Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 2.2


__ADS_3

"Kenapa dia?"


"Melantur lagi."


Sialan, mereka bisik-bisik soal Urana. Segera ia layangkan tatapan membunuh pada para wanita yang merupakan pelayannya. Urana kira bakal mempan. Nyatanya, mereka tetap saling berbisik juga balas sorot mata Urana dengan pandangan sinis.


Andai Urana tak ingat jalan ceritanya, ia pasti menghajar para pelayan tanpa ampun. Perlahan Urana duduk manis di hadapan meja rias. Iris ungunya mengamati segala barang mahal di sana. Perhiasan, alat rias, dan berbagai varian parfum. Sangat berbeda dengan kehidupan nyatanya yang sebatas pakai satu minyak wangi dan pelembap wajah.


Tidak, ia harus fokus pada cerita. Lantas tepuk pipi sekeras mungkin.


Seingatnya, kisah Urana dimulai dari....


"Sebentar lagi Nona akan menikah." Iya, Urana menikah dengan seorang penguasa daerah ... entah daerah apa, Urana lupa. Dan mereka bersorak kegirangan, tak payah urus sosok Urana yang cantik ini. Begitulah menurut kisah yang ia baca.

__ADS_1


Usai lucuti semua pakaian begitu saja, kaki jenjangnya perlahan tenggelam di kolam air panas. Ah, bak mandi lebih tepatnya. Tersisa kepala hingga leher yang tak terjamah air. Ia bersandar dan amati kaki telanjang dengan tatapan kosong. Bukan, manik ungu itu gelap.


Semakin ia menyipit, kegelapannya makin pekat. Ia ingat bagaimana penulis gambarkan para pelayan di istananya. Mereka lebih mirip anjing yang menyalak tak kenal tempat. Mereka adalah nenek moyang monyet yang bertindak seenaknya. Air pun kian tenang ombaknya.


"Hah, harap-harap dia mati di tangan suaminya sendiri!" Suara wanita berumur membuka percakapannya.


"Betul! Siapa suruh main asmara dengan beliau?"


Yang lain tertawa kencang.


Sudah Urana duga. Kini iris matanya gelap sempurna, tak ada lagi semburat seindah ungu pada batu ametis. Ia melupakan kegiatan membasuh tubuh, cukup beranjak dari bak mandi dan pakai kembali gaun tidur.


"Bukan hanya kita, bahkan keluarganya pun benci dengan Urana."

__ADS_1


Pintu seketika terbanting keras. Kekuatan tangan Urana memberikan retakan cukup luas di dinding. Jika yang ia ingat sosok Urana di novel sangat lemah dan tak berdaya, kali ini hadir dengan mimik dan tatapan murka.


"Keluar, sebelum aku membunuh kalian satu per satu."


Lagi-lagi, dugaan Urana tentang mereka meleset. Kaum puan itu bergeming enggan tunduk pada ancaman Urana. Para pelayan malah menatap sinis. Kali ini bukan cuma iris matanya yang menggelap, tapi aura Urana ikut mencekam. Tanpa sadar ia singsingkan lengan gaun hingga siku, kemudian regangkan otot leher dan jemarinya. Setiap retakan pada jari Urana memperkecil nyali mereka.


"Pergi sebelum kubunuh kalian semua," katanya dengan mimik murka. Barulah mereka terbirit-birit keluar dari singgasana. Saat itu pula, tubuhnya berangsur lemas. Urana segera tutup pintu supaya bisa duduk bersandar di sana.


Matanya yang kembali ungu cerah----segar macam anggur----memandang langit-langit kamar berhiaskan lampu super mewah. Ia jadi berpikir: apakah kaca-kaca di lampu tersebut terbuat dari berlian asli?


Entahlah, yang jelas kekosongan nampak jelas di mata bulatnya.


"Kok aku bisa masuk ke cerita Urana?" Lama ia merenung. Tak berkedip. Tak melirik kanan-kiri. Dan sekelebat peristiwa silam buat Urana mendelik kaget.

__ADS_1


Semua berawal dari dirinya yang terus meraung-raung di meja tempat ia habiskan waktu dengan membaca. Mata sembabnya makin bengkak berkat air mata.


__ADS_2