Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 5.2


__ADS_3

Namun, Urana dan Count tak bereaksi sama sekali. Raie pergi pun, mereka menyantap sarapannya hingga tiba sesi makan cemilan. Camile berkata bahwa sepiring kue kering dan teh hijau telah disajikan di ruangan pribadinya.


"Anak itu...," gerutu Count memijit keningnya yang keriput. "Kapan pahamnya kerja jadi raja?"


Urana bergeming. Bukan sebab takut salah omong, tapi ia terlalu menikmati potongan buah manis nan segar yang disajikan khusus untuknya. Barulah Urana menoleh kala Count serukan namanya.


"Aku berharap banyak padamu soal kegiatan itu." Beliau tak mengucapkan apa-apa lagi. Count pergi dengan tongkatnya bersama dua prajurit. Tindakan yang bagus. Urana takut Count kenapa-kenapa karena faktor usia.


Satu suapan terakhir ia makan. Dalam sekali kedip, iris ungu cerahnya mendadak gelap.


****


Ah, malam yang indah untuk sekadar bersantai. Urana dengan piyama serupa----hanya beda warna, hari ini ia pakai warna merah jambu----duduk di kursi santai berbahan kayu. Buku yang terbentang dan secangkir kopi hitam yang masih muntahkan uap tebal.

__ADS_1


Hah, sudah lama ia tak begini, pikir Urana sambil mendesah panjang.


"Baiklah...." Sejenak Urana ambil buku tersebut beserta fountain pen yang ia pinjam dari Count. Ada 3 poin yang tertulis di sana.


Poin pertama: mendekatkan diri dengan para penghuni istana selain Raie. Jika Urana dan mereka berhasil akrab, ada sedikit keuntungan ketika dirinya terancam karena Raie atau hendak menyusup ruang kerjanya. Tetapi, Urana baru kenal Eve dan Camile, itupun belum terlalu akrab.


Poin kedua: sering ikuti acara kerajaan. Urana tahu poin ini cukup sulit, mengingat ia baru saja menikah dengan anak seorang Count karena kecelakaan. Namun berdasarkan film kerajaan yang ia tonton selama jadi Anaru, posisinya sebagai anggota baru keluarga kerajaan akan mendapatkan undangan lebih cepat. Mungkin mereka penasaran tentang seberapa cantiknya Urana. Entahlah. Paling penting, selama ia belum memiliki ruang kerja, ia akan manfaatkan sebaik mungkin untuk memindai surat untuk Raie yang acaranya masih ia sanggupi walau harus menyamar.


Dan poin terakhir: mengamati kerja Raie selama berada di ruangan itu. Inilah yang paling sulit. Raie jarang mengunjungi tempat sumpek dan lebih sering berperang. Kalaupun dia duduk mengurusi dokumen dan surat-surat, Urana akan dapat hadiah berupa pukulan maut dari suami kejam bernama Raie Shourette. Siapa juga yang mau relakan diri disiksa sampai babak belur demi suami tercinta? Maka dari itu, poin yang ini bakal Urana cari lewat pengamatan penghuni istana perkara ruang kerja Raie. Embus napas lega keluar menandakan dirinya selesai mengamati rencana.


****


Sesi sarapan dan berbincang dengan Count telah berakhir, tapi sedari kemarin pikiran Urana hanya tertuju pada poin pertama dari rencananya. Kali ini, Urana akan cepat-cepat menemui pelayan yang ia kenal. Mungkin Eve atau Camile, tapi di mana mereka?

__ADS_1


Urana dengan terusan warna abu-abu terus berjalan pelan menyusuri lorong penuh barang-barang mewah. Semakin lama, Urana dibuat bete. Inilah akibatnya kalau tak bersosialisasi dengan penduduk sekitar.


Plis, keluar satu pelayan!


Ucapan Urana terkabul kala melihat Camile keluar dari sebuah ruangan. Sepertinya kamar Count. Ia juga baru pertama kali ke lorong ini. Terlalu terang bila pagi menjelang siang karena temboknya berjajarkan jendela raksasa.


"Ah, Nona Urana." Wanita berambut pirang ikal seleher itu membungkuk hormat tanpa perlu menaruh nampannya. "Yang Mulia sedang ada di kamar."


Benar-benar profesional. "Saya kemari bukan menemui beliau," jawab Urana tertawa kecil.


"L-lalu?" Camile membeliak terkejut, pun tangannya menutup mulut yang menganga kecil. "Apa Nona biutuh sesuatu? Seperti teh----atau...."


"Saya memang butuh sesuatu, Camile. Tapi bukan makanan." Sementara dalam hati, ia tertawa akan kelakuan Camile yang gelisah itu. Ternyata kalau dia terdesak jadi begitu.

__ADS_1


"Habis itu?" tanya Camile dengan tatapan polos. Urana langsung tersenyum lebar dan berkata: "Aku mau belanja bersamamu!"


__ADS_2