
“ahhh...!” Terdengar suara teriakan yang tertahan dari arah luar.
Nyai Sekar Asih, Mbah Warsih dan Kuat saling berpandangan. Ketiganya lalu melangkah keluar. Mereka mulai mencari arah suara yang tampaknya terdengar dari pinggir gubuk. Benar saja tak jauh dari gubuk itu tepatnya di bawah pohon Randu terlihat seorang pemuda yang tergantung dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Kedua kakinya terikat. Pemuda itu terlihat berupaya melepaskan diri dari jeratan. Tubuhnya bergerak kesana kemari.
Pemuda yang berasal dari desa itu mengikuti Kuat karena rasa penasaran, ingin mengetahui dimana kediaman sang penari ronggeng. Banyak memang para warga desa yang keluar masuk hutan untuk mencari kayu bakar atau berburu, tapi selama ini tidak ada satu pun warga yang pernah melihat kediaman Nyai Ronggeng. selain letaknya jauh kedalam hutan, kediaman Mbah Warsih itu telah dipagari dengan pagar ghaib jadi tidak bisa dilihat secara kasat mata oleh orang biasa.
Pergerakan pemuda itu seketika terhenti ketika dilihat ada tiga orang yang jalan mendekat ke arahnya. Dalam hatinya berharap tidak akan ada hal yang buruk yang akan menimpa dirinya.
“Lepaskan aku!” teriak pemuda itu, takala ketiga orang yang dilihatnya itu berdiri mengelilinginya.
“Berani sekali kau masuk ke wilayak kami!” ucap Mbah Warsih. Wanita tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah pria itu.
Hembusan nafas Mbah Warsih terasa hangat menerpa wajahnya sangking dekat wajah mereka berdua.
“Cepat lepaskan aku!” Pemuda itu masih berusaha untuk melapaskan jeratannya.
“Hahaha...Enak sekali kau minta dilepaskan, kau pikir siapa dirimu? Kuat cepat ambil cawan dan belati lalu bawa kemari!” ucap Mbah Warsih.
“Baik, Mbah.” Kuat setengah berlari masuk kedalam gubuk. Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa sebuah cawan dan belati ditangannya lalu menyerahkannya pada Mbah Warsih.
Mulut Mbah warsih seketika komat-kamit melapalkan mantra. suasana terasa begitu mencekam. Angin besar datang tiba-tiba dan di susul dengan suara-suara aneh yang entah berasal dari mana. Bau anyir menguar tercium menusuk hidung.
Sreet...
“Ahh...! Apa yang kalian lakukan padaku?” Pemuda itu berteriak kesakitan ketika Mbah Warsih melukai pergelangan tangannya dengan belati.
Darah segar yang keluar dan menetes dari ujung jari di tampung oleh Mbah Warsih dengan cawan. Suara-suara aneh semakin santer terdengar memekakan telinga. Terdengar begitu mengerikan.
“Kalian benar-benar gila, lepaskan aku!” Pemuda itu terus saja berteriak. Ketakutan mulai merajai hatinya. Belum lagi dia harus menahan perih luka torehan di tangannya.
__ADS_1
Sreet..
Mbah Warsih untuk kedua kalinya melukai tangan pemuda itu. Kali ini lukanya jauh lebih dalam hingga darang yang keluar lebih banyak dan deras. Pemuda itu kembali meringis kesakitan. Saat itu dia menyesali kebodohannya. Rasa penasarannya ternyata membawa nyawanya di ujung tanduk.
Arrgghh...Arrgghh...
Suara-suara aneh seperti geraman terdengar semakin mendekat. Pemuda itu semakin ketakutan saja ketika dia melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Di belakang ketiga manusia yang telah melukainya berdiri berdiri mahluk-mahluk dengan bentuk yang sangat mengerikan. Ada yang berbentuk setengah manusia setengah binatang, ada yang tinggi besar dengan bulu lebat di seluruh badannya dengan taring-taring panjang keluar dari mulutnya. Ada yang berwajah hancur di tumbuhi penuh dengan belatung dan masih banyak lagi. Semua matanya menyala merah menatap nyalang ke arah pemuda malang yang semakin terlihat lemas dan tak berdaya.
Cawan itu sudah terisi setengahnya dengan darah. Mbah Warsih lalu meneguk darah itu beberapa tegukan, kemudian sisanya di berikan untuk Nyai Sekar Asih dan si Bungkuk untuk mereka habiskan.
“Hahaha...” Ketiga manusia itu tertawa lepas setelah meneguk habis darah dalam cawan. Tubuh mereka terasa jauh lebih berenergi.
“Kalian manusia laknat penganut ilmu hitam!” ucap pemuda itu dengan suara yang lemah. Penglihatannya mulai mengabur. ini akan menjadi akhir dari hidupnya.
“Terimakasih telah datang mempersembahkan nyawamu, hahaha...!” ucap Nyai Sekar Asih sambil menjilati bibirnya dari sisa darah yang menempel.
Baru beberapa langkah ketiganya meninggalkan pemuda malang itu. Mahluk-mahluk yang sedari tadi berdiri dengan cepat berjalan mendekati tubuh sang pemuda dan langusng mencabik-cabiknya dengan kuku dan gigi mereka.
Crauusss...Crauuusss...
Di tengah-tengah suara kunyahan para mahluk pemakan daging manusia itu, sayup terdengar rintihan yang menyayat hati hingga akhirnya suara rintihan kesakitan itu perlahan menghilang. Kini bagian-bagian tubuh pemuda itu bercerai-berai. Para mahluk sudah mendapatkan jatahnya masing-masing. Mahluk-mahluk mengerikan itu ******* habis daging hingga tulang belulang habis tak tersisa. Lolongan anjing hutan saling bersahutan seolah ikut meramaikan pesta pora para dedemit malam itu.
“Ada apa dengan Desa Cibening, Mbah dan siapa wanita iblis itu” tanya Nyai Sekar Asih sesampainya mereka di dalam gubuk.
__ADS_1
“Desa itu menyimpan banyak kenangan bagiku. Wanita iblis itu yang membuat aku harus keluar dari desa dan menanggung rasa perih yang teramat dalam. Dia telah menghancurkan semua impianku, merengut kebahagiannku.” Ucap Mbah Warsih. Matanya menyiratkan kemarahan dan dendam yang begitu dalam. Walaupun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya luka itu masih terasa begitu menyakitkan.
“Mengapa Mbah Warsih masih membiarkan dia hidup sampai sekarang?” Nyai Sekar Asih masih penasaran dengan kisah hidup Mbah Warsih.
“karena dia tahu kelemahanku!” lirih Mbah Warsih. Raut wajahnya kini terlihat sedih. Wajah Arya Danu kini terbayang jelas. Pemuda yang begitu tulus mencintainya. Hingga saat ini rasa cintanya masih begitu besar pada pria itu, walaupun dia tahu Arya Danu kini telah menikah dengan Nyai Wulandari.
“Dia menjadikan orang yang paling aku cintai menjadi tameng bagi diirinya. Dia tau aku takan pernah bisa menyakiti Arya Danu yang berada dalam pengaruh pelet pengasihnya. Selain itu dia memiliki ilmu hitam yang cukup tinggi. Sekar Asih mungkin ini lah saatnya aku membuat perhitungan lagi dengannya dan kau yang akan menjadi jalan balas dendamku!” Mbah Warsih melanjutkan ceritanya.
“Apa rencana kita, Mbah?” tanya Nyai Sekar Asih.
"Aku akan pikirkan selanjutnya, yang jelas kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang kita tidak boleh gegabah apabila ingin berhadapan dengannya. Wanita iblis itu tidak bisa dianggap remeh. Seminggu ini kita harus melakukan ritual agar Nyai Sankaweni memberikan kita kekuatan lebih. Buat kau Kuat, kau persiapkan dirimu apabila selama ritual yang akan aku dan Sekar Asih lakukan, Nyai Sangkaweni menginginkan tumbal maka kau harus siap mencarinya!" Jelas Mbah Warsih panjang lebar.
"Segala perintah, Mbah, akan saya lakukan." ucap Kuat sambil memberikan sikap penghormatan pada wanita yang telah merawatnya sedari kecil.
Bersambung..
__ADS_1