Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Anggabaya


__ADS_3

Sementara di Desa Curug, dimana kedua istri Ki larang sedang menanti kedatangan Anggabaya, satu-satunya anak yang di miliki Ki Larang dari istri kedua. Anggabaya adalah anak yang dinanti-nantikan kehadirannya oleh Ki Larang. Kelahirannya membawa kebahagian bagi keluarga Ki Larang. Hingga untuk menyambut kelahirannya itu Ki Larang membuat hajatan selama tujuh hari tujuh malam. Anak lelaki itu tumbuh menjadi anak yang tampan, cerdas dan berbudi pekerti yang baik. Sedari kecil Anggabaya di asuh oleh seorang abdi dalem yang bernama Mbok Yatmi.


Mbok Yatmi adalah wanita paruh baya yang begitu taat pada agama. Dari situlah Anggabaya di ajarkan ilmu agama dan tatakrama. Anak lelaki itu memiliki sifat yang jauh berbeda dari ke dua orang tuanya. Anggabaya menjadi anak kesayangan seisi rumah karena anaknya begitu penurut dan baik hati.


Anggabaya kecil hidup dalam kasih sayang dan kemewahan yang melimpah. Tapi itu tidak membuatnya menjadi anak yang sombong.


“Cah Bagus, segala harta dan tahta yang kita miliki ini sejatinya milik yang maha kuasa. Jadi kita sebagai manusia yang sekedar di titipi semuanya itu tak pantas untuk sombong dan berbangga diri. Malah apa bila kita memiliki kelebihan patutlah kita berbagi pada sesama.” Begitulah pesan Mbok Yatmi.


Oleh karena itu Anggabaya tidak pernah memandang rendah pada siapa saja. Bahkan dia suka bermain dengan anak-anak kampung yang hidup tak seberuntung dirinya dan membagi-bagi makanan kepada mereka. Jelas saja kebiasaan Anggabaya itu mendapat larangan dari orang tuanya. Tapi dasar anak kecil kejadian itu terus saja berulang walaupun dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


Bukan hanya itu, Anggabaya senang menolong orang. Pernah suatu hari ketika dia bermain dia melihat seorang nenek berusaha enam puluhan berjalan sambil membawa kayu bakar yang digendong di atas punggungnya. Anggabaya yang kalau itu sedang bermain lalu menghentikan peemainannya dan berlari mendekati nenek tersebut.


“Biar saya bawa kayu bakarnya, Nek,” ucap Anggabaya menawarkan bantuannya.


Sang nenek yang melihat siapa yang menawarkan bantuan tentu saja menolak, bisa-bisa dia kena masalah apabila dia menerima tawaran anak kesayangan Ki Larang. Anggabaya tetap memaksa sambil menyakinkan sang nenek bahwa tidak akan terjadi hal yang buruk nantinya. Akhirnya dengan terpaksa nenek itu mau menerima tawaran Anggabaya. Dia yang kala itu masih berusia sepuluh tahun dengan sigap memindahkan kayu bakar ke punggungnya.


“Terimakasih, Cah Bagus. Suatu saat nanti kamu akan jadi orang yang hebat. Kebaikanmu akan membawa kemakmuran bagi desa ini nantinya.” Sang nenek mengusap lembut pucuk kepala Anggabaya.


Begitukah Anggabaya bukan hanya menjadi kesayangan orang tuanya, tapi seluruh warga desa pun ikut menyanyaginya dan selalu mendoakan kebaikan baginya.


Anggabaya remaja tumbuh menjadi pemuda yang memiliki kharisma, selain tampan dia juga sangat pintar. Pola asuh Mbok Yatmi menjadikan dia pemuda yang taat beragama. Seringkali dia mengingatkan ayahnya agar untuk berhenti melakukan hal yang bertentangan dengan agama. Apalagi usia sang ayah sudah tidak muda lagi, sudah saatnya banyak mendekatkan diri terhadap yang maha kuasa. Sedangkan yang namanya hidayah bukanlah wewenang manusia. Sebagai sesama tugas manusia hanya mengingatkan saja.


“Sudahlah, tak usah kau urusi kehidupan, Bapakmu ini! Begitlah ucap Ki Larang takala Anggabaya kerap mengingatkannya.


Anggabaya hanya bisa beristigfar berkali-kali. Seburuk apapun kelakuan Ki Larang tak pantas sebagai anak bersikap kurang ajar. Selalu dengan sikap yang lemah lembut dia menghadapi perangai ayahnya. Tak pernah lupa doa yang salalu dia panjatkan agar Allah swt memberikan hidayah bagi orang tuanya.


Hingga akhirnya Anggabaya meminta ijin kepada orangtuanya untuk memperdalam ilmu agaman di sebuah padepokan. Semula keinginannya di tentang oleh orang tuanya, bukan apa-apa mereka hanya tidak ingin berjauhan dari anak semata wayangnya itu. Tapi karena keinginan yang keras maka kedua orang tuanya mengijinkan.


Anggabaya pun merantau ke bagian barat tanah jawa. Disana berdiri sebuah padepokan yang cukup besar. Disana dia bukan hanya belajar ilmu agama tapi ilmu kebatinan dan ilmu beladiri juga dia dapatkan. Karena sejatinya kepintaran harus diimbangi dengan mental dan fisik yang kuat. Bukan apa-apa suatu saat ilmu itu bukan saja berguna untuk diri kita sendiri tapi dapat dipergunakan untuk menolong orang lain, karena sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak memberikan manfaat untuk orang lain.


Bertahun-tahun Anggabaya ditempa di padepokan itu. Hingga tiba saat dimana dia mendapatkan pesan dari seorang abdi dalem yang diutus oleh Nyai Darsi sang ibu untuk menjemputnya pulang.


“Ada hal penting apa, hingga ibu menyuruhku pulang?”


“Sebaiknya, Tuan muda Anggabaya mendengar langsung dari, Nyonya.”


Akhirnya mereka berdua pun melakukan perjalanan dengann menggunakan pedati yang di tarik oleh dua ekor kuda. Jarak perjalanan yang mereka tempun memakan waktu dua hari dua malam.

__ADS_1



Kedatangan Anggabaya disambut dengan suka cita oleh seisi rumah. Pemuda yang selalu meninggalkan kesan baik bagi siapa saja.



“Cah Bagus, anakku,” Nyai Darsih memeluk erat anak kesayangannya. Rasa rindu yang tertahan begitu lama kini terobati sudah.



Anggabaya lalu mencium takzim tangan ibunya. Hal yang serupa pun di lakukan kepada Nyai Anjarwati yang memang ada disana juga. Dia menyalami semua abdi dalem yang berdiri menyambut kadatangannya.



“Mbok Yatmi.” Air mata Anggabaya meleleh ketika bertemu pengasuh yang terlihat semakin tua. Wanita yang telah mencurahkan kasih sayang dan mendidiknya dengan tulus.



“Cah Bagus.” Mbok Yatmi tak bisa membendung air matanya. Dia menangis dalam pelukan Anggabaya.



Sesaat semuanya hening. Para abdi dalem sudah mulai membubarkan diri kembali melanjutkan aktifitsanya masing-masing.



“Itulah yang ingin ibu, bicarakan denganmu, Nger.”



Nyai Darsih menuntun tangan Anggabaya menuju ruang tengah. Dimana disana sudah ada hidangan aneka makanan yang telah di persiapkan untuk Anggabaya.



“Makanlah dulu! Kau pasti lapar telah melakukan perjalan jauh,” ucap Nyai Darsih.


Anggabaya mengangguk mengikuti saran sang ibu. Nyai Darsih dan Nyai Anjarwati duduk menemani Anggabaya yang menikmati hidangan.

__ADS_1


~~


“Ada apa dengan bapak, Bu?” Anggabaya menatap kedua ibunya itu bergantian. Perasaannya sungguh tidak enak.



“Sebaiknya kau melihat sendiri dulu apa yang terjadi pada bapakmu, sebelum ibu menceritakan semuanya,” ucap Nyai Anjarwati.



Mereka bertiga beranjak dari tempat makan, berjalan menuju kamar dimana Ki Larang berada.



“Ibu, kenapa Bapak, diperlakukan seperti ini!” Bukan main kagetnya Anggabaya melihat Ki Larang yang duduk lemah terpasung.



Anggabaya bergegas mendekati Ki Larang. Dalam kamar itu dilihatnya sesajen yang tertata rapi di atas meja.



"Apalagi ini, Bu?" Anggabaya menunjuk tumpukan sesajen itu.



Arrgghh...



Tiba-tiba saja Ki Larang menggeram. Matanya menatap tajam pada Anggabaya.



"Astagfirullah!"


__ADS_1


Bersambung. .


__ADS_2