
"Argh!" Urana langsung bangun dengan tangan mencengkeram selimutnya. Matanya melotot horor. Saking marahnya, timbul urat-urat kecil di sekitar wajah Urana. "Gue nggak bisa biarin mereka kelaparan!"
Wanita itu lekas berpindah dari ranjang ke depan pintu, sekadar menguping situasi di luar kamar. Sepi, hanya senandung kecil seseorang yang nyaris tak bisa didengar. Apakah itu Eve? Atau Camile? Yang jelas, mereka bisa diandalkan.
Pintu terbuka memperlihatkan Eve yang terlonjak kaget dekat vas bunga setinggi kaki Urana.
"M-maaf udah bikin kamu kaget, Eve," kata Urana terkekeh sumbang, tak perlu mengulur waktu untuk lancarkan serangannya: pergi ke arah kanan.
"N-nona Urana mau ke ruang kerja tuan Raie?"
Mampus! Langkah Urana terhenti seketika. Mukanya pun pias. Kok dia bisa tahu tujuannya? Wanita berambut pirang itu berbalik kaku, lengkap dengan senyum lebar bak anak kecil ketahuan makan permen sebelum tidur.
"S-saya cuma...." Eve justru makin kikuk ketika dipandang seperti itu. Memangnya raut wajah Urana yang tertangkap basah mirip ibu tiri di cerita dongeng?
__ADS_1
"Tunggu, kamu salah paham, Eve," kata Urana dengan tempo cepat. "Ini tidak seperti yang----"
"Saya hanya memberikan ini!" Eve menyodorkan tumpukan surat kepada Urana sambil membungkuk. Sungguh mengejutkan, pikirnya. Aura panik di wajahnya pun redup. Puluhan surat yang diikat tali rami. Namun yang buat Urana kerutkan dahi: buat apa Eve berikan surat itu?
"Nyonya Vailey bilang tuan Raie sedang ada di ruang kerja untuk semalaman," kata Eve seakan menjawab isi hati Urana. "K-karena desakan tuan besar Shourette langsung. J-jadi, nyonya Vailey manfaatkan waktu dengan menyalin semua surat yang diterima tuan Raie."
"Lalu?" Kerut di dahi Urana belum hilang. "Kenapa ketua pelayanmu susah payah menyalin surat? Lagian, apa itu buat saya?"
Urana tertegun. Vailey melakukan ini semua ...untuk apa? Eve tak tahu apa-apa. Urana tak bocorkan rencananya sendiri pada siapapun. Apakah Count yang menyusun trik demi menyusut tingkat penderitaan rakyat?
Bisa jadi. Beliau terus berharap banyak padanya setiap kali bertemu. Count menginginkan dirinya yang mengendalikan wilayah.
"Saya terima surat buatan Vailey." Dan kini, tumpukan surat tersebut ada di tas selempang berbahan kulit. Perjalanan Urana menuju daerah rakyat semakin dekat. Ia hanya datang dan mengajak semua orang untuk-----
__ADS_1
SYUT!
Kuda yang Urana tunggangi nyaris terbunuh jika ia tak tarik tali tunggang. Cuma meringkik ketakutan, begitu pula Urana yang merasa tak aman. Mata ungunya mulai menggelap, bergerak dengan cepat. Sekejap menyipit tajam.
"Sialan, anj*ng." Urana mau tak mau pecut tali tunggangnya. Kuda berlari sangat cepat, tak peduli menabrak dahan atau batang pohonnya langsung, atau bisa jadi perangkap.
Serangan misterius itu enggan mengalah selagi Urana nekat masuk daerah rakyat sendirian. Anak panah. Pisau kecil. Jarum beracun.
Jadi itu senjata untuk menakuti musuh? Sementara sebelah tangannya menggenggam erat tali tunggang, Urana keluarkan belati di sarung yang melilit pahanya. Urana hanya mampu menangkis serangan yang bisa saja mengenai tubuh kuda.
Ia butuh kuda ini.
"Hampir sampai----" Puluhan tombak muncul tiba-tiba tepat menusuk leher kuda----bahkan nyaris mengenai muka Urana.
__ADS_1