
"Kau...." Percuma Raie menggeram. Urana masih punya nyali untuk menatap matanya. Wajah bengis. Tatapan predator ketika mencengkeram mangsa. Bahkan ia bisa dengar Raie menggeram rendah. Mirip harimau. Dan percuma Urana memberontak. Pukulan lemah pun takkan mampu menyingkirkan Raie. Kini dia layangkan bogem di wajah Urana. Pandangannya semakin kabur dan berbayang-bayang.
Satu pukulan. Dua pukulan. Bertubi-tubi pukulan. Mata, hidung, dan mulut telah terluka dan alirkan darah. Bahkan ia merasa salah satu gigi gerahamnya copot karena pukulan kuat di tulang pipi. Layar hitam mulai menghinggapi penglihatan Urana dan perutnya kembali sakit. Jauh, jauh lebih sakit dari yang ia rasakan sepanjang memerankan tokoh utama ini.
Mungkin ... takdir Urana tak bisa diubah. Anaru jadi ingin tertawa. Andaipun begitu, dibilang orang gila tak masalah baginya. Kenapa ia harus terjebak di dunia novel? Apa kesalahannya selama di dunia? Apakah karena hidup di dunia novel, berarti di masa sekarang Anaru telah mati? Kalau iya, sepertinya perjuangan Anaru dalam mengubah takdir terasa sia-sia.
"Kau belum mati."
Belum mati? Jangan bercanda. Jelas sangat Anaru tak bisa melihat apapun. Ia tak merasakan napasnya sendiri. Yah, kalau ia berkesempatan untuk berharap, Anaru tetap hidup meski di dalam tubuh Urana yang hamil.
Tunggu, siapa dia?
"Pastikan dia diberi makanan dan minuman hangat sampai dia tak merasakan nyeri lagi."
Ia bisa mendengar. Siapa orang itu, tapi Anaru tahu dia dokter atau ahli mengobati manusia. Hmm, otaknya jadi membuat permainan. Pilihlah salah satu. Anaru sekarang berada di tubuhnya yang dulu atau badan Urana?
"Bagaimana dia menemukan orang sekarat ini," tanya pemilik suara berat nan serak khas kakek.
"Di jalan, Tuan."
Jawabannya: tubuh Urana. Ia kembali ke badan tokoh utama novel. Ia ingin buka mata, tapi entah kenapa tak mau menurut kemauannya.
__ADS_1
"Panggilkan tuanmu, Vivian. Biar aku yang jaga dia."
"Baik."
Ayo, Urana! Buka matamu! Satu per satu anggota badan mulai sanggup bergerak, tapi mata tetap tak terbuka.
"Ada apa?" Ada jeda sesaat dalam bentuk ketukan. langkah sepatu. "Bagaimana keadaan dia?"
"Saat ini saya bisa mengatakan dia sedang kritis," jawabnya.
"Tuhan masih menyayanginya," kata pendatang tadi.
"Dan kau datang untuk menyelamatkannya."
Buka matamu sekarang! Butuh banyak tenaga demi bisa buka mata walau perlahan. Samar-samar. Kabur. Ada tiga manusia di samping ranjang. Dua sedang berdiri. Satu tengah duduk.
"Mau tak mau," pandangan Urana mulai tajam: seorang pria berambut pirang dengan poni belah tengah yang cukup berantakan tengah tersenyum getir, "aku harus bilang yang lain untuk memakamkan massal."
"Di daerah mana?"
Namun, wanita jangkung dengan rambut ikal seleher melihatnya. Urana akui, rambutnya yang semerah darah sangat indah dan berkikau.
__ADS_1
"Dia sudah sadar, Yang Mulia." Dia mengumumkannya. Dua lelaki itu melihat Urana yang siuman. Malahan, ada sinar di mata lelaki pirang itu, seakan bersyukur Tuhan masih peduli padanya.
"Nah, dia sudah sadar. Segera beri makanan dan minuman hangat." Kemudian, dia undur diri. Urusannya telah selesai. Namun, tak sedikitpun Urana menoleh padanya.
Mata ungunya menelusuri setiap detil ruangan ini. Tempat asing. Tetapi, mengapa ia merasa aman dan nyaman di sini? Dominan putih. Bila kau amati, akan ada warna emas yang berkilau bila diterpa sinar matahari. Dan entah kenapa Urana merasa ada warna lain yang mempercantik tempat ini meski tak percaya.
"Vivian." Lelaki itu menoleh pada wanita cantik di belakang. "Segera siapkan."
Usai Vivian pergi, tersisa Urana dan dia yang duduk di tempat si tabib----mungkin di sini mereka menyebutnya demikian----merehatkan diri.
"Selamat datang di wilayah Utara, Nona." Dia tersenyum manis. Urana kembali akui, dia sangat tampan dan manis bila berekspresi seperti itu. "Vivian dan aku menemukanmu sekarat dalam perjalanan ke wilayah timur untuk rapat soal krisis ekonomi di sana. Soal warga di wilayah timur...."
"Saya tahu maksud Anda," kata Urana lirih memperpendek jeda di antara mereka. "Saya juga turut berduka cita."
Semua ini salah gue. Ia menyalahkan diri.
"Tidak, ini salahnya."
Urana menyipit sedih akan ucapannya. Begitu ia menoleh, lelaki itu menyimpan murka di balik tatapannya yang menggelap.
"Semua kejadian itu ... pasti salahnya," sambungnya mendesis penuh duka.
__ADS_1
Iya, mungkin ini salah Raie. Sebab Urana merasa tubuhnya ringan. Tak ada yang namanya beban berrnama Raie dalam lubuk hati dan pikirannya. Urana berhak untuk menghirup napas segar, sekalipun berada di wilayah lain.
"Terima kasih." Dan senyum yang terbit di bibir Urana adalah senyum orang paling bahagia. []