Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir

Urana: Dan Pembalasan Dendam Terakhir
Episode 1.4


__ADS_3

Sudah ganti tanggal, tapi Anaru tak kunjung puas menenggak kaleng bir ke sekian, duduk bersandar di kulkas yang dingin. Mata berat. Tubuh panas. Semua anggota badan meronta mau tidur. Namun, hati dengan egoisnya menguasai tindakan wanita berumur 30-an itu. Jika nyeri masih berkecamuk hingga alirkan banyak air mata, Anaru tak boleh berhenti tenggak minuman haram. Persetan Tuhan akan mengutuknya jadi batu. Masa bodoh besok Anaru akan mati.


"Sialan!" Anaru melolong sebelum sambung minum bir hingga titik penghabisan. Ia taruh kaleng kosong dengan sekali hentakan. "Sialan lo, anj*ng!"


Sayang, tak ada yang mendengarkan seluruh emosinya. Di ruangan kecil ini, hanya terisi isak tangis seorang perempuan yang baru saja dicampakkan. Cegukan mulai menyertainya.


"Bisa-bisanya lo selingkuh pas gue lagi kerja," katanya di sela cegukan parah. Tangannya dengan mudah meremukkan kaleng bir kosong. "NYEBELIN LO, ANJ*NG!"


Spontan Anaru lempari kursi dengan sampah besi. Tangisnya makin menjadi. Ia rela jambak rambut meski nanti rontok dan berdarah. Ingin sangat menghancurkan apa saja demi buat hatinya tenang. Namun, apa? Tidak mungkin barang kesayangannya.

__ADS_1


Perlahan, tangis histeris berubah sesenggukan. Mata jadi sipit saking lamanya ia tumpahkan air mata demi sosok yang kelakuannya setara dengan tahi kucing. Pengecut sampai orang menatap kecut padanya.


Batin dan benak saling berargumen. Kenapa ia harus tersiksa seperti ini? Supaya dia sadar? Menyesal? Minta maaf? Kemudian memperbaiki hubungan demi bisa ucapkan janji suci di pelaminan? Anaru mulai tertawa sinting.


"G*blok banget gue." Ia mencemooh diri sendiri, menyisir rambut yang basah karena keringat dan air mata menggunakan tangan. "Nangis demi si anj*ng. Nggak ada gunanya."


"Kenapa gue mengharapkan dia kembali?" Lalu, Anaru tertawa singkat dari senyum miring. Kala buka mata, objek pertama yang ia lihat adalah sebuah kotak bahan kardus yang diikat tali rami. Sebagian besar telah basah akan hujan. Seketika senyum Anaru pudar, lekas ambil paket yang ditinggalkan demi orang tak tahu diri itu.


"Sori...." Ia berkata lirih di setiap usapan lembut pada permukaan kardus. "Harusnya gue masukkan lo ke dalam dulu."

__ADS_1


Entah magis apa yang terkandung di dalam kardus, tapi senyum dan tatapan Anaru balik selembut biasanya.


"Saatnya gue baca kisah lo, Urana." Lekas ia masuk menutup pintu, menikmati halaman demi halaman buku.


****


Adzan subuh berkumandang. Mustinya kita awali pagi dengan syukur dan memiliki hati damai serta pikiran dingin. Namun, Anaru telanjur sakiti diri sendiri. Sudah tubuh panas akibat minum banyak bir, menangis selama dua jam lebih, kini otaknya bisa ngebul berkat akhir novel kegemarannya. Pustaka bervolume tebal itu ia lemparkan ke cermin. Sekeping kaca besar di lemari tersebut sekarang terbelah berkeping-keping, siap melukai siapa saja yang memungut mereka.


"Gini amat akhirnya!" Makian keluar dari bibir indah Anaru. Tarikan napasnya berpacu kasar.

__ADS_1


__ADS_2