Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 7.3


__ADS_3

"Ah, soal Anda yang tiba-tiba sebut nama Raie...."


"Dengar, Nona Urana." Kepala desa menyela sambil duduk bertekuk lutut. "Aku tak pernah beritahu rahasiaku pada mereka dan kau adalah orang pertama yang mengetahuinya: aku punya bakat telepati, membaca pikiran orang."


"Tele ... pati?" Urana mendelik tak percaya.


"Kau sedang memikirkan kejamnya Raie jika ketahuan kabur dari istana. Itu kan yang buat kamu gegabah dan akhirnya perutmu sakit?"


Baik, Urana tak punya kata-kata untuk membantah.


"Tenang saja, di sini sangat aman," kata kepala desa berdiri dibantu tongkat berjalan. "Kamu akan dilayani orang-orang pilihan. Mereka yang akan memasak, mencuci baju dan piring kosong, dan mendandanimu."


Selepas itu, kepala desa undur diri atas urusan lain. Mungkin mengurusi keluhan warga, pikirnya. Nah, dalam posisi berbaring di ranjang, apa yang bakal ia lakukan sampai badannya pulih?


"Nona istana." Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Urana. Ia biarkan orang itu masuk. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian terusan putih bergaris biru muda di bagian rok. Ada banyak buku di dekapannya. Bahkan ia tak sadar ada banyak anak kecil tengah mengintip di baliknya.


"Barangkali Anda merasa bosan." Dia letakkan tumpukan buku di meja kecil samping ranjangnya. "Anda bisa baca buku-buku ini. Anak-anak dan orang dewasa yang tahu tempat ini sangat suka dengan buku tersebut."


"Benarkah?" Ketika ia ambil satu buku untuk dibaca, anak-anak sudah melipat tangan di tepi ranjang. Apa mereka ingin Urana bacakan kisahnya? Ia pura-pura baca dengan intonasi yang buruk, menduga mereka akan kecewa.


Namun, mereka malah semringah. Anak-anak itu semakin betah di situ.

__ADS_1


"Maafkan anak-anak ini, Nona." Ada raut cemas di wajah wanita itu. Demi apapun, Urana ingin tertawa sekarang juga. "Mereka bakal antusias kalau ada orang mau baca buku fiksi."


"Tak apa." Maafkanlah ia yang tak larat menahan tawa. "Saya hanya pura-pura baca pakai intonasi buruk."


Wanita itu mendesah lega, tapi anak-anak kebanyakan mengernyit bingung.


"Baiklah, anak-anak." Suara Urana menyabet perhatian mereka. "Kalau kalian mau aku mendongengkan kisahnya, kalian harus carikan buku pengetahuan yang bisa aku baca. Mengerti?"


Wajah mereka makin ceria ketimbang sebelumnya. Satu per satu mulai berlari cepat keluar kamar Urana.


"Anda juga boleh bantu mereka carikan buku yang saya butuhkan." Iya, setidaknya Urana dapat manfaatkan waktu pemulihan dengan baca buku pengetahuan. Ia harus menyingkirkan Raie dari jabatannya sebagai Count secepat yang ia bisa.


Urana harus hadir, meski Raie akan menyakitinya atau membunuhnya hari itu juga. Jika dia melawan, maka Urana pun melawan atas jiwa urakan Anaru.


Hari demi hari Urana habiskan dengan baca buku Entah itu mendongengkan anak-anak dengan kisah menarik atau membaca satu-dua buku pengetahuan sebelum tidur dan beraktivitas.


Hari ini waktunya mendongeng. Anak-anak sudah duduk rap dengan senyum manis yang buat Urana kepingin mencubitnya. Ia duduk di tepi ranjang mulai membuka buku pilihan salah satu bocah.


"Pada suatu hari----"


Jeritan melengking timbulkan warna pucat pasi di wajah anak-anak, bahkan ada yang sudah berbalik dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKI DI SINI, DASAR PENGHANCUR!"


Jeritan lagi. Pekikan lagi. Erangan lagi. Semua berpadu mengisi kekosongan perpustakaan. Anak-anak mulai menangis, merapalkan nama ibu dan ayah supaya tetap hidup, meringkuk mengharapkan kekacauan ini berakhir.


"ENYAH KAU DARI SINI, RAIE!"


"DI MANA URANA?"


"KAMI TAK KENAL DIA!"


"DIA TAK ADA DI SINI!"


Ia ada di sini. Bersembunyi dari cengkeraman binatang buas semacam Raie. Pendengarannya mendengar desisan pedang yang menyayat tubuh orang tak berdosa.


Silan lo, dasar b*bi! Amarah jiwa Anaru memuncak----bum! Meledak!


Ia beranjak dar i ranjang, kemudian ambil langkah mantap keluar kamar khusus. Biarkan bocah-bocah ini menangis sebagai doa untuk kepergian orangtuanya. Tersisa satu belati yang terkurung di saku tempat surat itu terbaring. Beruntung mereka tak memeriksa saku tersebut.


Ia yang akan melawannya.


"Jangan!" []

__ADS_1


__ADS_2