
"Ah, aku lupa dengan makan malamku." Lekas beliau ambil sekeping kukis dan mencelupkannya sebentar pada teh hangat. "Bagaimana denganmu? Sudah makan?"
"Sudah." Dengan kentang rebus yang cepat kenyang ketimbang kue, sambung Urana dalam hati.
"Syukurlah." Lepaslah tawa Count. Hebat sekali dia, aura wibawanya masih terasa. Mungkin minimnya cahaya di tempat ini mendukung pancaran tubuh bagian dalamnya. "Aku tidak mau cucuku sakit."
"Jadi, Anda ingin sekali timang cucu?"
"Tentu saja." Satu keping lagi Count makan dengan cara serupa. "Siapa saja pasti kepingin timang cucu. Bayangkan aku yang sudah tua ini, butuh sebuah ketenangan dan hiburan yang bisa damaikan hati. Hanya dengan seorang cucu, para lansia sepertiku bisa menikmati masa tua."
Betul juga. Urana mengangguk paham, sedangkan tangannya mengelus perut. "Saya akan menjaga dan merawat dia, supaya Anda bisa bahagia."
"Ah, terima kasih. Aku akan sangat menunggu kedatangannya." Sejenak Count menyesap teh hitam dengan khusyuk. Desah nikmat keluar dari mulutnya yang pucat dan tertutup kumis putih. "Kau sudah berikan makan malam untuk Raie?"
__ADS_1
"Be-belum, Tuan----maksud saya Ayah," jawabnya terbata-bata. "Saya masih bingung. Apa makanan kesukaan dia yang bisa saya masak?"
"Masaklah apa saja, Urana," cakap Count mulai sibuk menghabiskan kukis. "Meski kau hanya sajikan teh hitam hangat. Oh, kue ini sangat lezat. Apa kamu membuatnya sendiri?"
"Iya. Mau saya buatkan lagi?"
"Tentu." Wajah semringah Count terpancar leeat tatapan penuh antusias. "Aku tunggu hidangan manismu itu besok."
Singkat cerita.
Satu set peralatan minum teh tertata rapi di nampan berbahan besi. Urana bawa ini dengan hati-hati. Langkah kaki beralaskan sandal beludru terasa lamban. Semua demi tak ada tetesan teh dari teko kaca.
Dari cara memandang minuman hangat itu, ada gambaran aneh di mata Urana. Ada bahagia, tapi ada sisi mengincar target. Batinnya berkata, kalau dia tak minum teh, berarti ia yang berhak menghabiskan. Tak apa. Ia suka teh berbagai jenis.
__ADS_1
"Tuan Raie?" Urana masuk kamar dengan hati-hati. Lelaki itu tetap duduk di kursi santainya sambil membaca beberapa lembar kertas. Urana berpikir, pasti surat dari kerajaan lain.
"Saya ... buatkan teh untuk makan malam Anda." Meski cangkir beserta teko telah tersimpan rapi di atas meja, Raie masih belum beranjak. Tetapi, Urana sadar tatapan dia berubah. Bukan santai menikmati isi surat, tapi kesan bahwa Raie tak suka akan kehadirannya.
Bodo amat! Urana memilih berdiri di samping Raie sambil curi pandang terhadap surat di genggaman sang suami.
Surat berisi undangan mengunjungi wilayah lain. Undangan, ya.... Urana tahu itu hanya sebuah ajakan untuk tujuan yang tak jauh dari urusan menguasai dan mensejahterakan masyarakat. Namun bagi tubuh dan jiwa ini, Urana berasa tenggelam. Kaki ini ingin segera menghilang, tak sabar melihat tubuhnya limbung bagai hanyut di kedalaman ratusan meter. Pikiran soal tersebarnya undangan pernikahan ia dengan buaya darat itu, ibarat tekanan air. Semakin menyesakkan dada. Semakin ingin meremukkan badan semudah remas bungkus plastik.
Memang, harusnya ia tahu segala ketakutan dalam perjalanan menuju pelaminan.
Kesadaran Urana menghilang, tapi ia masih rasakan hawanya di setiap sentuhannya. Kulitnya menyentuh dingin. Dan angin meniup wajahnya. Bila memang Urana sungguhan tenggelam, ia sangat bersyukur. Tuhan masih menyayanginya.
Plak!
__ADS_1