VAGRANT

VAGRANT
Pengendali Ruang dan Waktu


__ADS_3

Hutan neraka adalah hutan yang dipenuhi oleh energi jiwa, sama seperti pulau abadi. Mereka memperkuat seluruh penyihir/Apotheosis yang datang, membuat segala pertarungan diatasnya menjadi pertarungan yang sangat dahsyat.


Setelah berjalan cukup lama, melewati pohon Angsana yang berbaris renggang di jalan setapak, akhirnya Silver beserta You Ming tiba ditempat tujuannya.


Seorang pria muda, duduk diatas batu besar dengan satu lutut yang menekuk. Punggungnya bersandar pada pohon tua, cairan hitam mengalir deras dari mata dan mulutnya.


"Tn. Tyrael, ada yang ingin menemui anda." Sapa You Ming, lalu bergeser, mempersilahkan Silver untuk berjalan mendekat.


"Apakah aku bisa mempercayaimu, Silver?" Tanya Tyrael, terbatuk-batuk.


Silver menunduk, lalu berkata. "Tidak, tidak sedikitpun."


You Ming tersentak, ia merasa sedikit kecewa pada teman lamanya itu. Sementara Tyrael, dia hanya menertawakan keluguan Silver. "Andai kau membawa Yin Chen bersamamu, lelaki itu lebih rela melakukan apapun demi kebenaran. Demi mengikuti jalan tuhan! Dia adalah Apotheosis sejati, bukan seorang budak buta bagi para malaikat."


"Waktumu sudah tidak banyak. Sudahi basa basinya." Tegas Silver. "Kau tahu apa mengenai kebenaran Gilgamesh?"


"Kau ingin tahu mengenai hal itu... setelah berkata bahwa aku tidak bisa mempercayaimu, bahkan setitikpun?" Tyrael kembali tertawa, namun kali ini dihentikan oleh batuk darahnya yang semakin parah. Cairan berwarna hitam terus keluar dari mulutnya. Tyrael pun mati tanpa memberikan jawaban pada pertanyaan Silver.


Tubuh fisiknya pun secara perlahan sirna, meninggalkan arwahnya yang terkurung di dunia ini.


"Aku akan pergi menemui Yin Chen. Hanya dia yang bisa aku percaya." You Ming pamit, meninggalkan Silver sendirii di hutan neraka.


...----------------...


Seorang lelaki terlihat sedang berdikari. Dengan tubuh yang dibasahi oleh darah, ia menggendong seorang perempuan yang kehabisan tenaganya.


"Ling..." Bisik Eunchae.


Ling tersenyum, lalu merapikan helai rambut Eunchae yang menghalangi paras cantik perempuan itu. "Tidurlah, kita sudah aman sekarang." Bohongnya.


Mereka telah sampai didepan gerbang gaib. Namun disana, mereka kembali menemui sebuah masalah. Sebab, diantara dua gerbang gaib itu, hanya ada satu gerbang yang benar dan satunya lagi merupakan gerbang kematian.

__ADS_1


Perdebatan pun terjadi diantara Ling dan Feng Lian. Ling, dia rela menjadi tumbal untuk keselamatan Eunchae dan Feng Lian. Tetapi Feng Lian, dia menolak teguh karena perasaan pribadinya sendiri. Dia tidak ingin berhutang budi pada siapapun, terutama berhutang budi kepada seseorang yang sudah mati.


"Maafkan aku, Feng Lian. Tapi ini juga demi keegoisanku sendiri. Tolong, jaga Eunchae." Ling memohon, setelah menaruh Eunchae diatas tanah dengan lembut. "Kematianku tidak akan menjadi hutang bagimu, karena aku melakukan ini demi kebenaran yang aku percayai, bukan karena kalian."


Feng Lian bergeming, meratapi kepergian lelaki itu.


Ia lalu menggendong Eunchae selayaknya tas, dan pergi menuju pintu yang berbeda dengan mata yang terpejam.


"Eh?" Suara seorang lelaki membuatnya kembali membuka mata.


"Ling?"


"Kenapa? Kenapa kau masuk kepintu yang sama?!" Tanya Ling, penuh emosi.


"Tidak, Ling. Aku pergi ke pintu yang berbeda!" Balas Feng Lian.


"Tapi kenapa--"


"Berdiri dibelakangku!" Titah Ling.


Kedua tangannya menggenggam gagang pedang dengan erat. Dia sedang bersiap-siap untuk menebas seluruh pasukan itu, berharap mampu memenangkan pertarungan ini tanpa luka fatal.


Ling meraung kencang, membuat bahkan pasukan kematian pun tercengang. Mereka secara perlahan berhenti karena mereka ragu. Ragu, keraguan muncul karena rasa takut akan kegagalan. Mereka takut pada mangsanya, mereka takut pada Ling si setan dari selatan.


"Rrraaa!!" Ling maju tanpa kenal takut.


Saat Ling hendak menebas salah satu dari mereka, waktu terhenti dan terkurung dalam satu moment.


Seorang pria muncul entah dari mana, dan ia berdiri di hadapan Feng Lian dan Eunchae.


"Kau..." Feng Lian dan Eunchae yang tidak terkena dampak dari sihir itu, kini tak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


"Tetap di belakangku. Kalau kalian benar ingin pulang kedunia manusa, tetap di belakangku." Ujar Vaas, si Apotheosis peringkat 4.


Mereka pun berjalan bersama-sama, mendekati tubuh Ling yang sedang terkurung di dalam sebuah area sihir.


Vaas memasukkan tangan suci nya kedalam area itu, lalu menarik tubuh Ling keluar dari sana.


Ling melanjutkan ayunannya, lalu mendapatkan efek kejut karena semua yang terlihat sangatlah berbeda dalam satu detik.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ling. Kepalanya pusing.


Vaas membersihkan tangannya dari bekas darah yang ada dipakaian Ling, lalu menjawab, "Silver sedang menunggumu didunia manusia."


"Silver?"


Vaas menjentikkan jari lentiknya, dan mereka pun kembali berpindah ruang dalam sekejap mata.


"Ling, Eunchae." Panggil Silver, lalu berjalan mendekati mereka berdua.


Setelah mendengar cerita dari Ling dan teman-temannya, Silver dan Vaas merasa heran karena kedua gerbang yang seharusnya memiliki tujuan berbeda tersebut kini sama-sama berujung ke tempat kematian. Padahal, Silver dan Vaas tahu persis kalau tidak ada satu orang pun yang bisa memanipulasi gerbang gaib selain Vaas sendiri.


Tidak hanya itu, Ling dan Feng Lian ternyata mendapatkan sebuah pesan yang sama, dimana masing-masing Apotheosis yang mereka ikuti memerintahkan mereka untuk mengambil rantai kebangkitan sebagai Hocrux-nya.


Pesan itu seolah sengaja dibuat untuk memprovokasi mereka berdua, padahal pesan tersebut diketahui bersumber dari para Malaikat yang kemudian diteruskan oleh Caius, si Apotheosis peringkat 2. Karena hal itu, lalu muncullah kecurigaan jika Caius lah yang sudah memanipulasi pesan tersebut.


Silver kemudian mengusulkan untuk segera menyusul Caius, Red, dan Ne Zha ke pulau abadi, sebab mereka sedang memburu You Ming disana yang diketahui sedang berusaha mencari keberadaan Sefirot, Apotheosis peringkat 7, bersama dengan Yin Chen.


Sudah hampir setahun penuh Ling tidak bertemu dengan biksu sialan itu, dan kini, mereka akan kembali dipertemukan di antara sesuatu yang lebih rumit dari sebelumnya.


"Baiklah, destinasi berikutnya: Pulau abadi."


Vaas pun langsung membuka portal menuju Pulau Abadi.

__ADS_1


__ADS_2