
"ENYAH KAU DARI SINI, RAIE!" pekik seorang wanita berbadan gemuk. Dia membawa pisau daging.
"DI MANA URANA?!" Suara Raie berubah lantang dan berang. Lagi-lagi mereka masih punya banyak nyali.
"KAMI TAK KENAL DIA!"
"DIA TAK ADA DI SINI!"
"Tak ada di sini?" Senjata milik Raie mulai menaruh goresan di leher pemuda selaku sandera. Darah bercucuran. Tubuhnya memberontak hebat. Semakin sering dia bergerak, goresan semakin banyak. "Katakan di mana dia sebelum orang ini mati karena kalian mengabaikannya."
"Kami ... lebih baik mati," kata pemuda dalam cengkeramannya. "Ketimbang harus beritahu di mana dia. K-kalaupun kami tahu dia di mana, jawaban kami tetap sama."
"LEPASKAN DIA!"
Semua orang termasuk Raie dan pasukannya melirik suara itu. Wanita yang Raie cari. Sosok berambut pirang ikal dengan perut sedikit buncit. Dia datang dengan sorot mata gelap. Amarah. Murka. Raie bisa merasakannya.
__ADS_1
"Aku kan yang Anda cari?" Mata bulat perempuan itu menyipit dingin. "Lepaskan."
"NONA URANA!"
"SESEORANG, LINDUNGI DIA!"
Seringai Raie makin lebar seiring ramai yang berteriak sebutkan nama Urana. Matanya kian pancarkan haus darah. Terus. Teruslah teriak hingga suara habis. Sebab wanita ini----Raie yakin----takkan pernah mundur. Dia akan kukuh dengan keputusannya. Dalam sekejap, ujung pedang tajam tersebut menghadap leher jenjang Urana.
"Pulang," kata Raie bernada rendah.
Hmm, berani juga dia.
"Kau pikir selama ini aku ketakutan sampai pasrah mati di tanganmu? Tidak." Urana mundur selangkah. Tangannya jauh lebih cepat menjatuhkan pedang yang melesat ke tubuhnya. Tak sampai situ, kakinya menyingkirkan senjata khas perwira itu kemudian meninjunya. Meski Raie membentuk pertahanan berupa merapatkan lengan bawah depan muka, tapi entah kenapa ia terkejut akan kekuatan Urana.
Tinju dia ... terlalu kuat untuk ukuran wanita, apa lagi Urana dalam posisi hamil.
__ADS_1
"Aku hanya pura-pura takut sedangkan otakku bekerja keras." Dia sudah merebut pedang miliknya.
Sial! Perutnya kembali sakit. Urana mundur tertatih-tatih mengenggam pedang. Berat sekali. Seberapa kuat pria itu sampai membawa pedang bangsat ini berjam-jam? Napas Urana terengah-engah, sedang matanya melirik begitu cepat. Cari. Cari sesuatu yang bisa melindungi Urana tanpa harus pakai benda haram dalam tangannya.
"LINDUNGI NONA URANA!"
"DEMI NONA URANA!"
"DEMI KESEJAHTERAAN KITA!"
Warga berhamburan mengerubungi Raie. Pasukan yang dia bawa lekas turun guna lindungi tuan. Ini kesempatan bagus, pikir Urana. Ia mundur dari kerumunan yang terus mendekati Raie bak semut ketemu gula. Ia harus cari tempat tersembunyi, tapi di mana? Pikiran Urana kacau. Terkadang ia kewalahan bila ada satu-dua prajurit datang menyerang. Tubuhnya lemah sekarang. Pandangan berkunang-kunang. Ada apa dengan dirinya? Urana harus ubah takdir karakter utama. Jika karakter ini ditulis sebagai sosok lemah tak berdaya, maka ia akan ubah sosok Urana jadi wanita kuat. Ya, wanita yang bisa menaklukkan lelaki jahanam macam Raie.
"Berhenti...." Suara Urana sangat lirih, tapi mereka masih menyerang. Beruntung ada warga yang menyadari, lekas minta Urana segera larikan diri.
"Lari, Nona!"
__ADS_1
Baru satu langkah Urana mundur, warga yang menghabisi musuh itu tumbang. Dalam sekejap, Raie muncul menubruk Urana hingga mereka jatuh. Pedang tergeletak tanpa pemilik. Tubuh Urana mati rasa seiring nyeri hebat berkepanjangan di perut.