Tumbal Nyai Ronggeng

Tumbal Nyai Ronggeng
Penemuan Jasad Karto


__ADS_3

“Mbok, Sumi!” sentak keduanya kaget, mengetahui siapa yang ada dibelakang mereka.


“Agi pada ngopo neng kono?”


(Lagi pada ngapain disini?)


Mbok Sumi yang merupakan kepala pelayan bertolak pinggah sambil menatap tajam kearah mereka.


“Lagi istirahat aja, Mbok,” ucap Munirah


“Istirahat, gayane. Pada gosip ini pastinya!”


“Hehehe. .., Mbok Sumi tau aja.” Wanjta bertubuh tambun itu menggaruk-garuk kepalannya yang tidak gatal.


“Ah, memang kebiasaanmu, Mun. Tukang gosip.” Mbok Sumi menjatuhkan tubuhnya di atas balai bambu ikut duduk bersama mereka.


“Juragan, bagaimana?”


“Yehh, Mbok Sumi mau ikutan gosip juga ternyata, Sur.”


Kedua wanita muda itu cengengesan.


“ngawur kamu, Mun. Aku mana suka gosip.” Wanita berusia lima pulih lima tahun itu memukul lengan Sumi dengan kain serbet yang dia gantung di pundaknya tadi.


“Lah itu nanya kabarnya, Juragan!”


“Mbok, mau tau saja, Sum!”


“Yah sama saja, Mbok mau tau urusan orang itu namanya gosip.”


“Wis..wis, ngomong sama kamu bikin emosi. Muter-muter gak jelas. Juragan masih kesurupan, Sur?” Mbok Sumi kini bertanya pada Surti yang sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan mereka berdua.


“Tadi masih, Mbok. Malah tadi Kang Sarmin dan Kang Bowo mengikat tubuh juragan di kursi.”


“Moso toh, Sur?”


“Bagaimana gak diikat, Mbok, lawong juragan tingkah lakunya aneh. Tadi Nyonya saja di cekiknya.” Sumi ikut menimpali.


“Lalu nyonya bagiamana?” Mbok Sumi semakin serius menanggapi omongan Munirah.


“Untung Kang Sarmin dan Kang Bowo cepat menolong, Nyonya. Kalau tidak bakalan kehabisan nafas di cekik oleh juragan.”


“Juragan kesambet opo yo? Kok tiba-tiba bisa gitu.” Wajah Mbok Sumi terlihat bingung.


“Kesambet siluman ular yang suka ronggeng!” celetuk Munirah


“Heh, ngomong yah dijaga, jangan ngawur!”


“Mbok sih gak lihat bagaimana juragan tadi. Sambil teriak-teriak juragan menari terus dan ketika di ikat badannya meliuk-liuk kaya ular.”

__ADS_1


“Apa bener, Sur, yang dikatakan Munirah?”


“Iya, betul, Mbok.”


“Tadi nyonya ada menyuruh, Mang Diman memanggil Ki Sukma,” lanjut Surti.


“Semoga saja, Ki Sukma bisa menyembuhkan juragan,” ucap Mbok Sumi.


“Aku jadi takut, Mbok, kalau sampai siluman itu benar-benar ada.” Munirah merapatkan tubuhnya dengan Surti sambil memeluk lengannya.


“Sudah, ayo lanjut kerja. Jangan sampe siluman ular itu datang karena di gosipin sama kamu, Mun.” Mbok Munirah meninggalkan mereka berdua sambil tertawa.


Munirah mengerucutkan bibirnya kesal diledek oleh seniornya itu. Akhirnya keduanya mengikuti langkah Mbok Sumi menuju dapur.


Selang beberapa menit, Mang Diman datang bersama Ki Sukma.


“Mari, Ki, juragan ada di dalam.” Ajak Mang Diman.


Lelaki berbadan jangkung dengan jangut lebat berwarna abu-abu itu mengikuti Mang Diman ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah Ki Sukma langsung disuguhkan pemandangan aneh, dimana Ki Larang masih terus meliukkan badannya. Bahkan kini mulutnya terus berdesi seperti ular.


“Ki Sukma, tolong suami saya, Ki!” ucap Nyai Anjarwati ketika melihat kedatangannya.


Ki Sukma hanya mengangguk dan berjalan menghampiri Ki Larang yang masih terikat di kursi. Dia menatap mata Ki Larang yang langsung di balas tajam oleh juragan kaya itu. Lelaki berjubah hitam itu langsung menempelkan telapak tangannya di kening Ki Larang, matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit membaca mantra.


Tiba-tiba saja Ki Larang berteriak kencang dan meronta-ronta dengan kuat hingga kursi yang didudukinya terangkat, sedangkan Ki Sukma sedang berusaha melihat dengan mata baktinya apa yang sebenarnya ada dalam diri Ki Larang. Sayangnya penglihatan Ki Sukma tidak bisa menembus kedalam diri Ki Larang, yang terlihat hanya kabut hitam tebal.


“Hahaha...kau mau bermain-main denganku, Sukma!” ucap Ki Larang. Matanya menatap menantang.


“Siapa kamu?” ucap Ki Sukma


“Aku, Ki Larang, bodoh! Hahaha...”


Ki Larang kembali meliuk-liukkan tubuhnya. Tangannnya berusaha keras melepaskan tali yang mengikat tubuhnya.


“Ki, bagaimana dengan suami saya?”


“Ada sesuatu yang merasuki jiwanya.”


“Apa itu, Ki?”


“Untuk saat ini aku belum mengetahui apa itu, karena pandangan batinku terhalang.”


“Apa bisa disembuhkan, Ki?”


Ki Sukma terdiam dan terlihat berpikir. Dia merasa kekuatan yang masuk kedalam jiwa Ki Larang sangatlah besar.


“Maaf, Nyonya, diluar ada beberapa warga yang ingin bertemu dengan Juragan.” ucap seorang pelayan yang tiba-tiba datang dari arah luar denagan tergopoh-gopoh.


“Mau apa mereka?” tanya Nyai Anjarwati.

__ADS_1


“Mereka membawa mayat, Karto.”


“Apa!”


Nyai Anjarwati terlihat kebingungan dia melihat ke arah suaminya yang masih saja meronta-ronta .


“Temui mereka dulu, Nyi! Biar aku yang menjaga Ki Larang,” ucap Ki Sukma seolah mengerti kebingungan istri Ki Larang itu.


Nyai Anjarwati pun keluar diikuti oleh pelayannya. Sesampai di teras depan terllihat 5 orang pria. Mereka langsung memberi hormat ketika melihat Nyai Anjarwati datang.


“Apa benar kalian menemukan mayat, Karto?”


“Betul, Nyai. Ketika kami hendak ke kebun kami menemukan Karto di dalam gubuk sudah terbujur kaku dengan kondisi yang mengerikan,” ucap salah satu warga


“Mengerikan, apa maksud kalian?”


“Kematian Karto seperti tidak wajar!”


“Dimana mayatnya?”


“Itu, Nyai, di bawah pohon yang kami tutupi dengan kain, tapi kami sarankan, Nyai tidak usah melihatnya. Kami takut Nyai tidak kuat.”


Nyai Anjarwati mengerutkan keningnya. Ada rasa penasaran dalam dirinya.


“Memang seperti apa kondisi, Karto?”


“Tubuhnya hitam seperti hangus terbakar, kedua matanya hampir keluar, lidahnya menjulur keluar dan yang lebih mengerikan lagi, *********** Karto terpotong hilang entah kemana.”


Nyai Anjarwati terbelalak kaget mendengar penjelasan dari pria yang menemukan Kasad Karto. Sungguh hari yang naas dimana suaminya seperti orang mengalami gangguan jiwa. Kini tangannya kanan suaminya mati dengan cara yang mengenaskan.


“Kalian bisa tolong bawa mayat Karto kebelakang, lalu urus jenasahnya!”


“Baik, Nyai.” Ucap mereka serempak dan mereka pun pamit untuk mengurus jenazah Karto.


Nyai Anjarwati masuk kembali kedalam rumah, pikiran dan hatinya terasa kacau. Keadaan suaminya masih belum jelas apa penyebab nya, kini kematian Karto menambah beban pikirannya. Apa sebenarnya yang telah terjadi keanehan datang secara beruntun di dalam rumahnya.


Di dalam ruangan Nyai Anjarwati melihat suaminya sudah tertidur lelap walau masih terikat di kursi. Hatinya sedikit tenang setidaknya suaminya tidak berbuat kelakuan yang aneh-aneh atau mencelakakan dirinya.


"Ada apa, Nyai?" tanya Ki Sukma.


"Karto meninggal."


Ki Sukma menautkan ke dua alisnya, terlihat keheranan.


"Apa penyebab kematian, Karto?"


"Belum bisa dipastikan, Ki. Tapi menurut warga yang menemukan jasad Karto, tubuhnya hitam seperti hangus terbakar, bola matanya dan lidanya keluar, dan yang paling aneh lagi *********** itu terpotong dan hilang." Nya Anjarwati berbisik ketika menejelaskan keadaan mayat Karto.


"Dimana mayatnya sekarang? Aku mau melihatnya," ucap Ki Sukma. Perasaannya mulai tidak enak. Dia merasa ada kekuatan gaib yang membuat petaka ini semua.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2