Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 4.4


__ADS_3

"Raie bilang, dia ada urusan dengan wilayah selatan.," tambahnya kini mengelus kepala Urana.


Ah, soal urusan wilayah, Urana jadi penasaran pasal surat yang Raie terima.


"Tidak heran kalau tuan Raie jarang ada untuk temani saya," katanya berlagak lemah. "Kalau boleh tahu, apakah tuan Raie punya ruang kerja untuk mengurusi surat-surat?"


"Tentu dia punya," jawabnya terkekeh kecil. "Sayangnya, ruang kerja seorang raja sangat pribadi."


"Sangat ... pribadi?" Urana mengernyit bingung.


"Simpelnya, setiap anggota kerajaan punya ruang kerjanya sendiri. Seorang Count pun ada ruang kerja, dengan surat-surat yang juga berbeda."


"Itu berarti saya akan memilikinya?"


"Tentu."


Senyum lebar terbit di bibir Urana. Matanya berbinar-binar. Ia rasa ide ini mampu guncangkan dunia. Lantas ia pandang Count kemudian berkata, "Selama saya belum memiliki ruang kerja, bolehkah saya menempati kepunyaan tuan Raie? Termasuk mengurusi surat-surat."

__ADS_1


Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Count. Sepertinya beliau tengah menimang keinginan Urana. Kalau sampai Count menentangnya, ia hanya bisa pasrah. Melakukan hal nekat pun pada ujungnya akan bernasib buruk.


Tunggu, Urana teringat suatu adegan novelnya. Raie lebih sering habiskan waktu dengan bertarung dan nyatakan perang demi sebuah wilayah ketimbang negosiasi dalam sebuah rapat kerajaan. Iya.... Akan ia manfaatkan hal tersebut.


"S-saya ingin tahu mengenai isi surat yang tuan Raie terima, Ayah," sela Urana mengulum bibirnya. "Anggap saja saya sedang simulasi saat menempati ruang kerja sendiri. Duduk, mengurusi surat, atau bersantai sejenak dengan secangkir teh."


"Memangnya di istana keluargamu tak ada ruang kerja?"


"Tempat seperti itu hanya untuk ayah saya."


Setelah mendengar gumaman panjang dari Count, akhirnya terdengar jawaban yang memuaskan: "Kamu boleh memasuki ruang kerja Raie." Dengan catatan harus tanpa sepengetahuan dia.


"Apa yang Anda pikirkan, Ayah?" Urana lekas menggenggam tangan sang mertua, menggenggamnya hingga timbul kehangatan. "Anda tak usah risaukan saya."


"Hah?" Count bangun dari lamunannya, lalu tersenyum lembut pada Urana usai lihat tangannya digenggam begitu erat. "Bukan itu yang aku pikirkan, Nak."


"Lalu?"

__ADS_1


Lama sekali beliau palingkan wajah dari Urana. Sekalinya bertatap muka, Count memasang wajah penuh keyakinan. Beliau juga membalas tangan Urana.


"Ayah hanya berharap kamu bisa jadi ratu yang lebih baik dibanding Raie," katanya lirih. Satu kalimat yang buat Urana bergeming hingga tak sadar Count telah hilang dari pandangannya. Sejenak ia benarkan posisi berbaringnya dengan hati-hati. Manik ungu Urana menghadap bulan yang bersinar terang.


Benarkah Count mengharapkan Urana jadi ratu? Kalimat tersebut ... tidak ada dalam novel. Urana langsung menyipit tajam. Jika memang kalimat Count merupakan perubahan kecil dari perbuatannya....


Maka esok hari, Urana akan manfaatkan kesempatan ini untuk menyelinap ke ruang kerja Raie!


Berdasarkan informasi dari para prajurit dan pelayan istana, Raie masih belum pulang. Kemungkinan baru pulang besok. Dia nyatakan perang pada wilayah selatan. Jadi, diam-diam bermodalkan hendak bersihkan ruang kerja Raie, Urana akan masuk----


"Yang Mulia?" Seseorang muncul ketika Urana hendak buka pintu. Bikin tegang saja, pikirnya kesal. Namun, Urana benaran merasakan setrum di tubuh gara-gara dia. Begitu ditengok, Eve berdiri ketakutan dengan ember yang dia jinjing menggunakan kedua tangan.


Matilah aing!


"Saya hanya...." Mereka kompak mengatakan demikian. Bahkan dua perempuan ini saling terbelalak.


"S-saya hanya mau bersihkan ruangan yang mulia Raie." Eve lah yang lebih dulu bicara. "Apa yang Anda lakukan di sini?"

__ADS_1


Makin mati gaya lah Urana. Padahal niatnya mau pura-pura benahi ruangan tersebut. Niat sekali sampai sembunyikan lap di balik gaun santai berwarna kuning pastel. Tetapi, otak Urana tetap berjalan untuk cari celah supaya Eve mengambil pekerjaan lain di dalam istana.


Dan satu-satunya cara ia lakukan detik ini juga.


__ADS_2