
"Kak." Beruntung adiknya merebut perhatian Anaru. Lelaki iti tengah celingak-celinguk melihat nama orang yang diundang, kemudian menuliskannya di stiker yang menempel pada plastik.
"Ada teman Kakak yang mau diajak hadir ke acara pernikahan Kakak?" Meski bertanya langsung ke inti tujuan dia kemari, tangan besarnya justru menggenggam tangan Anaru. Setiap usapan ibu jarinya cukup mengusir rasa tak nyaman dalam benak.
"Ah, nggak usah," jawabnya mengalihkan pandangan kepada puluhan kartu undangan di hadapannya. "Cukup segini aja."
****
Malam telah tiba. Lelaki itu juga sudah lama tepar dengan posisi tengkurap dan bercumbu mesra dengan kartu undangan beserta komik incarannya. Hanya Anaru yang masih terjaga, duduk bertemankan hidangan makan malam untuk calon suami.
Tak sampai situ, perut Anaru sering keroncongan, pertanda ia menahan lapar demi dia. Makanan mendingin. Ia tak peduli. Paling penting, Anaru berharap besar atas kepulangannya.
__ADS_1
Satu jam berlalu. Sang adik yang semula terkapar lelap di lantai kini meringkuk gemas di ranjang milik Anaru. Perut Anaru mulai terasa sakit. Menyebalkan.... Helaan napasnya timbulkan mimik kecewa, lekas lirik ponsel di samping piring. Jam 9 malam. Dia belum pulang jua.
"Biasanya dia sudah datang di rumah," gumam Anaru menelepon nomor yang disentuh. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tak ada jawaban sama sekali. Padahal sejenak Anaru periksa status nomornya bertuliskan 'berdering' bukan 'memanggil'.
Apa ia perlu telepon calon mertua, ya? Bukan ide yang buruk, pikir Anaru. Ia coba telepon salah satu nomor calon mertua. Statusnya berdering. Semoga beliau mengangkat panggilan Anaru.
"Iya, Nak?" Akhirnya Anaru bernapas lega. Suara lembut itu setidaknya mampu menepis kerisauan dalam hati. "Senang banget kamu sempat nelepon Ibu."
"Eh? Ibu kira dia lagi sama kamu, Sayang." Balasan calon bunda tersebut timbulkan kerut di dahi Anaru. Tatapannya berubah jadi tajam. "Soalnya tadi dia bilang langsung main habis pulang ke sini. Jadi Ibu menduga mau main ke rumah kamu."
Anaru menggumam pelan. "Sayangnya dia nggak di sini, makanya saya telepon Ibu, kali dia memang butuh istirahat. Habis kerja."
__ADS_1
"Nggak, dia langsung keluar, Sayang," katanya yang seakan menaruh garam di atas luka hati. "Apa perlu Ibu telepon supaya dia mampir ke rumah kamu? Barangkali mau bahas soal pernikahan kalian."
"Nggak usah." Bukan senyum manis yang menghidupi nada bicara Anaru, melainkan senyum kecut. "Barusan sebelum telepon Ibu, saya sudah miss call dia."
"Ya udah, kasih tau Ibu aja bila kamu butuh bantuan." Lepas Anaru iyakan tawaran beliau, ia tekan tombol merah. Ponsel menampilkan riwayat panggilan. Anaru dapat lihat wajahnya yang teramat murka di pantulan layar sentuh.
Jadi, lelaki itu ingin berbohong darinya? Genggaman kuat di ponselnya menyiratkan betapa seram raut wajah Anaru saat ini. Mata menyipit tapi tersimpan api yang berkobar; senyum tanpa garis lengkung; paling parahnya gigi bergemeletuk menyertai geraman rendah.
"Baiklah jika itu kelakuan aslimu, mas." Secepat kilat wanita dengan rambut dikucir kuda itu meraih segala barang seperti jaket dan sepatu sneakers untuk ia kenakan. Baru selangkah ia keluar rumah, Anaru temukan kotak paket.
Ah, buku pesanannya! Benak Anaru ingin sangat membaca pustaka tersebut secepat mungkin, tapi hati mendesak untuk tuntaskan rasa curiganya.
__ADS_1
Benak Anaru berkata: Tunggu aku, novel idamanku.