Para tamu atau saudara yang datang bertandang. Paviliun itu terdiri dari tiga kamar tidur dilengkapi ruang tamu, dan sebuah kamar mandi.


“Anggabaya, sepertinya rumahmu ini di pagari oleh pagar ghaib. Tadi sewaktu kita masuk terasa aura panas dan membuat tak nyaman.” Kiayi Ageng merasakan sesuatu yang mistis sejak pertama kali menginjakan kakinya di rumah ini dan hal itu dia sampaikan pada Anggabaya yang ikut mengantarkan sang guru ke paviliun.


“Temani aku mengelilingi rumahmu, dan tolong bawakan air dalam botol aku akan membersihkan rumah ini dari pengaruh gaib,” perintah pria berwajah teduh itu kepada Anggabaya.


Pemuda itu pun segera menuju dapur yang tak jauh dari pavilun untuk mengambil air dan botol.


“Kalian beristirahatlah dahulu!” titah Kiayi Ageng kepada kedua santrinya itu.


“Baik, Kiayi,” jawab mereka bersamaan


Pria berwajah teduh itu menunggu Anggabaya di luar paviliun, matanya mengedar keseliling. selendang putih di lehernya sedikit berkibar terkena angin. Tangannya tak pernah lepas dari tasbih yang terbuat dari kayu gaharu itu.


Tidak berapa lama Anggabaya sudah datang dengan membawa sebuah botol yang berisi air, lalu diserahkannya pada sang Kiayi. Bacaan ayat suci Alquran lirih terdengar terucap dari bibir pria berwajah teduh itu. Lalu dia meniup air dalam botol sebanyak tiga kali.

__ADS_1


Setiap sudut rumah, dicipratkan air. Sementara ayat-ayat suci tak berhenti dia lafazkan. Kegiatan mereka tentu saja menarik perhatian beberapa abdi dalem. Tapi mereka hanya melihat saja tanpa berani bertanya kegiatan apa yang sebenarnya dilakukan oleh tuan muda dan gurunya.


__ADS_2