VAGRANT

VAGRANT
Sepasang sahabat dan Keluarga Pencuri


__ADS_3

Pesan Qi Yuan sederhana, tapi bukan berarti mudah dijalankan. Qi Ling mengingat pesan wanita tua itu hingga detik ini. Dia sanggup menyimpan banyak kenangan tapi dia mengingat pesan Qi Yuan karena pesan itu mengikat sebuah janji. Janji, Qi Ling tidak pernah mengiyakan janji kepada siapa pun. Janji adalah setan dan malaikat, sulit dibedakan. Yang bisa berjalan di antaranya adalah mereka yang bisa menggenapi janji. Tapi Qi Ling bukan manusia yang sejenis itu.


Pesan Qi Yuan kepada Qi Ling sebelum pergi berperang adalah, "Lindungi Qi Feng. Lindungi dia, dan bawa dia kembali kepadaku." Qi Yuan meminta Qi Ling untuk membawa Qi Feng, yakni sepupunya, pulang ke Desa Shengcun, Kabupaten Yuanyang, Provinsi Yunnan dengan keadaan sehat sejahtera.


Qi Ling pun mencoba untuk menetapi janji tersebut. Dengan tubuh yang sudah dipenuhi oleh luka besit, ia melewati ratusan mayat yang tertidur pulas diatas tanah.


Mendengar suara isakan kencang dari salah satu tubuh yang sedang terbaring, Qi Ling pun langsung mendekatinya. "Qi Feng!" Panggil Qi Ling.


Lelaki bernama Qi Feng itu menoleh, lalu memperkencang tangisannya. "Qi Ling! Kukira kau sudah mati!"


Qi Ling tersenyum, lalu mengulurkan tangan panjangnya pada pria tersebut. "Bisakah kau berjalan? Kita akan pergi sekarang."


Qi Feng menggoyangkan kepalanya kearah samping seolah menolak. Sambil terus merengek seperti bayi, ia menerima uluran Qi Ling.


Tangan kiri Qi Feng memeluk leher Qi Ling. Dengan tertatih, mereka berjalan bersama-sama, keluar dari zona pertarungan.


"Apakah hanya ini nilai kita?" Tanya Qi Feng yang sedang buang air besar diatas rumput. "Kita meninggalkan Shengcun untuk mensejahterakan nama keluarga kita. Mungkin menjatuhkan satu atau dua jendral. Tapi... lupakan soal musuh. Satu-satunya benda yang kita potong adalah rumput untuk membuat jalan."


"Kita malah diberikan sebuah Pisau bukan sebuah tombak. Dan sekarang kita ada di pihak yang kalah." Imbuh Qi Feng.


Qi Ling duduk diatas batu, sedari tadi hanya diam mendengarkan segala celotehan omong kosong yang keluar dari mulut Qi Feng. Lelaki cengeng itu tidak pernah berhenti bicara. Saat-saat ia berhenti berbicara adalah saat-saat ia memikirkan calon istrinya, juga saat-saat ia fokus pada kotorannya yang ingin keluar.


Suara derap kaki kuda dari arah belakang pohon yang disenderi oleh Qi Ling membuat Qi Ling menyadarinya lebih dulu dibandingkan Qi Feng. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menikam pasukan musuh dengan pedang yang ia pungut dari beberapa hari lalu.


"Qi Ling, ada apa?"


"Tidak apa-apa."


Melihat pakaian Qi Ling yang dibasahi oleh bercak darah segar, Qi Feng pun sadar kalau sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi.


Qi Ling berbeda dengan Qi Feng. Lelaki itu tidak tinggal dirumah yang berisikan orang-orang berada. Dia tinggal di sebuah gunung selayaknya hewan, bahkan dia lebih sering memburu daripada pemburu desa mereka sendiri.


Qi Ling adalah seekor monster.


"Sudah selesai, kan?" Tanya Qi Ling.


Alis tebalnya yang runcing, serta gaya tatapnya yang seperti mahluk liar, sering kali membuatnya terlihat mengerikan dimata banyak orang. Dengan kikuk, Qi Feng mengangguk.


Mereka pun kembali berjalan dengan tangan kiri Qi Feng yang masih perlu memeluk leher tegap Qi Ling. Keduanya sudah terlalu kelelahan.


Dua hari telah mereka jalani bersama, namun tidak ada satu desa pun yang dapat mereka jumpai.


Hasutan putus asa mulai menghantui Qi Feng. Ia mulai berpikir kalau mati disini lebih baik daripada terus berjalan dan mati dikemudian hari.


Ia melirik wajah Qi Ling. Setelah semua yang mereka lalui, lelaki disampingnya itu seharusnya lebih kelelahan dari qi Feng, tapi apa-apaan wajah itu? kenapa dia masih bisa tersenyum? kenapa matanya berbinar-binar? Kenapa harapannya untuk hidup masih lebih besar dari pada Qi Feng?


Merasa kesal, Qi Feng pun meraung. "Tidak mungkin aku akan mati, aku adalah Qi Feng!"

__ADS_1


Qi Ling menolehi Qi Feng, lalu meneriakkan hal serupa. "Aku juga takkan mati! karena aku adalah Qi Ling!"


Mereka tertawa bersama, namun perut yang sakit karena menahan lapar tidak membiarkan mereka senang begitu lama. Mereka kembali di pukul oleh kenyataan bahwa mereka masih belum selamat. Walau ada lapangan luas, tidak terlihat ada satu desa pun yang dapat di tinggali untuk sementara waktu.


"Area ini dibanjiri oleh mayat dari pertarungan 4 hari yang lalu." Ucap Qi Ling.


Kepalanya terasa ringan, matanya mengantuk berat. Badannya pun terhuyung jatuh kedepan, menimpa salah satu mayat.


Qi Feng yang sudah lebih dulu tak sadarkan diri hanya diam, bersender pada pohon cemara yang menjuntai tegak lurus keatas.


Seorang perempuan kecil, dengan pakaiannya yang rapi, juga rambut hitam yang terpotong seleher, terlihat sedang meratapi Qi Ling dengan kedua mata bulatnya yang memiliki pupil lebih terang dari manusia biasanya, i lalu berlari entah kemana, meninggalkan Qi Ling sendiri disana.


...----------------...


Gemercip suara burung pipit di pagi hari membangunkan Qi Feng dari tidurnya. Benda pertama yang ia lihat, bukanlah benda terakhir yang ia lihat sebelum terlelap. Ia melihat sebuah atap yang meneduhkan mata, juga bantalan empuk di kepala mereka. Qi Feng tambah yakin kalau ada seseorang yang telah menyelamatkan nyawa mereka.


"Qi Ling... kita dimana?" Tanya Qi Feng.


Qi Ling duduk, dan menyengir lebar. "Entahlah, yang terpenting... kita selamat."


Ya. Mereka tentu selamat. Setelah beberapa langkah penuh tekanan yang mampu menghancurkan tekad kehidupan seseorang sekalipun, mereka selamat. Tertidur dan terbangun seakan akan hari kemarin adalah hari yang indah.


Suara pintu bergeser membuat kedua orang itu menoleh ke bawah telapak kaki mereka masing-masing. Seorang perempuan cantik datang membawa sebotol minuman keras. Dengan bibir merah erotisnya yang menohok, ia menatap mereka semua dengan tatapan sayu.


"Ah, apakah anda yang menyelamatkan kami?" Tanya Qi Feng yang seketika mengerjap dari tidurnya dan terduduk dengan sopan.


"Hei, jaga kata-katamu, Qi Ling!" Tegur Qi Feng.


"Dia adalah anakku." Sahut Wanita itu. "Kalian sudah tertidur selama 3 hari penuh. Menetaplah sampai kalian benar-benar pulih."


Qi Feng kembali bersujud. "Terimakasih, nona."


"Panggil aku Yue. Chen Yue." Pintanya. "Yuna, tolong bawakan 3 cangkir."


Seorang gadis dengan mata terang yang sama seperti pada malam itu, datang menghampiri Yue, membawa tiga buah cangkir yang telah diperintahkan. Dia adalah gadis yang Qi Ling lihat sebelum tertidur. Chen Yuna, dia adalah perempuan yang menyelamatkan nyawa mereka.


Yuna menaruh ketiga cangkir tadi keatas meja kayu rendah, lalu Yue, si ibu menuangkan sebuah cairan pemabuk bernamakan Baijiu keatasnya, dia mempersilahkan Qi Ling juga Qi Feng untuk menyantap minuman itu kapanpun mereka mau.


"Terimakasih." Ucap Qi Feng, sebelum mengambil cangkir itu dan meminumnya penuh nafsu. Qi Ling menyilangkan tangannya didepan dada, sama sekali tidak berkenan untuk menyentuh cangkir tersebut.


"Tidak diminum?" Tanya Yue.


"Tidak. Kita akan segera pergi setelah si dungu mabuk." Jawab Qi Ling, mencibir kearah Qi Feng.


"Ah, kenapa di buru-buru?" Tanya Qi Feng, dengan mata lebarnya yang berkerut.


"Benar. Kenapa di buru-buru? kalian ini buronan, loh." Sahut Yue.

__ADS_1


"Buronan?" Ulang Qi Feng.


"Ya. Aku mendengar kabar kalau mereka masih mengincar pasukan buronan karena jenderal pasukan selatan masih belum tertangkap." Terang Yue. "Salah satu dari kalian harus menikahi Yuna dan tinggal disini untuk selamanya."


"Manakah yang kau mau, Yuna?" Tawar Yue. Yuna lalu menatap Qi Ling cukup lama, dan setelahnya berpindah pada Qi Feng.


"Uhh, tidak! aku tidak bisa!" Celetuk Qi Feng yang sudah mabuk. "Aku sudah punya--"


"Kau terlalu percaya diri." Potong Yuna, sebelum kabur dari ruangan itu.


Yue sang ibu memandangnya picik, lalu berkata, "dia selalu menolak dewasa."


...----------------...


Serangga yang berisik mengisi keheningan hutan dengan teriakannya yang nyaring. Qi Ling datang membawa keranjang jerami dan mulai mencabut sepotong jamur satu persatu secara acak.


Lima jemari mungil masuk kedalam keranjangnya, dan merebut jamur-jamur yang sudah ia petik, lalu dibuang kesembarang arah. Lelaki itu pun reflek melemparkan tangannya dan ketika sudah setengah jalan, ia menyadari kalau pencuri itu hanyalah Yuna.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Qi Ling.


"Jamur merah." Jawab Yuna. "Jamur panther. Beracun, juga mematikan... kau mencoba untuk membunuh kami, Qi Ling?"


Seekor tupai memakan kacangnya dengan lahap diatas ranting. Gemuruh angin meniup pepohonan dengan kasarnya, menimbulkan suara gemerisik yang berisik.


Qi Ling berjongkok diatas tanah, memperhatikan seluk beluk dari sebuah jamur dengan seksama. Alisnya berteru, bibir tebalnya semakin berjarak setiap kali Qi Ling membolak-balik jamur ditangannya.


Yuna dibelakangnya, berdiri, diam memperhatikan. Ditangannya, dia menggendong sebuah keranjang jamur yang tadi dibawa oleh Qi Ling. "Kenapa kau tidak menanyakanku pertanyaan apapun?" Tanya Yuna, memecah kesunyian diantara keduanya.


"Hm? tentang apa?" balas Qi Ling.


"Tentang bagaimana kita bisa mencari nafkah." Jawab Yuna. "Juga umurku, dimana ayahku, kenapa aku tinggal di pegunungan bersama ibuku, kenapa aku memakai gelang dengan lonceng yang terikat..."


"Aku bukan Qi Feng." Balas Qi Ling, lalu kembali memperhatikan jamur kecil dihadapannya. "Berapa umurmu?"


"15."


"Badan yang cukup kecil untuk anak seumuranmu." Celetuk Qi Ling.


"Berisik. Memangnya kau umur berapa?" Balas Yuna.


"17. Begitupun Qi Feng." Jawab Qi Ling, sebelum mencabut jamur itu dan memasukannya kedalam keranjang.


"Kukira umurmu 30 tahunan." Ledek Yuna.


Qi Ling mencibir, dan setelahnya berjalan pergi untuk mencari jamur yang lain. "Oh, ya. aku ada pertanyaan." Ucap Qi Ling. "Apa yang kamu lakukan? dimalam kamu menyelamatkan kami... di area penuh mayat?"


Yuna bergeming, lalu tersenyum. "Kami adalah pencuri." Jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2