
"M-maafkan saya!" Eve semakin menunduk Pundaknya tampak jelas bergetar hebat. Yep, tatapan horor dari Urana adalah jurus pamungkas bagi lawan seperti Eve.
"Izinkan aku membersihkan ruangan Raie," kata Urana masih dengan mata melotot. "Sebagai gantinya, aku akan----"
"Saya mohon undur diri, Nona Urana!" Perempuan bergaun hitam putih itu lari secepat kilat, meninggalkan ember berisi penuh air. Akan tetapi, Urana dengan wajah polos hanya mematung menatap ember.
"Kayaknya aku terlalu berlebihan deh."
Dan yang terpenting setelah Urana masuk ke ruang kerja Raie dengan ember dan lap kering, kesempatan ini tak boleh ia sia-siakan! Ia harus mengambil surat-surat tersebut sebelum Raie datang!
****
Sesuai yang mereka gosipkan, Raie baru pulang bersama sisa prajurit yang bertahan. Cukup mengherankan bagi Urana. Orang menyebalkan seperti Raie bisa selesaikan pertempuran tanpa berikan kesempatan pada lawan untuk menyerang kawasan ini. Dia dan pasukannya berlumuran darah, bahkan beberapa dari mereka jatuh pingsan ketika tiba di istana. Begitulah yang Urana lihat dari jendela kamar.
"Padahal lo bisa rebut wilayah musuh lewat negosiasi," celetuk Urana melengos keluar kamar. Hari ini, Urana sedang malas kenakan gaun cantik. Meski sudah dibujuk banyak pelayan yang ia kenal, Urana tetap pergi menuju ruang makan dengan setelan gaun piyama dan rambut kusut yang tergerai.
__ADS_1
Karena Raie sendiri tiba di sana dengan seragam penuh noda darah.
"Selamat pagi, Ayah." Urana duduk di samping Count. Beliau asyik memilah beberapa surat. Sepertinya cukup berat dalam memutuskan balasan yang sesuai untuk selembar kertas itu. "Cukup sibuk? Mau saya buatkan teh hijau?"
"Tak usah," jawabnya menatap lembut padanya. "Aku sudah minta Camile menyiapkan sarapan, sekalian buah untuk pulihkan kesehatanmu."
"Ah, baiklah." Kali ini, Urana tak bisa paksakan kehendak. Cih, andai saja kemarin Raie tidak berlaku buruk, mungkin sekarang ia bisa buatkan sarapan untuk Count.
"Dan Raie," Count segera menengok putranya yang menatap dingin. Betapa kerennya beliau tetap bersikap santai menyodorkan secarik kertas kepada Raie. "Untuk pekan depan, kegiatan yang diselenggarakan wilayah barat akan diwakili Urana."
Ha! Mata Raie yang melotot adalah kenikmatan hakiki bagi Urana! []
"Untuk pekan depan, kegiatan yang diselenggarakan wilayah selatan akan diwakili Urana."
"AKU TAK SETUJU!" Raie langsung gebrakan meja, tanpa pedulikan Count yang sesak napas dan pelayan yang bergidik ngeri dalam tundukan. Sedangkan Urana tetap duduk dengan tenang.
__ADS_1
"Kenapa harus dia yang datang ke acara itu?" tanyanya sewot. "Dia bukan siapa-siapanya kita."
"Dia adalah menantuku!" ucap Count mengoreksi. Tatapan tajamnya mengikis nyali Raie. "Urana menikah denganmu, Raie. Maka dia sudah jadi anakku sendiri, menjadi bagian dari keluarga Shourette."
"Tapi, Ayah----"
"Kau membantah, kuturunkan tahtamu!" Suara lantang Count semakin ciutkan semua penghuni ruang makan, begitu pun Urana di sebelahnya. Meski serak karena dimakan usia, aura seorang Count sangat mencekam bila marah. Pada akhirnya, Raie kembali duduk dengan tatapan tajam menusuk mata Urana. Beruntung ia telah layangkan wajah angkuh. Rencana yang ia susun menggaet Count supaya berada di pihaknya.
"Lagipula, memangnya kamu mau ikut acara minum teh?" tanya Count melirik Raie penuh jahil. Pikir Urana, ternyata beliau suka bercanda. Hidangan pagi pun tiba. Hanya Raie yang enggan makan.
"Tentu saja aku tidak mau," jawabnya malas. "Tapi, aku juga ada urusan penting dengan raja wilayah itu."
"Benarkah kamu mau menghadiri urusan tersebut?" Ada nada meremehkan di balik pertanyaan bernilai kurang yakin itu. "Atau bisa saja kamu nyatakan perang lagi?"
"Hanya dengan perang aku bisa dapatkan wilayah musuh."
__ADS_1
"Dasar maniak perang." Count berdecak kesal sebelum melahap satu suap roti panggang bertabur gula. "Padahal ada cara mudah, kau malah ambil jalan susah."
"Terserah kau memanggilku apa, Yang Mulia." Sambil menekankan dua kata terakhir untuk Count, Raie bangkit dari kursinya. "Untukku, cara kerja sama dan negosiasi wilayah pasti ada campur tangan dari orang paling berada."