Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 4.3


__ADS_3

Satu tamparan keras menarik kesadaran Urana yang mengambang di antara ribuan oksigen. Denyut nyeri pertanda kekuatan tampar tadi cukup membekas di pipi.


Sebentar, ia ditampar? Urana langsung membeliak. Bukan cuma sebab dapat tamparan, ia juga menyadari tengah duduk dengan posisi kaki layaknya ikan duyung di lantai. Buru-buru Urana berdiri. Raie pun telah beranjak dari kamarnya.


"Tunggu dulu, suamiku!" Urana spontan menahan Raie lewat menarik tangannya. Terdapat kekuatan untuk mengeratkan genggaman di tangan Raie. Kalau bisa, memutusnya. "Tidak sebaiknya Anda minum teh saja?"


Tatapan tajam Raie pun menjawab. Agak gentar. Namun, hasrat ingin membunuh masih membara di hati Urana. Cengkeramannya pun kian kuat.


"Ini malam pertama kita sebagai suami istri, Tuan," imbuhnya memasang raut wajah selemah mungkin. Mata sayu. Bibir mengerucut sedikit. "Saya ingin ... sekali saja, menikmati malam. Berdua. Hanya saya dan Anda."

__ADS_1


Sayang, yang Urana dapatkan berupa tamparan lagi di pipi satunya. Kali ini, kekuatannya semakin hebat sampai Urana jatuh terjerembap dan keluar percikan darah dari mulutnya. Sedang yang melakukan hal biadab itu melenggang begitu saja, seakan hanya mengusir seekor lalat. Ruangan besar nan mewah ini menjadi saksi bisu. Tetes demi tetes air mata jatuh tanpa Urana sadari. Tiada ekspresi di wajah seputih susu. Bibir mengatup erat dengan sisa darah mengucur di sudut. Mata sama sekali tak membulat, pun tak menyipit. Lalu irisnya ... hampa, tanpa warna terang.


Dengan wajah seperti itu Urana menangis.


Sejenak ia hapus jejak air mata di pipi guna ia amati. Telapak tangan yang basah. Urana yakin ini bukan air mata yang ia inginkan. Ini murni air mata akan kekecewaan seorang tokoh utama dalam mengikuti alur cerita.


"Urana!" Suara serak itu mengiringi derap langkah sepatu. Saat itu pula perih melanda perutnya. Ini pertama kali Urana merasa kesakitan. Nyeri hebat. Kram tiada ampun. Kenapa Urana baru merasakannya sekarang?


"S-saya tak apa-apa...." Namun, yang ia rasakan ketika melihat Count justru sebaliknya. Lebih sakit ketimbang nyeri di perut. Wajah tua beliau tampak gelisah, penuh rasa bersalah, bahkan terdapat genangan air di matanya.

__ADS_1


"Andai tadi aku bersamamu terus, Urana...." Dia berkata demikian, tumpahlah airr matanya.


Urana tak mau membuat orang baik menangis.


"M-maaf sudah membuat Anda cemas." Kemudian dengan sisa tenaga, Urana coba bangkit berdiri sambil dituntun Count. Mereka berjalan tertatih-tatih. "Saya berjanji takkan melakukan hal serupa seperti ini lagi."


"Sudah sewajarnya aku mencemaskan keadaanmu," katanya mengelus punggung Urana dengan lembut. Dalam sekejap wajah beliau mengeras, menghadap lorong berjejerkan lampu. "Lelaki jahanam itu tak tahu diri. Dia yang melakukan kesalahan padamu, dia malah menyiksamu, bukannya melindungimu."


"Tak usah risaukan tuan Raie, Ayah." Karena gue udah muak sama kelakuan dia, imbuhnya dalam hati. Selama ia bisa ingat alur cerita ini, Urana akan mengubahnya sedikit demi sedikit, sampai setidaknya Raie turun tahta. "Bisa saja ada urusan mendesak."

__ADS_1


"Sepertinya iya." Tibalah mereka di kamar Urana. Count menyerukan beberapa pelayan untuk menyiapkan segala hal yang bisa berikan rasa nyaman bagi tubuh Urana, sedangkan beliau sendiri membaringkan sang menantu di atas ranjang empuk.


__ADS_2