
"Bisa-bisanya Urana pasrah digebuki suami sendiri sampai modar. Gimana sama janinnya, anj*ng?"
Sekali lagi, Anaru melolong sambil acak-acak rambut sebelum berbaring di kasur single. Ia beringsut tutupi tubuh berlumur peluh pakai selimut. Wajahnya yang merah masih kusut.
"Ish, kalau gue jadi Anaru, udah gue hajar tuh b*bi," sambungnya langsung menutup diri. "Biar aja dia babak belur kayak dia."
Iya, kayak dia yang nekat selingkuh saat Anaru sibuk. Anaru hajar lelaki b*jingan itu. Tinjuan. Tamparan. Bahkan tendangan. Serangan tersebut mengubah wajahnya yang bersih menjadi penuh luka lebam dan darah.
Andai saja Anaru bisa bertindak demikian pada suami Urana....
"Nona Urana, saatnya bangun." []
Episode 2
"Nona Urana, saatnya bangun."
Pupus sudah ia menantikan hari super ceria. Seseorang mengacaukan masa pemulihan suasana hatinya. Kenapa harus sekarang? Mau tak mau, ia menggeliat singkirkan selimut dari tubuhnya dengan sebal. Baru juga mau tidur, mesti bangun lagi.
__ADS_1
Cahaya masuk seenaknya ke mata. Ia silau dibuatnya. Lewat sebelah mata yang menyipit, ia dapatkan jendela besar dengan pagar. Ada orang kenakan semacam gaun, sedang sibakkan gorden.
Bukan jendela persegi lagi.
"Air panas untukmu sudah siap, Nona Urana."
"Hah?" Seperti halnya komputer, otaknya susah memproses semua peristiwa di depan mata. Kemudian, ia mendelik kaget. Bahkan tak sadar orang di sini ikut diam menatap sosok yang duduk selonjor di ranjang.
Mereka menyebut Anaru si 'Urana'?
Apa sosok di depan cermin ini dirinya? segitunya ia terperangah, mencoba raba wajah dan rambut yang terurai panjang. Ini benaran Urana? Karakter novel idamannya?
"Nggak, ini pasti mimpi." Urana----alias Anaru----coba cubit pipinya, disusul desis kesakitan. Bukan mimpi. Tetapi, kenapa harus bangun di tubuh Urana?
Bukan lagi wanita berambut cokelat sebahu yang punya badan ideal dan sedikit berotot, dengan mata hitam selalu jadi pelengkap kesuraman hidup bujangan. Ia ada si tubuh puan rambut pirang keriting belum disisir. Semula jaket melindungi badan dari hujan, kini penggantinya berupa gaun tidur putih susu, bahkan warnanya hampir sama dengan kulit.
"Kenapa dia?"
__ADS_1
"Melantur lagi."
Sialan, mereka bisik-bisik soal Urana. Segera ia layangkan tatapan membunuh pada para wanita yang merupakan pelayannya. Urana kira bakal mempan. Nyatanya, mereka tetap saling berbisik juga balas sorot mata Urana dengan pandangan sinis.
Andai Urana tak ingat jalan ceritanya, ia pasti menghajar para pelayan tanpa ampun.
Perlahan Urana duduk manis di hadapan meja rias. Iris ungunya mengamati segala barang mahal di sana. Perhiasan, alat rias, dan berbagai varian parfum. Sangat berbeda dengan kehidupan nyatanya yang sebatas pakai satu minyak wangi dan pelembap wajah.
Tidak, ia harus fokus pada cerita. Lantas tepuk pipi sekeras mungkin.
Seingatnya, kisah Urana dimulai dari....
"Sebentar lagi Nona akan menikah." Iya, Urana menikah dengan seorang penguasa daerah ... entah daerah apa, Urana lupa. Dan mereka bersorak kegirangan, tak payah urus sosok Urana yang cantik ini. Begitulah menurut kisah yang ia baca.
"Bagaimana perasaan An----"
"Saya ingin mandi." Urana bangun seenak jidat, lekas ambil langkah lebar menuju kamar mandi. Banyak yang bilang uap air panas dapat perbaiki suasana hati, tapi Urana tak demikian.
__ADS_1