Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 1.3


__ADS_3

Gara-gara dia, Anaru harus menerjang angin malam. Mana barusan hujan mereda. Beruntung toko-toko masih buka, masih tampakkan cahaya. Orang-orang tetap ramai berlalu lalang seakan tak peduli dinginnya malam mampu menaruh penyakit. Begitu pun kendaraan yang melaju kencang di jalanan. Mereka tak peduli Anaru menggigil meski pakai jaket. Sepintas ia lihat sajian keik cokelat, menghentikan langkahnya.


Dengan tangan masih berselimut di balik saku jaket, Anaru memandang keik tersebut. Ini kesukaan sang ibu mertua. Mungkin belikan beliau keik dapat mempererat hubungan mereka, mana sebentar lagi Anaru akan menjadi istri anaknya. Ibu mertua Anaru sudah terlampau baik, seperti membiarkannya bayar pernikahan.


"Keik cokelat." Senyum Anaru langsung merekah lebar. "Oke."


Segera ia masuk toko kue yang disambut pelayan dengan celemek putih menutupi pinggang hingga lutut. Riang hati Anaru sebutkan keik yang diinginkan, lantas disuruh menunggu.


Sambil pesanan Anaru dikemas cantik, wanita itu amati sekitar. Cukup mewah dari segi perpaduan warna cat dan furnitur. Tak heran harga produknya juga mahal.


"Nih, buat kamu."


Suara tadi hancurkan imajinasi Anaru tentang makan keik bersama keluarga menantu. Kayak kenal, pikirnya. Namun, ia langsung menggeleng cepat. Tidak mungkin dia mau berselingkuh ketika hari pernikahan sudah dekat. Ini pasti delusi.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, Sayang." Suara bariton yang sama. Apa benar itu nada bicara sang kekasih? Usai pupuk diri dengan keberanian, Anaru melirik sumber suara, tepat di sampingnya.


Delusi Anaru rupanya benar. Dia. Di sini. Bersama. Cewek. Baru.


"Rie?" Sapaan Anaru merebut perhatian dan senyum lelaki itu, sedang si cewek meliriknya dengan polos. Cih, lihat dia dalam beberapa detik saja bikin amarahnya mendidih.


"A-anaru?" Rie berusaha tersenyum manis. "K-kamu ngapain di----"


"Lho?" Raut wajah tak percaya terpatri jelas di wajah selingkuhan Rie. "Jadi kalian----"


"Iya," lagi-lagi Anaru memotong ucapan orang, "rencananya gitu jika gue nggak lihat lo berdua di sini."


"A-anaru, dengarin aku dulu."

__ADS_1


"Cukup!" Anaru menjerit. Semua orang termasuk pekerja toko ini menonton mereka. Air mata telah pecah membasahi pipi. "Gue pergi ke luar kota buat kerja bertaruh nyawa dan sering mikirin pernikahan kita, sedangkan lo? Enak-enakan di sini. Selingkuhan semau lo. Berpikir kalau gue sudah pasti jadi mayat. Itu kan yang lo pikirkan?"


"Nggak, Anaru." Dia mulai melangkah pelan. Jarak di antata mereka semakin pendek. "Sumpah, aku nggak berpikiran seperti itu."


Baru saja dia cengkeram pundak calon istrinya, Anaru langsung tepis sambil menjerit, "NAJIS!"


Semua orang terkejut, termasuk pekerja yang menangani pesanan Anaru. Namun, Anaru sadar kehadiran dia. Segera ia keluarkan uang pas untuk bayar keik.


"Najis banget gue kudu percaya lo." Anaru tersenyum miring. "Tuh, lo ambil keik buat ibu lo. Salam dari gue kalau pernikahan kita dibatalkan."


Anaru angkat kaki tanpa dengarkan penjelasan Rie. Halah, penjelasan palsu! Dia pasti mau selingkuh lagi dan lagi. Dia tak cocok dengan Anaru. Anaru tak butuh dia lagi sekarang.


Hati ini ... terlalu sakit ketimbang air mata yang mengalir sederas hujan.

__ADS_1


__ADS_2