
"Benarkah?" Mata Camile berkilauan. "Nona ... mau belanja bersama kami?"
"Tentu saja!" Urana menjawab dengan mantap.
"Baiklah! Ayo, Nona!"
Sayangnya, itu hanya khayalan Urana. Yang sebenarnya terjadi ialah dirinya yang dikerumuni seluruh pelayan. Mereka mengelilinginya. Urana dan seorang wanita paruh baya. Urana rasa dialah orang yang mengatur segala tugas pelayan supaya keluarga Shourette merasa nyaman.
"Saya dengar kamu mau belanja bersama Camile." Wanita itu bicara dengan mengangkat dagunya sedikit. Angkuhnya.... "Benarkah itu?"
"Iya...." Andaikan Urana tahu namanya. Namun yang terpenting, kenapa justru seorang putri mahkota yang merasa posisinya terancam? Harusnya sosok di depannya dong.
"Hmph!" Dia mendengus sinis. Bikin naik pitam saja, pikir Urana berusaha konsisten dengan wajah ala karakter utama wanita terlemah. "Apa alasan mau belanja padahal Anda seorang putri?"
"Saya----"
__ADS_1
"Alasan yang berhubungan dengan tuan Raie dan yang mulia adalah di luar tanggung jawab kami bila Anda kena getahnya," selanya mulai mengetuk-ketuk lantai keramik dengan cepat.
Ah, sesuai yang Urana duga. Cepat atau lambat, pasti ada satu orang pelayan yang bertanya demikian. Meski bukan Camile, tapi jawaban atas dugaan tersebut tetap sama.
"Saya akan menanggungnya!" Urana berkata lantang bersama tatapan penuh semangat. "Karena saya melakukan hal itu demi tuan Raie!"
Satu per satu pelayan mulai terperangah, begitu pula pelayan tua di hadapan Urana. Sorot mata penuh kagum. Urana dapat membacanya.
"Saya ingin menyenangkan suami!" sambungnya makin lantang.
Ini dia! Wajah Urana kian ceria usai pelayan itu balik badan dan menyuruh semuanya untuk bubar.
"Mohon turuti instruksi dari saya."
Poin pertama ... sedang dalam proses menuju sukses!
__ADS_1
****
Dua kereta kuda biasa mengantarkan para pelayan yang dipilih pemimpin----termasuk Urana dengan seragam ala pelayan istana----dan diberikan izin keluar oleh Count. Urana dan Camile banyak mengobrol, tapi perjalanan masih jauh ketika ingin tahu sedang berada di daerah mana: waktu itu sang kusir jawab, mereka baru saja keluar istana.
"Maaf mengganggu Anda, Nona," Camile mulai bercakap sambil membungkuk singkat. "Saya hanya mengingatkan. Tujuan kita hanya beli kebutuhan memasak dan alat kebersihan yang sudah rusak. Jangan sesekali berbicara dengan orang sekitar."
"Memangnya kenapa?" Baru saja Urana tanya dengan dahi mengerut, sorakan dan suara-suara brutal seakan mengitari kereta kuda yang mereka naiki. Bahkan hawanya jauh lebih panas ketimbang pertama kali Urana ke kediaman keluarga Shourette.
"Seperti yang Anda dengar sekarang." Wajah Camile berangsur muram. Kereta kuda telah berhenti, saatnya ambil keranjang dan keluar. Urana sempat dengar Camile berkata: "Padahal aku ingin kenal banyak dengan rakyat ini."
Tanah gersang. Kedai kecil yang kumuh di mana-mana. Banyak sampah. Bahkan sebagian besar orang terlihat kurus kering. Mereka meraung-raung layaknya anjing liar tengah menggonggong. Bukan sebab butuh makanan, tapi sorakan mengejek. Mereka meludah, melolong depan telinga para pelayan, dan menyumpah agar penguasa wilayah ini mati saja.
Pantas Count menyimpan harapan besar supaya Urana jadi penggantinya. Hatinya mulai berkobar. Ia ingin mewujudkan keinginan beliau. Melihat mereka sengsara dan hampir kehilangan akal, tangan Urana langsung mengepal. Dasar putra mahkota tak diuntung!
"Ayo, Nona." Camelia langsung menggaet lengan Urana. "Abaikan mereka. Kita tak bisa berbuat apapun supaya orang mau berbaik hati."
__ADS_1