Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Persaingan


__ADS_3

Diantara abdi dalem yang sedang memperhatikan sang Kiayi melakukan ruqiah rumah adalah duo biang gosip yang tak lain adalah Munirah dan Surti. Kedua gadis seumuran itu terlihat begitu serius memperhatikan kegiatan kedua pria beda usia itu.


“Mun, kira-kira mereka lagi pada ngapainnya? Gadis kurus bernama Surti itu, menghentikan sejenak kegiatan menyapunya.


“Yah, lagi gitu!” jawab gadis bertubuh gemoy itu sambil memasukan kue apem kedalam mulutnya.


Surti hanya mendengus kesal mendengar jawaban teman seprofesinya itu.


“Sepertinya ada yang sesuatu yang aneh di rumah ini.”


“Aneh bagaimana, Ganteng kok.” Kua Apem ke dua kembali memenuhi mulutnya.


Surti mengerutka dahinya, memalingkan kepalanya kearah Munirah yang sedang menghabiskan Apem ke tiga. Gagang sapu yang dipegangnya kini sudah mendarat di bokong Munirah yang montok. Sontak saja membuat gadis itu berteriak.


Kini kelakuan kedua gadis itu yang menjadi perhatian Anggabaya dan Kiayi Ageng. Kedua pria itu menatap heran ke arah mereka. Tapi tak berapa lama keduanya kembali melanjutkan aktifitasnya.


“Dasar sableng, sakit tahu!” Munirah tampak mengurut-urut bokongnya yang kena gagang sapu. Matanya mendelik sebal pada Surti yang cekikikan.


“Sebel aku sama kamu, Mun, diajak ngomong kok gak nyambung.”


“Gak nyambung bagaimana? Memang benar kan Tuan muda Anggabaya itu guanteng ee pol. Masa kamu bilang aneh.” Munirah mesam-mesem sendiri, matanya masih saja menatap ke arah Anggabaya.


Surti makin aja greget mendengar ucapan Munirah. Diambilnya satu buahnya kue apem dari dalam piring dan langsung dia masukan kedalam mulut Munirah yang terbuka lebar.


“Puiihh..., Dasar gendeng!” Munirah mengejar Surti yang sudah kabur duluan masuk kedalam dapur, dengan mulur yang masih penuh oleh kue apem.


Anggabaya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua wanita itu. Keberadaan mereka kadang bisa menjadi hiburan sesaat.


~~

__ADS_1


Pembersihan rumah dari pagar ghaib pun telah selesai. Sebelum melakukan ruqiah pada Ki Larang, Kiayi Ageng memerintahkah agar para muridnya itu melakukan shalat hajat untuk memohon agar segala sesuatunya di mudahkan, selain itu juga untuk tidak lupa memohon ampun atas segala dosa yang telah dilakukan baik sengaja maupun tidak.


Sang Kiayi dan ke tiga muridnya itu masuk kedalam ruangan dimana Ki Larang di pasung.


“Astagfirullah,”ucap sang Kiayi ketika memasuki ruangan tersebut.


“Terus berzikir!” perintah sang kiayi. Tasbih dalam genggamannya tak berhenti bergerak.


“Wira dan Galuh tolong kalian angkat dan bersihkan semua sesajen ini. Lalu bakar! Kedua santri pendamping dengan cekatan melakukan perintah sang kiayi.


Setelah semua bersih Kiayi meminta ke tiga muridnya itu duduk melingkari Ki Larang dan berjaga-jaga. Sementara Kiayi berada di samping Ki Larang yang terlentang di atas dipan kayu, telapak tangannya menempel dikepala pria tua itu. Tak berapa lama setelah ayat-ayat ruqiah di bacankan Ki Larang meronta-ronta. Suara eranganan terdengar dari mulutnya.


“Siapa kamu?” tanya Kiayi Ageng.


Mata Ki Larang menatap nyalang ke arah Kiayi Ageng.


“Tak usah ikut campur urusanku!” Suara itu terdengar begitu berat dan itu bukan suara Ki larang, walaupun keluar dari mulutnya.


Ki Larang tertawa terbahak-bahak. Bahkan kini terdengar bunyi desisan ular. Manik mata ki Larang menatap ke atas, hingga perlahan bola matanya kini putih semua.


Tubuh Ki Larang perlahan terankat ke atas. Kini sebagian tubuhnya sedikit melayang di udara. Hanya kakinya yang masih tertahan dipasungan. Lalu semenit kemudia tubuh itu kembali terhempas kebawah.


“Tahan tubuhnya!” ketiga pemuda yakni Anggbaya, Wira dan Galuh menahan kuat tubuh Ki Larang yang hendak melayang lagi. Tubuh tua itu meronta-ronta kuat dengan suara geraman yang menakutkan.


“Pergi kalian! Atau tubuh lelaki tua ini akan kubikin terluka, Hahaha....” Sekarang yang terdengar adalah suara wanita tua.


“Kau yang seharusnya pergi!” Kiayi Ageng semakin menguatkan bacaan ayat-ayat suci. Peluh sudah mulai terlihat di kening para sang murid karena sekuat tenaga mereka menahan tubuh Ki Larang agar tidak kembali melayang. Sungguh kekuatan tubuh yang terpasung itu begitu besar.


“Siapa yang berani mengacaukan ritualku! Tiba-tiba saja terdengar suara keras dari depan pintu kamar yang di dorong kuat. Di sana tampak Ki Sukma berdiri dengan kedua tangan berada di pinggang. Wajahnya memerah menahan amarah. Di belakangnya tampak Mang Diman yang terlihat ketakutan. Nyai Darsih dan Nyai Anjarwati ikut menyusul Ki Sukma yang datang tiba-tiba.

__ADS_1


Ke empat pria yang sedang melakukan ruqiah sempat terjeda beberapa saat, tapi kembali mereka fokus melanjutkan kegiatannya. Merasa di abaikan Ki Sukama jalan mendekati mereka. Tangannya terkepal kuat, dia merasa dilangkahi.


“ckk...aku tak yakin kalian mampu menyembuhkan Ki Larang! Ejeknya merendahkan.


Kiayi Angeng memberi isyarat pada Anggabaya. Pemuda itu paham. Dia pun melangkah mendekati sang Dukun berbaju serba hitam itu.


“Maaf, Ki, ijinkan kami mencoba untuk menyembuhkan bapak.” Ucapnya sopan.


Dahi Ki Sukma menyipitkan matanya. Menatap Anggabaya dari bawah sampai atas.


“Kau putra Ki Larang?”


“Ngih, Ki. Saya Anggabaya. Sebaiknya kita keluar dulu agar guru saya bisa konsentrasi.”


“Tidak! Aku mau melihat sehebat apa kalian.” Ki Sukma mendengus kesal.


“Terserah sampean saja, yang penting jangan mengganngu.” Anggabaya meninggalkan Ki Sukma dan kembali melanjutkan memegangi tubuh Ki Larang yang masih terus meronta.


"Ahh...berhenti kalian manusia!" suara Ki Larang kini terdengar serak. Tubuhnya bergetar hebat. Depan kayu yang dipakainya ikut bergoyang menimbulkan suara gemeretak. tiba-tiba saja gelas dan teko yang memang di sediakan untuk minum ki Larang yang terletak di atas nakas samping dipan terbang dan terlempar kearah para santri. Untung saja mereka yang sudah terlatih dengan reflek dapat menghindari serangan itu.


Suara dentingan gelas dan teko jatuh yang beradu dengan lantai terdengar nyaring.


"Anggabaya ambilkan cermin!" perintah Kiayi Ageng.


"Mang Diman, tolong bawa cermin kemari!" teriak Anggabaya.


Abdi dalem itu tergopoh-gopoh berlari mengambil cermin berukuran kecil yang menempel di dinding kamar. lalu di serahkannya cermin itu pada Kiayi Ageng.


"Kalian lihatlah kedalam cermin!" Kiayi Ageng meletakan cermin tepat di atas wajah Ki Larang. semua terlihat kaget termasuk Ki Sukma yang juga ikut melihat.

__ADS_1


Tubuh Anggbaya tersentak hingga tubuhnya mundur. Wajah dalam cermin itu bukanlah wajah ayahnya tetapi wajah manusia yang menyerupai ular yang sedang mendesis menunjukan taring di mulutnya. wajah yang pernah dia lihat dalam mimpinya. seorang penari wanita yang berubah menjadi siluman ular.


Disaat semua dilanda kecemasan. cermin itu tiba-tiba retak dan pecahannya terbang kesegala arah. untung saja tidak ada yang terluka karena pecahan kaca yang terbang itu ditahan lajunya oleh kekuatan Ki Ageng hingga pecahannya terhambur ke lantai.


__ADS_2