
Usai buka lemari, jemari rampingnya menyibak satu per satu pakaian ... semuanya gaun. Ekspresi kecewa terpatri jelas. Kapan terakhir kali ia pakai gaun di dunia nyata? Urana berpikir lama sampai akhirnya memasang muka masam.
Pas prom night saja. Itupun gaun yang tidak mengembang seperti model di dalam lemari ini. Urana menyimpan satu keinginan besar terhadap gaunnya. Please, berikan ia satu gaun yang tidak mengembang kayak balon.
Ah, ketemu! Mata Urana langsung berbinar, segera keluarkan pakaian wanita tersebut. Berbahan kain yang elastis dan beriaskan banyak pernak-pernik di sekitar dadanya, tapi Urana suka. Lagian ketika melirik lemari lagi, sudah tak ada gaun seperti ini di sana.
Waktunya berubah, Urana.
*****
Urana muncul dari lantai atas dengan gaun hitam yang ia pilih tadi. Bagian bawahnya terbelah guna pamer sebelah kaki jenjangnya berbalut sepatu hak tinggi berwarna senada. Untung di sisi kain terbelah itu ditempeli pernak-pernik yang memperindah si pemakai. Tak lupa rambutnya yang basah dibiarkan tergerai lepek, hanya menanggalkan dua jepit rambut berlian di salah satu sisi.
Setiap ketukan sepatunya mengundang perhatian orang-orang yang duduk di meja rapat. Manik ungunya memindai wajah mereka dengan tatapan dingin.
Pasutri paruh baya dengan pakaian bangsawan.
Puluhan pelayan yang setengah membungkuk penuh hormat----tidak, mereka sangsi untuk hormat kepadanya.
prajurit yang berdiri pamer kegagahan menggenggam senjata.
Dan satu pria berumur setengah abad yang masih menawan dengan pakaian raja. Iya, Urana menduga dia adalah raja dari wilayah sebelah.
Namun, hanya pria itu yang mau bangkit berdiri dan tersenyum ramah.
Selebihnya, tatapan dan seringai sama-sama sinis.
Tetapi di balik wajah dinginnya, Urana masih mencoba mengingat jalan cerita dan pesan dari penulis. Kalau tak salah, ini adalah sesi pertemuannya dengan putra mahkota.
"Hormat untukmu, Nona Urana." Beliau membungkuk dengan sebelah tangan mendekap dada bidangnya. "Anda terlihat sangat cantik."
"Terima kasih atas pujiannya, Yang mulia." Ia lakukan hal serupa untuk balas rasa hormat lelaki itu, tentu lewat nada lembut. Lekas mereka duduk di tempat masing-asing, di mana Urana duduk di hadapan lelaki tua tadi.
__ADS_1
Yah, ini sebuah perubahan walau sedikit. Ia ingat, Urana digambarkan penuh ketakutan ketika melihat orang-orang di meja rapat.
"Bisa kita langsung ke inti pembicaraan?" Pertanyaan tegas dari Urana sontak mengejutkan semua orang, termasuk para prajurit yang sekilas tak bereaksi apa-apa.
"Jaga ucapanmu." Sang ibu di samping Urana menekan nadanya sambil mencengkeram pergelangan tangan penuh dendam. Iya, Urana juga ingat jalan cerita soal kejahatan orangtuanya sendiri.
"Aku ingin dia mati sekarang juga!"
"Kau telah mempermalukan namaku!"
"Kau pembawa sial, Urana!"
"Kenapa Count lebih memilih wanita murahan sepertimu, hah?"
Seiring banyak ucapan negatif yang terngiang-ngiang di kepala Urana, satu per satu bunyi menyakitkan mulai datang.
Pecahan kaca.
Pria yang menggeram murka.
Tawa sinis orang-orang.
Ucapan ampun seorang puan.
Semua bersatu membunuh otaknya. Membasmi segala bagian dalam telinga. Mengelabui pandangannya yang berkaca-kaca walau menatap dingin pada lawan bicara.
Suatu hari nanti, ia yang akan lenyapkan mereka semua. Tak peduli yang dimaksud adalah orangtuanya, pelayan istananya sendiri, bahkan ratusan prajurit.
Termasuk suami sahnya bila memungkinkan. Tidak, Urana-pasti-akan-mencabut-nyawanya.
"Bicara!" Satu cubitan mendarat di perutnya, tapi sensasi nyeri lebih dahsyat. Beruntung Urana meringis samar sambil diam-diam memegang bekas cubitan iblis berkedok ibu.
__ADS_1
"Maaf?" tanya Urana setenang mungkin menghadapi pria tua yang baik itu.
"Sebentar lagi, anak saya akan datang kemari," kata beliau melempar senyum penuh arti. "Jika perutmu sakit, mungkin kita bisa tunda acaranya----"
"Tak bisa, Tuan!" Sekonyong-konyong wanita paruh baya di samping Urana berdiri menggebrak meja. "Mau sampai kapan Anda menunda soal serius ini? Saya keberatan jika Anda mengakhirinya dengan tanda tanya."
"Saya juga, Count!" Pria yang disebut ayah tersebut ikut berdiri. "Dia sudah melakukan dosa besar terhadap anak Tuan, tapi kenapa Anda sangat peduli pada dia yang bahkan belum jadi menantu dari anak Anda?"
Urana tak kaget sama sekali. Berdasarkan kisahnya, Urana tengah mengandung. Namun, tetap saja ia merasa gelisah sekaligus penasaran tentang putra mahkota dari Count. Apa dia tampan seperti di sampul novelnya? Segagah apa dia? Ia benar-benar menunggu.
Namun, ia kokoh pada pendiriannya untuk membunuh pria itu. Maka, sebisa mungkin ia coba meredakan rasa sakitnya.
"Lihatlah keadaan anak Anda sendiri!" Ucapan Count yang penuh penekanan sanggup membungkam mulut mereka. "Dia kesakitan. Saya sampai berpikir: apa kalian sungguh orangtua Urana?"
"Maaf atas kecerobohan saya, Tuan," ucap Urana setelah dirasa nyerinya sudah menghilang. "Saya mau masalah ini segera diselesaikan."
"Apanya yang diselesaikan?"
Semua pasang mata tertuju pada pendatang baru, termasuk Urana. Manik ungunya menciut dan berbinar-binar.
Pria berambut hitam yang menutupi separuh muka. Baju zirahnya semakin memperkuat kegagahannya. Apa lagi ada bercak darah kering di salah satu bagian baju besi.
"Ah, Raie. Kau datang."
Begitu namanya dipanggil, entah kenapa amarah Urana untuk membunuhnya semakin bergejolak. Ia berani membalas manik safir sedingin es itu dengan tajam.
Raie.... Orang itu harus ia bunuh, sesuai dengan pesan si penulis yang berhasil ia ingat sepenuhnya.
"Duduklah, Tuan Raie." Dan Urana berkata demikian dengan nada rendah. "Kita harus selesaikan masalah kita sekarang." []
Mohon maaf!
__ADS_1
Untuk ke depannya, aku bakal update seminggu sekali, yakni di hari Rabu. Terima kasih atas perhatiannya, semua!