Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 5.5


__ADS_3

"N-nona Urana," Camile langsung genggam tangan sang. putri begitu dekatkan diri, "saya rasa kita harus segera pergi."


"Apa?" Urana memekik dalam bisikan, sedangkan matanya tak lepas mengamati sekumpulan manusia berpakaian kumal. "Aku belum selesai----"


"Mentang-mentang kau putri, kau bisa seenaknya bunuh anakku?" Wanita itu kembali bicara dengan berteriak.


"Apa? Tunggu, kau salah----"


"Ayo, Nona." Camile berusaha mendorong tubuh Urana. Sedikit demi sedikit jarak di antara mereka menjauh, hanya selisih tipis. Dan dorongan Camile bertambah kuat dan cepat kala satu per satu orang membawa senjata tajam.


"Sialan...." Akhirnya Urana beringsut pelan sambil memeluk belanjaannya erat-erat. "Kau sudah bayar?"


"Sudah," jawabnya bergelagat gelisah. "Ayo."

__ADS_1


"BUNUH PARA PELAYAN ISTANA!" Lantas, jeritan wanita yang memeluk anaknya seakan memecut adrenalin masyarakat, termasuk Urana dan Camile yang refleks lari secepat mungkin.


"KE MANA SEMUA PELAYAN?!" tanya Camile yang susah payah mendekap belanjaannya, meski sudah terlambat untuk selamatkan bahan masak.


"MEREKA SUDAH MELARIKAN DIRI, CAMILE!" jawabnya dengan teriakan. Satu per satu pelayan mulai terlihat, sama-sama ketakutan sambil mendekap barang belian. "SEMUANYA! LUPAKAN MAU NAIK KERETA! KESELAMATAN KITA DAN KEBUTUHAN MAKAN JAUH LEBIH PENTING!"


Sementara para pelayan beserta Urana berlari secepat yang dimampu, masing-masing kusir turun dari kereta dan membentuk perbatasan menggunakan perisai. Belati pun tergenggam erat guna menumbangkan rakyat jelata jika sewaktu-waktu menggeliat bak zombi menemukan makanan.


Sedangkan di istana, Count berdiri di depan Vailey----kepala pelayan yang pernah berhadapan dengan Urana. Wanita itu ketakutan melihat tatapan bengis milik Raie.


"Dia. Aib. Kerajaan kita." Tatapan Raie pada Count semakin tajam. Jarak di antara mereka makin memendek. "Urana bukan siapa-siapanya kita selain pe*a**r."


"JAGA MULUTMU!"

__ADS_1


Satu tamparan mendarat di pipi tirus Raie. Suaranya nyaring sekali, sampai para pelayan yang baru datang dengan seragam kotor pun semakin menciut ketakutan. Begitu pula Urana yang terkejut dengan perlakuan Count pada Raie yang notabene anak kandung beliau.


"Sudah sampai rupanya." Raiie langsung menghampiri Urana usai lemparkan tatapan penuh hasrat ingi membunuh. Count sempat mencegatnya, tapi Raie tepis hingga Count terjatuh. Vailey juga tak bisa diharapkan.


Urana hanya bisa siap mental.


Tanpa pikr panjang, Raie langsung menampar Urana sampai jatuh terjerembap. Tendangan bertubi-tubi. Pukulan secara acak. Urana menerima serangan itu tanpa rasa sakit, bahkan dalam posisi belum bangkit. Urana tak bisa bangkit bila harus dihujani pukulan tanpa jeda ini. Tak ada siapapn yang menolong. Count mengaduh kesakitan. Vailey hanya menatap datar. Para pelayan dan prajurit pun merasa segan jika melawan Raie-yang-agung ini.


Semua pukulan dari Raie membuahkan banyak luka lebam di sekujur tubuh Urana pada malam hari Raie sudah menyuruh para pelayan untuk tidak mengurusi Urana. Namun sesuai dugaan, Count selalu ada di pihaknya Beliau diam-diam menyerahkan Camile untuk membersihkan dan diam-diam antarkan makanan.


Kini, tak ada yang mengusik. Mungkin Coount bepesan kalau Urana butuh banyak istirahat. Sangat benar. Tubuh Urana memang serasa remuk dan lelah. Sayangnya, wajah gelisah dan kuru rakyat itu mengusik hati dan pikiran Urana gonta-ganti posisi pun sia-sia. Bayangan tersebut masih mengiang.


"Argh!" Urana bangun sambil mengerang gusar. Kedua tangannya mengepal selimut. "Gue nggak bisa biarin mereka kelaparan!"

__ADS_1


Urana lekas beranjak dari ranjang. Kaki jenjangnya melangkah cepat ke lemari dan membukanya dengan tekad yang kuat. Jangan lupakan semangat yang membara dari balik iris ungu Urana ketika menemukan setelan baju hitam nan ketat


Ia baru tahu kalau tokoh utama yang lemah ini suka mengendarai kuda. []


__ADS_2