
Dulu, Anaru belum tahu seluk-beluk penulis novel idolanya. Anaru hanya ingin luangkan waktu dengan membaca novel, seperti masa sekolahnya. Maka, hari demi hari Anaru sisihkan uang demi beli buku fiksi yang penulisnya saja ia tak terlalu tahu banyak.
Kisah Urana adalah novel pertama yang berhasil ia beli pada masa prapesan, dengan uang sendiri, tanpa harus pinjam pada teman. Betapa senangnya Anaru dapat paket cantik di depan rumah, sampai menjerit "paketku datang!" sambil peluk kotak tersebut.
Kebahagiaan Anaru tak sampai di situ. Sepucuk surat bertuliskan cetak: novel ini akan jadi seri barunya yang terakhir. Bahkan perlahan, Anaru menyukai sosok Raie dalam novel itu.
Raie.... Kalau ia ingat-ingat, karena dialah Anaru susah fokus jalani hidup. Bangun tidur, terngiang-ngiaang perawakannya. Saat mandi kemudian sarapan sendirri, terbayang tatapan tajam Raie walau sebatas kata_kata apik. Dikala kerja sampai pulang dengan selamat, setiap ucapan keren Raie buat otaknya sumpek. Bahkan ia siap tidur pun, pikirannya enggan lepas dari karakter Raie.
Kemudian, ada hari Anaru mengetahui komunitas pengarang kisah Urana. Seketika suasana hati Anaru hancur lebur begitu gabung ke sana. Karya terbaru penulis idola Anaru adalah yang paling tenar----tenar karena pendapat pribadi mereka soal karakter Raie.
"Iw, aku nggak suka Raie!"
"Hooh, terlalu kejam!"
"Cowok b*ngsat kayak dia mah bagusnya di neraka. Haha."
"Lah, emang wilayahnyya Raie kayak neraka. Bwwahaha!"
"Tak p*nggal kepalanya kalau dia gitu terus."
"Urananya terlalu baik sih, makanya enak buat ditindas." Dan ini adalah ucapan tertulis dari Anaru yang entah sejak kapan pasang muka masam.
"Apaan sih nih anak?"
"Urana mah karakternya udah bagus coy, kayak sifat-sifat manusia."
"Eh, kayaknya dia bukan manusia."
"Haha, setan kok gampang banget dibutain?"
Muka Anaru makin merah, makin kecut. Jemari lentiknya langsung bergerak secepat kilat, membalas satu per satu balon chat orang. Mengatakan bahwa Raie adalah raja yang gagah nan perkasa, dengan ekspresi sedingin ucapannya pada semua orang termasuk ayahnya sendiri. Hingga Anaru berharap bisa bertemu sosok seperti Raie. Bisa jadi pelindung, bahkan menjatuhkan mental musuh.
"Fix, ini orang gila."
"Gue sih ogah ya ketemu cowok seanj*ng Raie."
"Lo pengen sama Raie? Mau gue pesanin peti nggak?"
"Haduh, perbanyak doa deh lo, b*ngsat."
Berkat hujatan mereka, Anaru langsung banting ponsel. Benda canggih bertukar jadi puluhan serpihan yang buat siapa saja merasa menyesal.
"Kenapa sih pada hujat babang Raie?" Ia bicara pada diri sendiri, sesekali melirik buku fiksi dengan sampul bergambar sepasang suami-istri kerajaan. "Dia itu keren. Bisa aja kan dia gitu demi lindungi diri sendiri."
Akibat kejadian tersebut, Anaru bersikukuh pada teori gilanya soal Raie. Lelaki itu bersikap keji karena ada alasan. Anaru hanya belum menemukan jawabannya.
Dan kenapa sekarang ia harus berurusan dengan Raie yang ternyata rese minta ampun? Melihat tampang dinginnya di depan mata, Urana malah merasa jijik. Apa-apaan sikapnya itu?
"Tuan Raie, bukankah Anda tak mau buang waktu berhargamu dengan berdiri di sana terus?" Namun, pada akhirnya Urana tetap jaga image sebagai putri mahkota yang anggun.
Jangankan menurut ucapan Urana, bergerak saja tidak. Tatapan Raie padanya semakin menusuk.
"Wanita ****** tak tahu diri bisa bicara seperti itu padaku?"
Seketika Urana membeliak kaget jika tak ingat seperti apa raganya sekarang. Urana hanya sanggup mengerling malas. Ah, betapa elegannya ia bila membayangkan Urana bersikap demikian. Kesampingkan hal itu, Urana sempat lihat semua penghuni istana memasang wajah ejekan. Hah, dasar....
"Duduk, Raie!" titahnya melirik penuh ancaman, mengundang senyum miring di bibir merah Urana. "Maafkan soal anak saya, Nona Urana."
Harusnya lo cambukin tuh cowok b*ngsat sampai nggak bisa gerak! Batin berkata demikian macam cacing kepanasan, tapi Urana tetap mengangguk samar. "Melihat Anda memaksa Tuan Raie untuk duduk bukan suatu masalah besar. Tuan tak perlu minta maaf."
Untuk sesaat, mereka diam ketika satu per satu pelayan menyuguhkan wine berumur puluhan tahun ke dalam cangkir kecil. Semua saling menatap yang sukar diartikan. Lebih tepatnya Urana dan Raie mulai adu tatap. Batin Urana berkecamuk. Kenapa penulis itu bisa gambarkan karakter seburuk Raie? Hah, ia menyesal telah menyukai Raie. Urana lekas buang muka dengan modus makan hidangan utama: sepiring stek sapi.
Setidaknya Urana masih merasa aman karena kehadiran Count alias ayahnya Raie. Sejenak melihat lelaki tua itu. Beliau tampak menikmati sajian dari keluarga Urana yang lebih enak disebut iblis ketimbang manusia.
Salah seorang prajurit berbisik pada Raie. Ada wajah terkejut di sana. Tetapi, Count kembali bersikap seperti biasa. Aduh, perasaan Urana tak enak. Apa Count akan buru-buru pergi? Ia mohon, jangan.
Sekali Count berdeham, semua jadi hening dan mematung. Tak ada yang makan maupun senda gurau.
"Ada baiknya kita bahas masalah Nona Urana dan Raie," kata Count kembali berdeham, mungkin meredakan gatal di tenggorokan. "Nona Urana, kami dengan berat hati mengatakan bahwa pernikahan kalian akan dilaksanakan dua hari lagi."
"Dua ... hari lagi?" tanya Urana dengan tatapan tak terima. Namun, sang ibu malah tertawa.
"Keputusan Anda sangat tepat, Yang Mulia. Saya dengan senang hati menyerahkan Nona Urana secepatnya di hadapan Anda."
Nyebelin banget ini orang! Spontan Urana layangkan tatapan tajam pada sang ibu.
"Saya mohon maaf, Nona Urana." Count kembali bersuara. "Saya tahu ini terlalu mendadak. Anda tak punya persiapan apapun untuk pernikahanmu. Tetapi, bagi saya keputusan tersebut sudah bulat."
__ADS_1
"T-tapi----"
"Kami dengan tangan terbuka menerima kedatanganmu sebagai keluarga Shourette."
Seketika Urana bungkam. Kagum. Terharu. Terlebih senyuman dan rentangan tangan Count. Hatinya menghangat. Untuk pertama kali setelah lama hidup merantau, Urana merasakan hal ini.
Senyuman manis di bibir Urana hanya sekejap, tersadar akan dirinya sedang jalani rapat kerajaan. "Kenapa pernikahan kami begitu cepat?"
"Ah, kamu...." Ada getaran di nada bicara Count. "Ka-kamu mengandung cucu saya di luar nikah."
Betul juga. Urana baru ingat. Di novel pun begitu. Setelah itu, halaman demi halaman adalah mimpi buruknya yang bawa hasrat ingin bakar buku itu, meski merupakan karya penulis idolanya. Tatapan tajam pada sekeliling adalah jawaban atas perumusan masalah di otaknya.
Aku tak mau menikah dengan dia, Ibu!
"Tuan Raie." belaian lembut ini ia sampaikan pada lelaki dingin di samping Count. Senyum manis merekah di bibir merahnya. "Anda bersedia nikahkan saya secara romantis? Ada pesta, acara makan-makan, sampai sesi ucapkan janji suci di pelaminan?"
Dia tetap tak menjawab. Raie hanya bangkit menatap jijik pada Urana, kemudian pergi sendirian. Dalam hati, Urana mencebik. N*jis betul lihat reaksinya. Malahan, Urana ingin muntah sekarang juga. Serius, Urana tak bohong. Ada yang bergejolak tak enak di perutnya, tapi bukan isi makanan yang dalam proses dicerna. Tawa para penghuni istana pun tiada gunanya untuk hibur Urana. Count juga sudah menyusuli anaknya.
"M-maaf." Buru-buru ia beranjak dari kursi sambil lilit perut ramping dan tutup mulut, berniat pergi ke toilet. Namun naas. Baru tiba di ujung pintu menuju lorong mewah yang mengarah ke kamar mandi, tiba-tiba rambutnya ditarik. Urana sempat kehilangan keseimbangan. Cengkeramannya sangat kuat. Urana kewalahan menangani serangan dia.
"L-lepaskan...." Urana hanya sanggup merintih dan menahan mual, sedangkan tangannya melawan pada genggaman seseorang di rambutnya. Bukannya dilepas, cengkeraman dia makin kuat. Dalam sekali tarikan, wanita berambut pirang ini hampir jatuh terjerembap.
Dalam keadaan sedikit sempoyongan, Urana mengusap sumber sakit di kepala. Ia takut beberapa helai rambut mengeluarkan darah berkat jambakan tak manusiawi itu. Seakan tak punya hak untuk bernapas, dia menggenggam wajah Urana.
Ternyata Raie dengan tatapan penuh ancaman. Caranya mencengkeram sekitar rahang Urana seperti ingin hancurkan sesuatu sampai remuk. Bahkan kaki Urana telah tak menapak tanah saking kuatnya dia.
"Kau harus ikut denganku, bagaimanapun kondisinya," katanya penuh penekanan. Sakit sekali macam yang Urana rasakan pada pipinya.
"Saya. Mau. Ke kamar mandi. Tuan." Urana bercakap tak kalah ngerinya. Ia tak boleh lemah di hadapan Raie. Ia harus lolos sebelum masalah semakin besar dan datangkan maut lewat Raie.
Tangan kurus Urana mencoba lepaskan cengkeraman Raie dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tetapi, lagi-lagi Raie buat Urana jatuh tersungkur. Sensasi mual di perut dan dada semakin kuat. Bahkan, satu tendangan mendarat di dada Urana. Refleks ia meringkuk, berharap sakitnya hilang. Tenaga lelaki memang jauh lebih sakit, pikirnya.
"Masih mau melawan?" Suara berat Raie bagaikan serangan tak terlihat: semakin menyakitkan di sumber nyeri. Tetapi, Urana dengan tertatih-tatih berusaha berdiri.
Ia ingin menaklukan cowok br*ngsek macam Raie! Menaklukannya! Walau Urana sudah kehabisan tenaga. Walau Raie masih bertindak kasar dalam membawanya pergi ke wilayah kekuasaan Raie. Dia kembali jambak rambut Urana, tapi kali ini Raie lakukan hal tersebut untuk menyeret calon istrinya sendiri. Urana akui, kekuatan Raie kali ini makin kuat. Kaki rampingnya tak mampu ambil kesempatan untuk mengerem atau bangkit lagi. Dan tangannya tak sanggup lepaskan genggaman Raie.
Tindakan sembrono Raie disaksikan langsung oleh keluarga Urana. Bukannya membantu, mereka malah terkikik keras. Gaya tawa dengan menutup mulut pakai tangan pun tiada gunanya untuk terlihat elegan. Itu. Jauh. Dari. Kata. ELEGAN!
Meski mulut Urana mendesis kesakitan, tapi embusan napasnya menggambarkan kemarahan penuh kobaran api di balik iris ungunya. Suaru hari nanti, Urana yang akan taklukan mereka, keluarganya sendiri. Bahkan ia tak keberatan membunuh b*jingan seperti yang ia lihat. Iya, ia tak keberatan sama sekali.
****
Urana meremas ujung gaun yang sedikit robek. Bahkan ia telanjur bosan bukan kepalang di sini. Tiada percakapan. Tiada orang bercakap yang dapat Urana dengar. Bukan sebab takut ataupun kesakitan, tapi amarah dalam hati masih bergejolak hebat. Tekad untuk menaklukan cowok sebr*ngsek Raie sangat kuat, lantas diam-diam Urana perhatikan sosok di hadapannya.
Cih, lihat dia----berpaling ke jendela yang nyatanya ditutup gorden tembus pandang. Memangnya dia bisa lihat apa selain serangga atau debu yang melayang di udara? Lagian, seragamnya masih bagus, seakan tindakan padanya tadi hanya sebatas usir kucing dengan sekali lempar. Bahkan ekspresi Raie terlihat biasa. Dia kira perbuatannya tidak berdosa?
Kesampingkan hal itu, Urana menyelidik tubuh lelaki yang kelak jadi suami sekaligus iblis dalam hidupnya. Bagaimana caranya kalahkan dia? Raie seperti tiada celah untuk meraih kekalahan. Dari cara Raie mengamati sekitar pada rapat tadi, nampaknya dia----
Buk!
Tiba-tiba perut Urana terasa bergetar dan terdorong menghantam punggung kursi, lantas melirik sumbernya. Entah sejak kapan kaki Raie berbalut sepatu pantofel itu mendarat di perut----yang bisa jadi ada calon buah hati----Urana, tapi apakah masih sempat bereaksi kesakitan?
Semoga sempat.
"Akh!" Urana tambahkan desis dan mengaduh berulang kali dengan nada samar. Matanya menatap nyalang. "Apa yang Anda lakuk-----"
Belum selesai Urana bicara, satu tamparan mendarat di pipi kanan. Tendangan dia makin dalam. Darah memang mengucur dari sudut bibirnya, dadanya memang sesak, tapi sekali lagi: Urana tak merasa sakit. Pikirnya, apa ini karena tugasnya yang cuma meragakan sosok Urana alias karakter dalam novel seseorang?
"Sekali lagi kau melawan, kau akan kubunuh," kata Raie dengan cepat mencekik leher jenjang Urana. "Paham?"
Ogah!
"P-paham...."
Tak berselang lama, kereta yang mereka naiki berhenti. Salah satu prajurit menyerukan kedatangan Raie dan Urana pada Count, begitulah yang ia dengar.
ketika pintu dibuka, Uranaberniiat turun lebih dulu. Namun, cekikan Raie berujung menghempaskan Urana hingga setengah berbaring. Ia hanya mampu tatap punggung Raie yang kian menjauh, berjalan di antara pasukan yang berbaris rapi menggenggam senjata.
Dasar pria sombong! Urana mencebik tanpa suara sebelum keluar dari kereta kencana.
"Selamat datang, Nona Urana!"
Alangkah terkejutnya ia bisa dapat sambutan seperti itu, tepat ketika sepatunya telah menginjak lantai marmer. Urana mematung, semakin erat remasan pada gaunnya yang sama sekali tak mengembang layaknya putri mahkota yang sering ia lihat di film-film. Segaris senyuman lebar terbit di bibir mungilnya.
"Terima kasih atas----"
"Untuk apa kalian sambut dia?" Teriakan Raie menggelegar meski di luar istana. Bangunan megah nan luas itu ternyata tak mengerikan yang Urana kira waktu baca novel. Entah mengapa, kali ini aura bengis Raie buat para prajurit bergetar hingga menular padanya.
__ADS_1
"Bubar!"
"Tetap diam di tempat!"
Sekarang, sensasi gemetar dari barisan prajurit kian kuat. Bulu kuduk Urana meremang gara-gara mereka. Count ada di samping Raie, memberi tatapan mengerikan untuk anak semata wayang. Kalau Urana lihat, mereka berdua sama-sama gagah sih. Dua lelaki dengan selisih umur beda jauh itu terlihat sedang berdebat, sebelum akhirnya Raie layangkan sorot mata penuh ancaman kemudian berlalu.
"Dengar!" Count berteriak lantang. "Selama aku di sini dan masih hidup, seluruh perintah dariku adalah mutlak!"
"Baik, Yang Mulia!" Mereka serempak membalas sambil entakkan kaki sebelah kanan.
"Ah, selamat datang di kerajaanmu yang sekarang." Dalam sekejap, wajah serius nan dingin milik Count bertukar dengan mimik semringah, ambil langkah lebar menuju posisi Urana berdiri. Bahkan kumis putihnya jadi selebar senyuman. "Anggaplah rumah sendiri, Nona Urana Shourette."
"A-ah, iya." Urana segera membungkuk hormat, berusaha terlihat sesopan mungkin. "Terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia."
"Kamu dilarang keras memanggilku seperti itu."
Urana langsung berdiri anggun setelah mendongak penasaran. "Lalu, Anda ingin saya panggil dengan sebutan apa?"
"Ayah," jawab Count menggenggam tangan Urana dan menangkupnya dengan lembut. "Karena sebentar lagi, kau akan jadi bagian dari keluarga kami, Urana Shourette."
Urana tertegun cukup lama, terus terang. Kehangatan dari perlakuan Count menjalar sampai ke hati, menyebar ke seluruh tubuh, menghasilkan banyak hormon yang buat Urana merasa bahagia.
Urana Shourette. Iya, sebentar lagi namanya akan begitu.
****
"Nona Urana." Salah seorang pelayan mengetuk pintu. Pelan sekali. Betuah sangat Urana mendengarnya. Lekas ia buka dan mendapati sosok perempuan dengan pakaian pelayan tengah menunduk. "M-makan malamnya sudah siap."
Namun, sebenarnya sel-sel dalam otak Urana sedang berdebat. Topiknya ialah "Apakah pelayan di hadapan Urana ini gadis atau wanita?" Banyak yang berpendapat bahwa pelayan bertubuh kecil ini masih gadis belia. Bisa-bisanya Raie mau rekrut orang macam dia.
"N-nona Urana?"
Urana terkesiap, kembali pada kesadarannya. Sosok kerdil di hadapannya kian dalam menunduk, bahkan sudah meremas gaun pelayan yang terkadang ingin ia pakai----andai masih ada di dunia asalnya.
"Ah, iya." Wanita berambut pirang itu mencoba bersikap ramah. "Bisa kau tunjukkan jalannya?"
"Te-tentu," jawabnya lebih terdengar seperti cicitan tikus. "Anda sudah ditunggu oleh Sir Faer."
Urana hanya diam dan mengikuti pelayan itu pergi. Lihatlah dia. Pelayan saja bisa berjalan seanggun tuan putri. Sedangkan jiwa dalam tubuh Urana? Yang ia tahu cuma berjalan layaknya tentara. Sekarang pun demikian----mengambil langkah lebar walau pakai gaun piyama dengan rok menyentuh betis.
Tunggu, Urana melihat garis hitam di sekitar leher pelayan. Sial, ini pertanda buruk. Apa jangan-jangan Raie suka siksa perempuan seperti yang ia alami? Tangan Urana lekas mengepal kuat.
"Siapa namamu?"
Langkah pelayan mungil itu melambat.
"S-saya, Nona?"
"Iya."
"S-saya Eve."
Eve.... Akan ia ingat nama itu. "Nama yang bagus."
Bermodalkan jeda di antara mereka, dua perempuan beda kasta tersebut disambut senyum ramah Count Faer. Menyebalkan, Urana susah menyebutkan nama beliau.
"Ah, Nona Urana," beliau tertawa renyah, mengayunkan tangannya, "Kemarilah. Nikmati makan malam kita."
Sayangnya, senyuman dan anggukan yang Urana berikan tak sesuai dengan isi hatinya. Ada raie di sana, sedang menyantap hidangan utama berupa daging sapi panggang dengan kematangan medium. Ah, entahlah. Urana tak terlalu paham dengan tingkat kematangan daging sapi.
Jika di dalam novel Urana selalu duduk di samping Raie, maka kali ini ia mau duduk berhadapan dengan Raie, tentu memerintahkan Eve untuk pindahkan piring bagiannya.
"Makan yang banyak, Nona," kata Count sibuk memotong daging panggang. "Tambahlah sesuka hatimu. Aku ingin calon cucuku bisa lahir dan tumbuh sehat."
"Terima kasih atas perhatian Anda, Sir." Lantas Urana menyantap hidangan utama dengan segelas susu. Itu permintaan langsung dari Count kata Eve.
"Nona Urana." Yang dipanggil menoleh dengan garpu masih terjepit di mulutnya. "Tadi kamu bilang ingin melangsungkan pernikahan secara romantis?"
Kesempatan emas!
"iya, Yang Mulia," jawab Urana tetap bersikap elegan, padahal dalam hati ia pingin ngereog. "Bolehkah?"
"Jika itu kemauanmu, akan aku turuti." Satu suapan daging masuk lagi ke mulut Count. "Lagipula, ini murni kesalahan kami."
"Ini kesalahan kamu, wanita genit!" Gebrakan meja barusan menarik perhatian Urana dan Count. Terlihat Raie menatapnya penuh dendam kesumat. "Siapa suruh kamu terpikat denganku? Barangsiapa yang membuat masalah padaku, dalam beberapa hari akan kubunuh tanpa pandang bulu."
Namun, yang dia ancam justru tenang melahap daing sampai tandas. Ia letakkan peralatan makan begitu Raie pergi. Count sudah berblalu lebih dulu, ingin bersantai di balkon kamar katanya. Maka dari itu, tatapan tajam semakin mempertegas raut wajahnya yang bergemuruh akan amarah.
__ADS_1
"Kau baru saja bangunkan phoenix, Tuan Raie." []