
Sudah memasuki senja, si Bungkuk sampai ke gubuk Mbah Warsih. Gubuk berbentuk panggung berukuran 10m x7m. Walaupun sudah sangat lama gubuk itu masih terlihat sangat kokoh karena terbuat dari kayu jati.
Si Bungkuk menaiki anak tangga yang tak begitu tinggi. Sesampainya di muka pintu dia mengetuknya sebanyak tiga kali. Tidak lama berselang muncul wanita tua yang tak lain adalah Mbah Warsih dari balik pintu. Dengan segera Si Bungkuk masuk. Mata Mbak Warsih mengedar kesekeliling sebelum menutup pintu.
“Masih saja ada orang yang penasaran,” ucap Mbah Warsih
“Keberuntungan buat kita, Mbah, rejeki memang takan kemana,” ucap Kuat sambil terkekeh.
“hemm...” Mbah Warsih mengangguk setuju dengan ucapan Kuat. Lalu wanita tua bermata satu itu pun Duduk di lantai kayu yang beralaskan tikar.
“Ada yang ingin saya sampaikan pada Nyai Sekar, Mbah.” Kuat mengatakan maksud dan tujuannya.
“Cah Ayu, keluarlah,” panggil Mbah Warsih.
Nyai Sekar Asih yang sedang berada di kamarnya bergegas keluar ketika mendengar panggilan Mbah Warsih. Telihat Gadis cantik berbulu mata lentik itu berjalan menghampiri Mbah Warsih dan duduk di sampingnya.
“Owalah ada Mas Kuat toh,” sapa Nyai Sekar Asih.
“Saya, Nyai.” Pria bertubuh kerdil itu menunduk tak berani menatap wajah Nyai Ronggeng. Entahlah pria itu selalu merasa gugup apabila bersitatap dengan Nyai Sekar Asih.
“Ada apa, Mbah?” tanya Nyai Sekar Asih
“Ada pesan yang ingin Kuat sampaikan untukmu, Cah Ayu.” Jawab Mbah Warsih.
Nyai Sekar Asih lalu menoleh pada Si Bungkuk yang masih tertunduk.
"Apa pesan yang hendak kau sampaikan, Mas Kuat?" tanya Sekar Asih.
“Ki Demang dari desa Cibening akan mengadakan pesta pernikahan anaknya. Nyai di undang untuk menari di sana. Acara akan dilaksanan minggu depan," ucap si Bungkuk
“Desa Cibening?” ucap Mbah Warsih. Wajah tua yang sudah dipenuhi oleh garis kerutan terlihat kaget dan memerah. Tangannya seketika mengepal kuat.
“Iya, Mbah,” jawab Kuat yang kini wajahnya terangkat menatap Mbah Warsih.
__ADS_1
“Mbah tau desa itu?” tanya Nyai Sekar Asih.
“Wanita iblis itu masih berada disana!” ucap Mbah Warsih dengan Wajah terlihat begitu marah. Sekilas terlintas wajah wanita yang dia sebut iblis tadi.
“Siapa dia, Mbah? Tanya Nyai Sekar Asih.
Mbah Warsih tidak menjawab, dia beranjak dari duduknya . pikirannya kini melayang pada tiga puluh tahun silam. Dulu dirinya adalah seorang penari ronggeng yang cukup terkenal di desa Cibening. Hingga seorang pria tampan bernama Arya Danu, anak seorang Lurah di Desa Cibening jatuh cinta padanya. Perasaan Warsih pun sama terhadap pria itu. Hingga akhirnya mereka berdua pun menjalin hubungan.
Rupanya perjalan cinta mereka tidaklah semulus yang di bayangkan, orang tua Arya Danu rupanya telah menjodohkan lelaki itu dengan putri seorang saudagar kaya bernama Nyai Wulandari.
Perjodohan itu ditentang oleh Arya Danu. Penolakan itu terdengar sampai ketelingan Nyai Wulandari. Jelas saja wanita berkasta tinggi itu merasa direndahkan apalagi Nyai Wulandari sejak lama sudah menaruh hati pada Arya Danu yang memang terkenal ketampanannya. Dia tidak ingin perjodohannya dengan pria itu gagal.
Rupanya Nyai Wulandari mencari tahu siapa wanita yang kini tengah dicintai oleh Arya Danu. Dengan segala kelicikannya dia menyuruh beberapa orang pria untuk menculik Warsih dan membawa kehadapannya.
“Rupanya kau yang menyebabkan Arya Danu menolak diriku! Lelaki itu memang bodoh tak tau membedakan mana emas dan batu,” ucap Nyai Wulandari dengan senyum sinisnya.
Warsih yang kalau itu ketakutan hanya bisa menangis tersedu. Memohon berkali-kali untuk dilepaskan.
“Apa yang akan kita lakukan pada gadis ini, Nyai?” tanya seorang pria yang ditugaskan menculik Warsih.
“Rusak kehormatannya dan congkel salah satu bola matanya yang telah lancang memandang kekasihku Arya Danu!” ucap Nyai Wulandari sambil melangkah pergi meninggalkan Warsih yang semakin menangsis meraung-raung.
Ke empat pria yang di bayar Nyai Wulandari segera melaksanakan perintahnya. Secara bergiliran para pria bejat itu merengut kehormatan Warsih. Hingga ketika salah satu bola matanya di cungkil Warsih pun sudah tak ingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama Warsih tak sadarkan diri yang jelas ketika dia terbangun dia sudah berada di dalam sebuah gua. Dia bangkit perlahan dari pembaringannya yang berupa batu besar yang memanjang. Bagian tubuhnya masih sedikit terasa nyeri. Dia meraba sebelah matanya yang masih terasa berdenyut. Entah benda apa yang menempel di bagian matanya yang terluka itu. Gua itu begitu sepi dan dingin. Hanya terdengar gemericik air yang menetes dari sela-sela batu.
“Kau sudah sadar rupanya!” Terdengar suara yang menggema tetapi tak tampak wujudnya.
Warsih dengan reflek langsung mengedarkan pandangannya. Untunglah satu matanya masih utuh.
“Si...siapa kamu?” ucap Warsih ketakutan
“Hahaha...” Terdengar suara tawa bersamaan dengan munculnya asap putih yang tebal. Asap putih itu perlahan menampakan wujud seorang kakek berjanggut panjang.
__ADS_1
Dengan sekali hentakan tongkat yang di pegangnya, kakek tua itu sudah berdiri tepat di depan Warsih.
“Kau tak sadarkan diri selama tiga hari,” ucap sang kakek
“Jadi kakek yang menolong ku?” tanya Warsih
“Hmm...” Kakek berjubah hitam itu mengangguk.
“Seharusnya kakek tak perlu menolongku, biarkan saja aku mati. Hidup pun aku sudah tak ada arti. Bajingan-bajingan itu telah merengut kehormatanku.” Warsih tiba-tiba saja berteriak histeris mengingat tragedi yang telah menimpa dirinya.
“Kau benar ingin mati?” tanya sang Kakek.
Warsih tak menjawab dia masih menangis meratapi nasibnya yang sungguh buruk.
“Kalau kau mati, mereka yang telah merusak hidupmu masih hidup dengan tenang. Apa kamu rela?” Kakek melanjutkan pertanyaannya.
Perlahan Warsih mulai bisa mengontrol emosinya, walau masih sesegukan. Dia merenungkan perkataan Sang Kakek.
“Aku bisa apa, aku hanya gadis yang lemah,” ucap Warsih pasrah.
“Tenang saja, aku akan membantumu.” Tegas sang kakek.
Bertahun-tahun sang Kakek melatih dan mengajarkan ilmu yang dia miliki ke pada Warsih. Hingga menjadikan Nyai Sangkaweni sang siluman ular sebagai pendampingnya. Kemanapun Warsih pergi Nyai Sangkaweni akan berada di sisinya.
Hingga saatnya hari pembalasan. Warsih keluar dari gua. Satu-satu para pria yang telah merenggut kehormatannya dia jadikan tumbal buat Nyai Sangkaweni dan para siluman peliharaannya.
Braakk...!
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah luar yang membuyarkan lamunan Mbah Warsih. Si Bungkuk dan Nyai Sekar Asih langsung berdiri dari duduknya.
“Dia sudah masuk dalam jeratan kita!” ucap Mbah Warsih sambil menyeringai.
Bersambung
__ADS_1