Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 7.1


__ADS_3

Apakah pengubahan takdir Urana hanya sampai sini? Entahlah.


Ia belum mewujudkan harapan Count. Bahkan keinginannya menyingkirkan Raie pun belum tiba. Ia jadi igin tertawa. Kok bisa Urana selemah ini?


Aku ingin menjadi wanita kuat.


Begitu kan kata terakhir sang tokoh utama novel yang ia baca sebelum kematian menggaetnya? Itu omong kosong. Sekarang, jiwa dalam tubuh Urana adalah Anaru. Anaru ... paling benci dikatakan cewek lemah.


"G-gue ... nggak selemah itu."


"Tuan, Nona istana jatuh pingsan!" Tidak. Urana tak pingsan. Jemarinya yang kaku mulai terkepal dan menapak tanah gembur. Urana coba bangkit dengan sisa tenaga. Persetan sakit di perutnya! Janin ini ... pasti kuat!


"Nona istana!" Hah, janin ini enggan mengalah rupanya. Dia selimuti pandangannya dengan layar hitam.


****

__ADS_1


Mimpinya kosong. Urana berharap bisa balik ke masanya. Ia rindu empuknya ranjang, makanan modern yang enak, jalan-jalan memburu diskonan, dan ***** bengek seorang perempuan yang dapat ia nikmati.


Baiklah, ia siap bila memang mesti kembali ke masa sekarang, ke tubuhnya yang sebenar. Urana membuka mata. Kabur. Pandangannya buram. Tetapi, ia telah menyimpulkan satu hal. Jiwa dalam tubuh Urana takkan pernah pergi. Semakin tajam, Urana tak heran dengan sekumpulan rakyat jelata yang mengerumuninya.


Urana harus ubah takdir karakter utama wanita di dalam novel ini, secepatnya Ia sudah lelah di sini.


"Nona istana sudah sadar, Ketua!" Salah seorang dari puluhan warga berteriak lantang. Tak perlu waktu lama, kakek tua yang ia temui semalam tiba dengan tangan bersedekap di balik punggung bungkuknya.


"Bawakan banyak makanan dan minuman layak untuknya." Mereka pergi begitu cepat bagai cheetah. Urana tak menyangka rakyat di sini sangat patuh padanya. Mereka mendambakan apa sih hingga penurut begitu pada seorang kakek tua?


"Urana," jawabnya bersandar guna nyaman bercakap dengan kepala desa itu. "Urana Shourette."


"Urana." Beliau mengangguk paham. "Akan kuingat namamu, Nona. Lalu, soal ucapanmu semalam...."


"Saya sudah berjanji pada Count Faer," sela Urana menatap serius. "Saya berusaha supaya wilayah yang dulu beliau kelola kembali sejahtera."

__ADS_1


Kepala desa membisu dengan ekspresi tak kalah serius. Urana harap kakek ini bukanlah penjilat.


"Anda tentu tak mau wilayah ini terus dilanda serba kekurangan, kan?" sambungnya semakin tajam sorot matanya. "Kekurangan makanan; sarana; bahkan perabotan yang saya lihat di sekitar sini saja. Jauh dari kata layak."


"Anda benar, Nona." Beliau berpaling ke arah jendela yang terbuka memamerkan orang berlalu lalang memandang Urana penuh penasaran. "Saya ingin suasana seperti dulu, seperti pada masa pemerintahan Count Faer."


"Maka dari itu....." Tangan kurus Urana terulur mengganggam tangan keriput kepala desa. Menggenggamnya penuh keyakinan seluas samudera. "Saya mengharapkan banyak dukungan dari Anda dan seluruh rakyat wilayah ini."


Kepala desa tetap bergeming meski memandang Uana selama mungkin.


"Kita, akan singkirkan Raie."


Tepat sekali. Ketukan pintu terdengar usai Urana akhiri ucapannya. Ini kami, katanya warga yang diperintahkan kepala desa untuk cari makanan dan minuman layak. Mereka masuk satu per satu selepas dapat izin dai kakek tua itu.


"Ini seluruh makanan yang dapat kami temukan untuk Nona istana, Ketua." Kemudian, mereka undur diri, kembali biarkan kepala desa bersama Urana.

__ADS_1


__ADS_2