
Tak bisa berbuat apapun untuk rakyat yang kelaparan akibat keegoisan Raie? Masalah ini masuk daftar rencana Urana dalam menyingkirkan posisi Raie sebagai poin keempat. Walau kedengarannya mustahil, Urana yakin bisa menggapai harapan Count lewat rencana tersebut.
Pasar yang mereka kunjungi lebih mirip gudang sampah. Toko minim penerangan, pasir menempel di barang dagangan, bahkan sayur dan daging yang harusnya terlihat segar malah tersaji kotor. Tak sampai situ, para pedagang menatap dingin. Mereka tak menerima pengunjung istana. Urana menebak.
"Kenapa kita harus belanja bahan masak di sini?" tanya Urana berbisik. "Padahal bisa pesan di kebun atau peternakan."
"Nyonya Vailey bilang tempat itu sedang minim hasil panen," jawab Camile mulai memilah sayur yang sekilas sama kotornya. "Yang mulia juga bilang, kita harus membeli banyak barang di wilayah sendiri, demi mendapat hubungan baik dengan rakyat."
"Berhubungan baik dengan rakyat, ya?" Mata bulat Urana langsung menyipit tajam. Kalau begitu....
"Saya beli semua daganganmu."
__ADS_1
Camile, pedagang sayur yang dikunjungi para pelayan, semua orang. Urana yang menatap serius itu menjadi pusat perhatian. Namun tak berlangsung lama. Pria gendut paruh baya di hadapannya lekas menggertakkan gigi.
"Mentang-mentang kau pelayan istana, kau bisa bertindak sesombong itu pada kami!" katanya sambil menunjuk-nunjuk Urana.
"Saya hanya mau barang daganganmu habis terjual." Tatapan Urana semakin tajam. "Memangnya kau mau dapat kerugian cukup besar karena sayurnya membusuk seiring waktu?"
Skakmat! Dia tak berkutik. Wajahnya masih mengeras, seakan bilang aku-ingin-menghajarmu-sekarang-juga.
"Saya. Hanya. Membantu," tambah Urana dengan nada menekan. "Jika perlu, saya yang akan hantarkan makanan layak ketika kamu dan rakyat lainnya butuh makan."
Seseorang menarik ujung lengan baju Urana ketika berpikir soal makan malam nanti. Mata ungunya langsung berkaca-kaca. Anak kecil. Perempuan. Badannya kurus kering. Bibirnya pun pecah-pecah.
__ADS_1
"Minta...." Ah, bahkan suaranya parau. Hati Urana serasa ditusuk bertubi-tubi. Tangan kecil itu terulur ke atas, mengharapkan makanan meski yang didapat adalah kayu dan batu.
Ia teringat pernah beli roti di sekitar sini. Makanan itu harus Urana dapat setelah cekcok dengan penjual wanita yang sarkas. Berat memang. Tetapi, mengabaikan orang yang kelaparan jauh lebih berat.
"Ini." Urana menaruh sebalok roti di tangan anak kecil tersebut. Lihatlah air matanya yang meleleh deras. Air mata kebahagiaan telah mendapat pasokan makanan. Apa lagi momen dia ucapkan terima kasih. Bila Urana tak punya rasa malu, sekarang juga ia menangis dan memeluknya.
Ah, jiwa dalam tubuh ini memang tak punya rasa malu.
"Jangan makan!"
Surutlah hormon dopamine dalam tubuh Urana. Senyumnya pudar. Roti pemberiannya sia-sia, malah lebih kotor. Semua gara-gara wanita----umurnya sekitar 30 tahunan----dengan pakaian kumuh tengah memeluk anaknya yang syok.
__ADS_1
"Kau mau meracuni anak saya, hah?!" ketusnya menukas. Dia juga menunjuk Urana dengan gampang, sedang kepalanya melirik sembarang. "Dia mau racuni anak saya! Dia mau bunuh anak saya!"
Dalam sekejap, banyak orang memandang Urana dan wanita yang menjerit tak jelas ini. Tatapan sinis dan marah mendominasi. Sumpah serapah pun keluar dari mulut mereka.