Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 8.1


__ADS_3

"Aku peringatkan kau sekali lagi, Raie!" Suara Count menggetarkan seisi ruangan luas ini. Dari keramik sampai pilar yang menghubungkan kaca jendela setinggi langit-langit ruangan, terbuat dari marmer. Padahal langit sedang cerah, tapi suasana langsung kelabu bila Count dan Raie muncul berhadapan.


"Jangan sakiti istrimu," sambungnya mengeluarkan urat-urat di sekitar pelipis dan rahangnya. Dalam jarak nyaris semeter, lelaki berambut hitam lepek itu setengah berbalik.


"Apa peduliku?" Gigi Count yang bergemeletuk semakin kuat dan cepat. Lalu tatapan tajam apa itu? Bisa-bisanya dia bilang demikian dengan santainya.


"Dia istri sahmu, Raie!" Count berteriak murka. "Dia juga sedang mengandung. Harusnya kau jaga Urana."


"Dia. Bukan. Istriku," ucapnya penuh penekanan. Andai Count bisa merasakannya, ada aura gelap di balik iris safir Raie. Iris itu mengingatkan Count akan istrinya.

__ADS_1


"Dia istrimu!" Count tentu tak mau kalah, meski pada akhirnya Raie melengos abaikan suara serak pria lansia. "Raie! Jangan pura-pura tuli kamu!"


Apa peduliku! Raie tetap membalas dalam hati. Percuma berdebat dengannya. Count Faer, sosok yang begitu dihormati seluruh petinggi kerajaan termasuk Duke karena kinerjanya dalam mengelola wilayah. Urusan kelola wilayah pun ia bisa. Tinggal perluas wilayah dan memastikan stok makanan tersedia, kan?


Baik ia mengurung diri di meja kerja. Namun, sepertinya mereka tak berikan kebahagiaan kepada Raie secara percuma. Ada puluhan surat dengan cap perekat dari lilin merah mengotori mejanya. Ini mimpi buruk. Ini penyebab Raie sering merasa pusing. Ia benci perkara balas surat. Lantas, dengan langkah berat Raie duduk di kursi tersebut dan memeriksa setiap surat. Tidak semuanya perlu dibalas, kan? Lagipula, untuk hari ini, melakukan hal demikian rasanya jauh lebih baik ketimbang dengar ayahnya membela sundal yang kini jadi istrinya.


Satu surat. Tiga surat. Enam surat. Namun, mata Raie terasa penat. Entah karena isi surat yang inti tujuannya serupa atau ia tak terbiasa melakukannya. Ia bertopang dagu sambil buang napas seperti empaskan beban puluhan kilo, menatap ganjil terhadap meja.


Dan kenapa harus Urana wanita pertama yang terlintas di otaknya? Konsentrasi Raie jadi buyar. Suasana hatinya makin hancur. Dalam sekejap, surat yang tak berdosa itu ia remas sekecil-kecilnya. Bisa-bisanya ia memikirkan wanita semacam Urana, yang nekat keluar istana tanpa seizinnya.

__ADS_1


Ada sedikit rasa iba ketika bayangan Urana yang terjerembap dengan janin di perutnya. Lihatlah wajah Urana, Raie. Tak lagi cantik akibat luka memar dari perlakuannya sendiri.


"PERSETAN!" Entah apa sebabnya Raie pukul meja hingga nyaris terbelah dua. Napas Raie seketika memburu. Tubuh memanas secara instan. Jangan lupakan tatapan gelap yang sering ia tunjukkan pada musuhnya.


Iya, Raie anggap Urana musuhnya, bukan istrinya. Apakah salah?


****


Makan malam berlangsung hening. Tak ada Urana yang mendampingi Raie atau menghibur Count. Para pelayan lebih milih diam di dapur ketimbang perhatikan mereka makan. Hanya denting alat makan. Tak apa, Raie sangat senang. Takkan ada lagi batang hidung wanita yang mengaku hamil anak Raie.

__ADS_1


"Vailey!" Count berteriak usai meneguk secangkir teh favoritnya: teh dengan irisan lemon dan kayu manis. Tak berselang lama, Vailey----dengan rambut putih dicepol asal----datang membungkuk hormat di balik kursi Count. "Panggilkan Urana. Aku benar-benar kesepian tanpanya. Sekalian periksa kondisinya. Jika tak memungkinkan untuk berjalan kemari, beritahu aku."


"Baik, Yang Mulia."


__ADS_2