Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 2.3


__ADS_3

"Ini penulis kok tega banget siksa cewek sesabar Urana?" katanya di sela isak tangis tertahan. "Kalau gue jadi Urana, gue pasti----"


Tangisnya makin menjadi ketika membaca halaman berikutnya. Berdasarkan bahasanya sendiri, tokoh Urana yang menurutnya baik hati terbaring kaku meski sang suami terus memecut dan menendangnya.


"Ah, anj*ng!"


Seperti ingin menyerah, ia banting tangan yang pegang bentangan buku novel ke meja, disusul ia bersandar pasrah. "Ini terlalu kejam!"


Sekejap Anaru----cewek yang bangun sebagai Urana----tatap pustaka di genggamannya. Masih banyak halaman yang belum dibaca. Namun, ia terlampau capek. Haruskah anaru berhenti saja?


Tidak! Anaru tak boleh menyerah! Sontak ia menggeleng cepat. Tetap saja sekujur tubuhnya terasa panas akibat minum banyak bir. Bahkan matanya tak kuat melihat dunia lebih lama lagi.


Tak sengaja tatapannya menabrak sepucuk surat di dalam kotak paket. Walau Anaru tahu itu ucapan terima kasih dari penulis, tapi ia mengambilnya. Hei, sebuah kejutan timbulkan kerut di dahi. Ini bukan kartu ucapan terima kasih yang dicetak.

__ADS_1


Ini sebeuah pesan menggunakan tulisan tangan sang penulis!


Saya senang kamu masih jadi penggemar saya dan membeli buku Urana. Namun, ingat satu hal. Saya tak tahu apakah ucapanku nyata atau bukan, tapi saya mohon jangan....


Penglihatan Anaru keburu kabur, tak kuasa menahan penat dan kantuk. Tangannya pun entah kenapa terasa kebas hingga surat tersebut jatuh bagaikan daun gugur.


"Apaan sih nih mata, pakai buram segala...." sekuat dan sesering apapun ia menguceknya, pandangannya masih kabur.


Pekikan Anaru menjadi adegan terakhir yang ia ingat. Tak ada jawaban berarti dalam memorinya kecuali ebuah misteri surat hasil tulis tangan sang penulis. Apa yang beliau larang? Jangan ... apa? Yang jelas, Urana hanya bisa mengacak-acak rambutnya.


Ah, mungkin mandi lagi bisa menenangkan pikirannya. Cepat ia berhambur ke bak mandi dengan air mulai dingin, berendam hingga nyaris seluruh tubuhnya tenggelam. Besar harapan Urana supaya dapat ingat masa lalunya, waktu ketika ia idolakan penulis sohor itu.


Iya.... Samar-samar Urana mulai mengingatnya. Beliau lah yang menciptakan cinta terhadap buku di hatinya. Perlahan ia membaca satu per satu novel dari penulis lain. Namun, hanya dia yang mampu memikatnya. Lantas, ia stalking akun sosial medianya. Ia tunggu karya terbaru beliau. Dan ia turuti setiap pesan dari kartu yang tergeletak cantik di atas buku pesanannya.

__ADS_1


Apa gara-gara itu, ia jadi terlibat dalam konflik novel beliau? Lewat memerankan sosok Urana yang berakhir mati tragis di tangan suami?


"Nona! Nona!" Seseorang gedorkan pintu kuat-kuat. Dia terus menyeru panggilan terhormat pada Urana.


Hah, persetan dengan orang itu, pikir Urana. Ia enggan keluar dari sesi tenggelamkan diri. Ia bahkan tak peduli nanti hidungnya kemasukan air.


"Orangtua Nona sudah menunggumu!"


Seketika Urana muncul ke permukaan, lalu bersandar lega dengan napas terengah-engah. Orangtuanya menunggu, berarti Urana bisa simpulkan dirinya mulai ambil peran di detik-detik acara pelamaran. Lalu soal momen tadi, ia juga baru sadar: Urana mengikuti jalan cerita menuju takdir tragis.


"Sialan." Ia tepuk jidatnya bertubi-tubi, untung sakitnya tidak membekas.


Dengan keadaan basah kuyup dan piyama sepenuhnya menempel pada tubuh, Urana keluar dari kamar mandi. Bukan untuk cari pakaian di almari terlebih dahulu, melainkan mengunci pintu kamar supaya para pelayan tidak masuk seenaknya. Persetan mereka sebut Urana aneh, begitu makna dari embusan napas gusarnya.

__ADS_1


__ADS_2