
Tuhan menciptakan mahluk di atas dunia adalah untuk beribadah kepadanya, tunduk dan patuh akan perintahnya. Dan sebaik-baiknya mahluk Allah ciptakan yaitu manusia.
~~
Ki Sukma yang melihat pantulan wajah Ki Larang dalam cermin terlihat gemetar. Dia memundur beberapa langkah kedepan. Hatinya mulai diliputi cemas. Kini dia tahu apa yang merasuki Ki Larang tidak bisa diremahkan. Dalam pikirannnya, entah apa yang dilakukan Ki Larang hingga bisa berurusan dengan siluman ular.
Masih dalam suasana ketakutan Ki Larang menghentakan rantai yang mengikat kedua tangannya dengan keras, hingga rantai itu terlepas dari tiang yang dipan. Dengan kekuatan penuh dia mencoba melawan ketiga pemuda yang menahan tubuhnya hingga mereka terpental kebelakang.
Ki Larang yang kini dalam keadaan posisi duduk tiba-tiba saja memutar kepalanya kebelakang hingga terdengar gemeretak pulang yang patah. Jerit histeris kedua istri Ki Larang yang ikut menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan.
Kiaye Ageng dan para muridnya seketika beristigfar.
“Jangan takut para santriku, ini hanya tipu daya setan. Terus bacakan ayat-ayat alquran.” Perintah pria berjubah putih itu.
Walau sedikit ketakutan ketiga murid Ki Ageng itu kembali melafazkan ayat-ayat ruqiah. Kepala Ki Ageng berputar kembali ke posisi semula diiringi dengan teriakan yang memekakan telingan. Selang beberapa detik kemudian mulut Ki Larang terbuka lebar dan memuntahkan cairan berwarna hijau pekat. Bau busuk tercium menyebar diseluruh ruangan.
Sisik yang telah tumbuh diberapa bagian kulitnya kini menyebar makin banyak. Pupil matanya kini mengecil berwarna kehijauan. Kiayi Ageng masih terus berkonsentrasi dengan bacaannya. Telapak tangannya kini berada di punggung Ki Larang.
“Keluarlah kau yang bersemanyan ditubuh ini. Kau tak berhak tinggal di situ, atau aku akan mengeluarkanmu dengan paksa!” ancam Kiayi Ageng.
Hanya terdengar suara desisan yang keluar dari mulut Ki Larang. Tubuhnya kini merasakan panas yang sangat hebat. Dia kembali meronta, namun dengan cekatan Anggabaya dan kedua santri berhasil menahan tubuh itu.
“Tuanku akan marah apabila aku meninggalkan tubuh ini,” Tubuh Ki Larang terlihat terengah-engah.
“Kembalilah ke asalmu, masalah tuanmu,biar menjadi urusanku.” Kiayi Ageng terus mengerahkan tenaganya. Kini wajahnya sudah penuh dengan peluh.
Terlihat kepulan asap putih keluar dari mulut Ki Larang. Terbang lalu menghilang. Tubuh Ki Larang seketika ambruk, lemas terkulai. Matanya terpejam.
__ADS_1
“Alhamdullilah,” ucap Kiayi Ageng sambil mengusap wajahnya. “Biarkan dia beristirahat, insyaallah mahluk itu telah keluar dari tubuh bapakmu, Anggabaya.”
“Alhamdulliah, terimakasih, Kiayi.” Terpancar kelegaan di hati Anggabaya. “Mang Diman bantu saya membersihkan kotoran di ruangan ini,” pinta pemuda berahang kokoh itu.
“Biar saya saja yang membersihkannya, tak perlu Tuan ikut membersihkan juga,” ucap abdi dalem itu sungkan. Anggabaya hanya mengangguk saja.
Semuanya meninggalkan kamar dengan perasaan penuh syukur. Begitulah sejatinya tak ada satu kekuatan yang mampu mengalahkan kekuatan yang maha kuasa. Sesungguhnya setan itu lemah apabila kita terus menyandarkan harapan dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
~~
Kedua istri Ki Larang merasa bahagai tak henti-hentinya mereka mengucapkan terimakasih kepada Kiayi Ageng dan kedua murid pendampingnya itu. Bahkan Nyai Anjarwati berniat memberikan dua kantung uang tetapi ditolak secara halus oleh Kiayi Ageng. Baginya kesembuhan Ki Larang berkat rahmat dan pertolongan Allah semata. Dia sebagai manusia hanya sebagai perantara saja. Sudah sewajarnya untuk saling membantu apabila mampu.
Kiayi Ageng banyak memberikan wejangan kepada kedua istri Ki Larang diantaranya. Banyaklah beribadah dan mengingat Allah. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Memang Allah telah menciptakan mahluk lain yang berbeda alam dengan manusia. Tapi mereka bukan untuk ditakuti apalagi dijadikan sekutu. Manusia adalah mahluk mulia, tidak ada alasan untuk takut kepada yang lain selain Allah SWT.
Manusia yang jauh dari sang pencipta memang sangat mudah dirasuki oleh mahluk lain. Karena tidak ada benteng yang kokoh yang menjaga jiwanya yaitu iman. Tanpa iman hati manusia hanya seperti seoggok daging yang tak berguna, hidup akan terasa hampa. Tak ada ketenagan dalam batin, karena hanya dengan mengingat Allah maka hati akan menjadi tenang.
~~
Malam itu di sebuah gazebo, duduk lesehan sang Guru, Anggabaya beserta Wira dan Galuh. Mereka sedang menikmati secangkir wedang jahe. Terlihat bulan bersinar sangat terang.
“Apa yang hendak kau tanyankan?” Pria berjanggut putih itu, meletakan cangkir yang berisi wedang jahe ke atas meja kecil dihadapannya.
Sekilas mata Anggabaya melirik kepada Wira dan Galuh. Kedua pemuda itu sedang menikmati pisang goreng hangat.
“Saya menyukai seorang wanita.” Ucapan Anggabaya itu membuat Wira dan Galuh tersedak bersamaan.
“Kalian ini kenapa? Mendengar hal begitu saja sampai tersedak.” Kiayi Ageng terkekeh melihat kelakuan anak muridnya itu. Keduanya hanya tersenyum malu. Lain halnya dengan Anggabaya dia hanya ingin tahu pendapat sang guru prihal wanita yang dia cintai itu.
__ADS_1
“Kalau kau sudah memantapkan hatimu pada seorang wanita baiknya disegerakan,” saran Kiayi Ageng.
“Tapi masalahnya wanita itu seoarang penari ronggeng.” Kembali kedua santri itu tersedak. Wedang jahe yang sempat di teguk tersembur keluar kembali.
“Ada apa dengan kalian ini, makanya baca bismillah kalau mau makan dan minum.” Sang guru hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol muridnya itu.
“shalat istikharoh lah, minta petunjuk kepada Allah agar apa yang berada di dalam hatimu itu memang pilihan yang terbaik.”
Anggabaya hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan sang Kiayi. Dia tahu betul bahwa profesi penari ronggeng itu banyak di pandang sebelah mata oleh orang, karena terkadang tersebar berita miring tentang mereka. Gurunya itu memanglah orang yang bijak dia selalu melihat semua masalah dari sudut pandang agama.
“Hati-hati, Anggabaya jangan-jangan kau kena pelet. Bukannya para penari itu memang memiliki ilmu-ilmu seperti itu. Bahkan konon tubuh mereka banyak di beri susuk yang berbentuk seperti jarum, tujuannya untuk memikat para pria.” Wira ikut masuk dalam percakapan.
Raut wajah Anggabaya berubah. Memang tak salah apa yang Wira bicarakan itu. Karena dia pun sering mendengar hal serupa. Apakah Nyia Sekar Asih sama seperti yang lainnya. Apa iya perasaannya terhadap Nyai Sekar Asih akibat dari ilmu pengasih.
“Teruslah mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar terhindar dari hal-hal buruk.” Kiayi Ageng dapat menangkap kegundahan Anggabaya dari raut wajahnya.
“Kemarilah!”
Anggabaya mengeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang Kiayi dan duduk dihadapannya. Kiayi Ageng meletakan telapak tangannya di pucuk kepalanya. Sang guru menatapnya lekat.
“Insyaallah kau tidak dalam pengaruh apapun termasuk ilmu pelet.” Kiayi Ageng menarik kembali tangannya dari pucuk kepala Anggabaya.
“Jadi maksud, Kiayi...”
Kiayi Ageng hanya tersenyum sambil kembali menikmati secangkir wedang jahe yang mulai mendingin.
Anggabaya merasa lega mendengar penuturan gurunya itu. Kini dia hanya tinggal meminta petunjuk kepada yang maha kuasa agar rasa cintanya ini tidaklah salah.
__ADS_1