Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 6.1


__ADS_3

Urana membutukan waktu dan tenaga yang cukup besar, bakan harus pakai taktik demi mempermudah rencananya melarikan diri dari istana. Beruntung, Urana dapat kabur dari istana menggunakan kuda curian. Ia mengenakan jubah hitam dengan tudung menutupi kepalanya hingga cahaya bulan enggan tunjukkan wajah cantiknya. Urana menerjang hutan dan sungai kecil dengan tatapan penuh amarah.


Ya, amarah dan penyesalan atas penderitaan rakyat. Semakin jelas begitu tiba di wilaya gersang nan kumuh itu.


"Sialan lo, b*jingan."


Sebelum Urana lancarkan rencana ini, wanita dengan luka lebam menodai wajahnya datang ke dapur. Puluhan pasang mata menjadikan Urana pusat perhatian. Tatapan yang bervariasi. Ada yang gelisah, marah, bahkan menatap tajam. Terlebih lagi Urana dapat getokan keras dari belakang, disusul kepala pelayan yang tiba bawa sebakul sayuran dan sendok kayu.


"Nasib baik kami semua tidak kena hukuman, Nona!" ketusnya menunjuk muka Urana menggunakan sendok kayu. "Aku sudah bilang padamu untuk tidak berurusan dengan mereka! Kenapa masih ngotot, hah?"


Urana terdiam, membiarkan kepala pelayan itu mendesah pasrah dan menjauh. Kagum, karena dia masih terlihat berwibawa dalam menjalankan tugas meski usianya tak lagi muda. Takjub, sebab di balik tatapan penuh amarah itu, ada secercah rasa iba dan kesedihan yang mendalam.


Lantas, ia dekati kepala pelayan yang membagikan semua tugas masak. Tersisa daging dan rempah-rempah, mungkin akan diolah langsung olehnya.

__ADS_1


"Biar saya bantu," katanya mengambil alih alat tumbuk kecil di samping daging. Terdengar dengusan singkat dari kepala pelayan----Vailey.


"Terserah kau saja." Vailey sebutkan apa saja yang mesti Urana tumbuk. Mereka sama-sama diam, fokus pada kerjaannya. Biarkan dentingan alat masak dan lain-lain di dapur sebagai musiknya. Ah, tidak. Urana tidak suka keheningan.


"Anda ingin masak apa?"


"Masak sekadarnya, yang biasa dimakan yang mulia Faer."


Urana menggumam, lalu tunjukkan hasil menumbuknya pada Vailey. Anggukan singkat menerbitkan senyum manis di bibir Urana.


"Maksudnya?" Urana mengernyit bingung, tapi pandangannya tak luput dari pekerjaannya berupa mencampurkan rempah-rempah dengan minyak.


"Saya ... berharap suatu saat ada orang yang peduli pada rakyat di wilayah ini," katanya terkekeh sumbang. "Beliau telah menyerahkan tugasnya sebagai count pada Raie. Saya pikir wilayah beliau akan meluas dan sejahtera. Pada kenyataannya, memang meluas. Tapi, kesejahteraan rakyat...." Vailey gantungkan ucapannya dengan desisan.

__ADS_1


"Tidak seperti yang kau harapkan, Nyonya Vailey?" tanya Urana menerka. Hah, sudah pasti itu jawabannya. Bukti sudah menampakkan diri.


"Saya tak mengerti dengan jalan pikiran Raie, Nona Urana." Sejenak Vailey menggebuk meja sekuat tenaga, menyita perhatian para bawahannya. "Yang dia pikirkan hanya perluasan wilayah. Perang. Dia sama sekali tak peduli betapa menderitanya mereka."


"Saya paham perasaan Anda."


"Yah.... Sekalipun yang mulia Faer kembali menjabat sebagai count, kesejahteraan rakyat takkan bisa pulih," kata Vailey menyabet bumbu buatan Urana. "Sekarang, para bandit lah yang menguasai wilayah Raie, bukan dia."


Dan gue bakal wujudkan keinginan Vailey. Tangan Urana terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Meja dan piring bergemeletuk karenanya. Ia dikurung di kamar, tak bisa melakukan apa-apa. Lantas, Urana coba tidur sebentar, mana tahu pikiran soal itu menghilang dan ia bisa istirahat.


Rakyat yang kelaparan.


Pasokan makanan tidak layak dikonsumsi.

__ADS_1


Hampir seluruh bangunan tak terurus.


__ADS_2