Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 6.3


__ADS_3

Hewan yang ia kendarai pun tumbang bak pohon mati, menidurkan Urana dengan keras. Sakit luar biasa kembali menggerogoti perut besarnya.


Plis, jangan sekarang sakitnya.... Urana meringis berusaha bangun, tapi tak sanggup. Ujung-ujungnya ia ambruk, mencoba meredam nyeri.


"Akhirnya tertangkap juga." Dalam penglihatan Urana, satu per satu cahaya oranye mulai mendekatinya. Sekumpulan orang datang dengan senjata tajam seadanya dan obor.


"Pelayan yang menyebalkan tadi," kata pria berambut kusut macam sapu ijuk.


"Kau mau coba bunuh anak saya lagi, hah?" Wanita yang ia temui tadi langsung acungkan golok di depan mata Urana.


"Aku...." Mulut mungil Urana berkata nyaris tak bersuara akibat berusaha bangun dan menyingkirkan golok karatan itu menggunakan belati. "Tak punya banyak waktu untuk bunuh anak yang tidak berdosa."


Namun, yang Urana dapatkan malah sorakan dan sumpah serapah penolakan atas kehadirannya. Mereka menginginkan penghuni istana seperti Urana mati mengenaskan.


Ah, Urana baru sadar. Perubahan kecil pun bisa memberi dampak luar biasa. Khususnya di dunia novel yang ia singgahi. Urana tak kenal dengan adegan ini.

__ADS_1


"KEPALA DESA DATANG!" Seseorang berteriak lantang, entah siapa di antara orang yang mengerumuni Urana. "HARAP MENEPI!"


Orang itu berteriak hal serupa sebanyak tiga kali, mengiringi pria tua dengan pakaian penuh corak----seperti baju adat----dan bandana hitam. Di kedua sisinya terdapat lelaki kekar bertelanjang dada tengah menggenggam obor sebagai penerang.


"Jangan bilang kalau kau penghuni istana Shourette atau...." matanya yang tertelan kelopak keriput itu kian hilang kala menyipit, "kau istri dari Raie Shourette?"


"Harus kuakui tebakanmu benar, Tuan," balas Urana terbata-bata.


"A-aku memang istri tuan Raie yang kau benci. Tapi, kedatanganku kemari bukan untuk membuat kalian makin menderita."


"Bagaimana cara kami memercayai ucapanmu, Nona?"


Lantas, Urana keluarkan hasil karya Vailey untuk diperlihatkan kepada mereka. Alis puti sang kepala desa itu bertaut.


"Surat-surat ini, salah satunya berisi keluhan kalian mengenai keadaan wilayah," kata Urana terengah-engah. "Krisis ekonomi, kejahatan di mana-mana, dan jarangnya seorang pemimpin wilayah yang patroli untuk mengetahui apa yang rakyatnya butuhkan."

__ADS_1


Mata Urana makin sipit ketika sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya yang mendesis samar: "Itu kan yang kalian inginkan? Bahkan salah satu pelayanku berkata kalau pertahanan wilayah ini dilakukan para bandit."


Dia mendelik. Mematung. Semuanya tertegun. Tetapi, kepala desa segera bersikap normal layaknya seorang pemimpin. "Kau sungguh ingin mengabulkan keinginan kami, Nona?"


"Iya. Aku adalah orang yang dipercaya Count Faer. Jadi, berikan aku waktu seminggu untuk mewujudkannya." Urana kembali coba bangun, tapi asilnya nihil. Malah rasa sakitnya makin parah.


"Apakah dia bisa dipercaya, Tuan?" tanya seorang pria kekar di samping kepala desa. "Maksudku, dia----"


"Aku rasa begitu," selanya tersenyum lembut ke arah Urana. "Aku percaya Count Faer. Jika beliau memercayai wanita ini untuk sejahterakan wilayahnya, kurasa aku boleh mencobanya."


"B-baik, Tuan."


Sayang, semua ucapan kepala desa tadi tak terdengar oleh Urana. Ia hanya menangkap kepala desa berucap, "Kita rayakan kedatangan nona ini!"


Ah, sorakan yang menyakiti sekujur tubuh Urana, pikirnya sebelum layar hitam menguasai penglihatannya.

__ADS_1


Apakah pengubahan takdir Urana hanya sampai sini? Entahlah. []


__ADS_2