Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 7.2


__ADS_3

"Semua makanan ini...." Ucapan Urana sengaja menggantung kala memandang puluhan piring di meja untuk pasien. Bahkan ia tak tahu sedang ada di mana. "Ini terlalu banyak untuk saya, Tuan."


"Tak apa." Kepala desa tetrsenyum lembut. "Anggaplah semua makanan yang mereka temukan sebagai ucapan terima kasih, pada akhirnya masih ada orang istana yang peduli dengan kami."


"Ah, tentu...."


"Kemarin, orang yang ahli dalam menyembuhkan penyakit bilang kondisimu masih lemah." Beliau ubah topik pembicaraan. "Ada baiknya Anda istirahat dulu di sini. Kasihanlah anak Anda."


Namun, Urana tak dengar kalimat terakhirnya. Bayangan wajah Raie menakuti pikirannya. Melihat tatapan setajam pedang yang dia gunakan, atau pukulan sekuat beban puluhan ton, sempt buat tubuh Urana gemetaran hebat.


"T-tidak, terima kasih." Kakinya segera menginjak tanah tandus di dalam ruangan. "S-saya harus per----"


"Nona Urana!"

__ADS_1


Tepat beliau menangkap tubuhnya yang limbung, nyeri dahsyat mengerubungi perut Urana. Dia bergerak. Dia menendang kulit perut Urana seakan ingin segera keluar dari sini akibat keegoisan Urana.


"Kasihanilah anakmu, Nona," ulangnya menuntun Uraa duduk di tepi ranjang, sekalian menyingkirkan sedikit meja bertatakan banyak makanan. "Apa yang membuatmu harus pergi cepat ke istana?"


"Ada apa, Ketua?" Dua orang warga masuk melihat Urana yang terengah-engah dengan tangan digengam kepala desa. "Apa Nona istana baik-baik saja?"


"Aku rasa tidak." Dia melirik bawahannya. "Beritahu semua warga. Nona ini harus dilindungi. Jangan sampai penyusup istana menemukannya. Hanya Count Faer terhormat yang diperbolehkan berjumpa dengan dia. Lalu, cari tempat paling aman untuk Nona ini. Rekrut orang-orang yang terlihat profesional dalam menjaga Nona di dalam tempat persembunyian."


"Satu orang, yang tubuhnya paling besar, harus di sini untuk bawa sang Nona."


Sayang sekali, Urana tak mendengar ucapan mereka. Nyeri hebat ini merusak semua indera tubuhnya. Ia tak dapat melihat dengan jelas, selain tak bisa mendengar. Setidaknya, Urana bersyukur mampu dengar suara dan tekstur kulit kepala desa ketika menyerukan namanya.


"Dengar, kita harus segera pergi ke perpustakaan," katanya menuntun Urana untuk berdiri dan biarkan satu warga berperawakan besar membopongnya.

__ADS_1


"Ke perpustakaan?" Urana mengernyit samar. Suaranya pun parau. "Kenapa kita pergi ke sana?"


"Di sana akan jauh lebih aman, Nona." Mereka berlari sejajar, tentu kalau kepala desa tak digendong akibat usia panjangnya. "Perpustakaan itu hanya diketahui Count Faer. Raie takkan pernah mengetahui keberadaannya."


Tunggu, kerutan di dahi Urana semakin jelas. Ia tak pernah sebutkan nama itu kepada kepala desa, tapi Urana memang memikirkan betapa kejamnya dia bila ketahuan kabur dari istana. Kenapa dia sangkut pautkan Raie? Meski kondisinya lemah, Urana sanggup melihat bangunan kumuh yang layak disebut reruntuhan atau bangunan kosong atau bisa jadi bangunan yang ditelan pasir dan debu.


Patutlah perpustakaan ini disebut tempat teraman, batinnya kembali lesu. Ia kira hanya tampilan luarnya yang terlihat tak terurus. Ternyata, dalamnya lebih parah. Sarang laba-laba. Debu setebal kertas di setiap atas rak. Sampai keramik hitam pun mirip hamparan pasir. Nasib baik buku dan meja baca tampak bersih.


Banyak anak-anak berdiam diri di sini, menghabiskan waktu dengan membaca sampai ibu mereka datang memberikan makanan dan sesi mendongeng sebelum tidur.


Apa di sini juga tempat anak-anak disembunyikan dari kekejaman Raie? Hmm, menarik. Urana yang dibopong pria besar tiba di sepetak ruangan. Ini di luar dugaan. Tempatnya sangat bersih walau jendela kayu tertutup. Tak bikin Urana batuk-batuk.


"Biarkan aku bicara empat mata dengan Nona," kata kepala desa tanpa tengok bawahannya. Begitupun pria tadi, pergi tanpa membantah.

__ADS_1


__ADS_2