
Vailey undur diri dan berlari menuju kamar Urana. Makanan telah habis pun, Count dan Raie saling diam. Count dengan sisa teh yang dingin; Raie yang terus mendebat soal Urana di dalam otaknya. Kalau dipikir-pikir, perbuatannya cukup kejam untuk seorang wanita hamil. Apa ia harus minta maaf?
"Maaf, Yang Mulia." Vailey kembali membungkuk di balik kursi Count. Wajahnya terlihat ... cemas. "Nona Urana sedang tidak selera makan, jadi beliau tak bisa ikut makan malam di sini."
"Sudah aku duga." Raie tahu. Count melihatnya saja, rahang dia langsung mengeras. Sorot mata Count amat menusuk, tapi takkan pernah setajam miliknya. "Kau sudah antarkan makan malam untuknya?"
"Sudah, Yang Mulia."
"Hmm, pergilah. Buatkan teh terbaik kalian untuk Urana. Aku takut dia jatuh sakit. Itu membahayakan cucuku."
"Baik."
Count mendesah gusar. Caranya letakkan cangkir ke tempatnya tidak terdengar sangat rileks akan aroma daun kering itu.
"Hari ini juga, kau harus minta maaf, Raie."
__ADS_1
Berdasarkan analisa Raie, ada nada tak ingin dikalahkan dari ucapan Count. Kalau memang dia begitu, ia akan melawan.
"Kenapa aku harus minta maaf?" Dan kenapa aku kepikiran untuk minta maaf pada Urana? pikirnya tak terima.
"Dia memang wanita j*lang yang----"
"Tutup mulutmu atau jabatanmu sebagai Count aku cabut detik ini juga!"
Jurus ampuhnya, sudah ia duga. Raie dapat jabatan itu karena umur sang ayah yang tak sesuai untuk sebutan Count. Count Faer sering lupa. Badannya tak sanggup untuk berperang. Namun, siapa peduli? Malahan, dia terlihat sehat. Tampak seperti manusia berumur 30-an.
Mata Raie seketika membulat dengan urat merah menghiasi sudut bola mata. Ia pasti tak bisa berperang demi luaskan daerah!
****
Mau tak mau, Raie ada di depan pintu kamar Urana. Sekujur tubuhnya enggan bertemu dengan Urana, masuk kamar Urana, atau sekadar ketuk pintu kamar. Buat apa ia minta maaf? Raie tak pernah salah di sini.
__ADS_1
Tutup mulutmu atau jabatanmu sebagai Count aku cabut detik ini juga!
Hah.... Andai pria tua itu tak bilang demikian, mana sudi ia datang kemari. Demi bisa perang dan perluas wilayah, Raie ambil napas panjang sebelum mengetuk pintu.
"Keluar kau," katanya sambil terus ketuk pintu. Tak ada sahutan.
"Kau dengar, sundal?" Kali ini, ia menggebrak pintu tak berdosa. "Buka pintunya! Keluar kau!"
Hening. Tiba-tiba Raie diserang rasa cemas. Separah itukah pukulannya terhadap Urana? Hah, siapa peduli. Amarah menguasai segala dalam tubuh Raie, termasuk jiwanya.
"URANA!" Raie sekonyong-konyong menendang pintu hingga copot. Kekuatan sebesar itu adalah sebagian amarah Raie yang berhasil diusir. Kamar dengan dinding seputih keramik marmer itu tak berpenghuni. Wanita sundal tersebut hilang dari pandangan Raie. Bersih. Hanya ranjangnya yang berserakan akan baju.
Ke mana dia pergi? Sebuah pertanyaan yang sanggup letuskan puncak amarah Raie. Ia serukan nama Urana, persetan sebagian istana akan runtuh karena teriakan Raie. Biar begitu, lelaki bermata biru safir itu merasakan ketukan langkah seseorang.
"Kau!"
__ADS_1