Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 8.3 -9.1


__ADS_3

Raie lekas berbalik dan segerombolan pelayan ada di ambang pintu. Vailey memimpin, sedangkan Eve meringkuk di balik punggung sang kepala pelayan.


"Anda mencari nona Urana?" Vailey menyipit penuh intimidasi. "Sayang sekali beliau pergi karena tak tahan dengan perbuatan Anda."


"Kau...." Raie ambil langkah cepat, teringin menampar Vailey----atau membunuhnya kali ini juga andai kepikiran ke sana. "Jangan urusi kehidupanku!"


Serangan Raie ditangkap teramat mudah oleh Vailey. Raie akui, insting Vailey cukup tajam walau lansia.


"Terlalu lambat," kata Vailey dengan santai. Dia enggan lepaskan cengkeramannya. "Bukan hanya serangan ini, tapi dari awal kau menjabat sebagai Count pun kau tak menyadari bahwa kami tak berpihak padamu."


"Aku sudah menduga Urana pergi atas izin darimu."


"Dari Count Faer yang terhormat." Vailey mengoreksi. "Beliau lebih memilih nona Urana pergi dari sini ketimbang bertahan dalam cengkeraman Anda. Kalaupun Anda mau cari dia, Anda takkan bisa menemukan nona Urana."

__ADS_1


"Dalam namaku," Raie menyentak dari genggaman Vailey dan secepat kilat menodongnya dengan belati, "tak ada istilah 'Raie tak bisa menemukan mangsa'."


"Oh ya?" Wanita setengah abad itu menyeringai. Makin terlihat keriputnya di sekitar bibir. "Aku bertaruh posisiku diturunkan bila Anda bisa menemukan Urana, kecuali kalau nona sendiri yang menghadap pada Anda."


"Kupegang ucapanmu." Senjata tajam di depan leher Vailey pun lenyap. Tangan kekar berlapis besi menepi para pelayan dengan kasar. Sembrono, tapi Raie takpeduli. Langkahnya semakin cepat. Semakin cepat. Bertambah cepat. Bahkan tangannya tambah kuat menggenggam pedang. Ia menyerukan beberapa prajurit untuk ikut menaiki kuda  perang. Pasukan telah siap berangkat dengan senjata tajam.


Urana tak layak dimaafkan, pikir Raie lewat tatapan haus darah. Urana lebih layak menerima hadiah darinya berupa kematian, bukan kebahagiaan atau permintaan maaf.


Episode 9.1


Pasukan serba baju zirah tiba di daerah tandus dan bangunan tak layak huni. Para penduduk hanya melihatnya sekilas sebelum kembali beraktivitas. Entah itu bercengkerama dengan penduduk lain, melakukan transaksi jual-beli, atau sekadar jalan-jalan.


Mereka tak tahu siapa Raie? Baiklah. Ia keluarkan pedang sepanjang setengah meter. Cahaya matahari yang terik membuat pedangnya terlihat berkilau dan menyilaukan mata. Namun, lagi-lagi mereka melihatnya sekilas. Tak minat. Apa mereka tak takut mati?

__ADS_1


"Hei." Seorang pria muda entah sejak kapan berdiri di hadapan kuda milik Raie. Tangannya kotor sekali, berani betul mengelus kudanya.


"Kami tau anda orang yang menggantikan posisi Count Faer," katanya tersenyum lembut, padahal Raie tahu itu senyuman licik. "Tak usah kaget. Orang-orang di sini tak takut pada Anda."


"Begitu?" Ia lekas turun dari kuda dan secepat angin telah mengunci pergerakan pria muda tersebut. Pedang telah berpindah ke depan leher sang pemuda. Tindakan yang menarik perhatian semua orang. Bagus, pikirnya dengan seringai penuh kemenangan. Bapak-bapak; ibu-ibu; bahkan manula yang memiliki semangat anak muda. Senjata tajam berbagai jenis telah mereka genggam.


Golok. Belati. Pisau. Arit. Apapun.


"JANGAN PERNAH INJAKKAN KAKI DI SINI, DASAR PENGHANCUR!" Salah seorang pria berlari dengan tangan siap ayunkan golok pada Raie. Harusnya dia tahu. Dia sedang berhadapan dengan siapa.


Pedang menari indah dalam tangan Raie, sekejap menusuk dada pria itu. Jerit di mana-mana----kebanyakan ibu-ibu.


"Di mana Urana?" Pedang kembali menodong leher sandera, tapi mereka tetap mendekat.

__ADS_1


__ADS_2