
Kibasan angin dari sabit Orochi mampu merobohkan puluhan pohon disekitarnya. Yin Chen, Eunchae, dan Feng Lian tak bisa berhenti bergerak bahkan sedetik pun. Mereka harus terus menghindar dari segala serangan yang diberikan oleh Orochi dengan begitu lincah. Mereka melompat dari pohon ke pohon, kiri ke kanan, atas ke bawah dan begitu juga sebaliknya. Mereka harus terus bergerak sampai pada akhirnya mereka menemukan sisi lengah dari Orochi.
Feng Lian mengunci tubuh Orochi dengan Telekinesisnya, sementara Yin Chen memerintah belasan hewan gaib untuk mengerumuni Orochi dengan ganas. Eunchae dari atas akan memberikan tembakan terakhir yang mampu membunuh bahkan Orochi dalam satu tembakan bila saja energi jiwa yang di kondisikan mampu mencukupi.
"Sekarang!" Seru Yin Chen.
Eunchae melepaskan tali busurnya, melontarkan sebuah anak panah cahaya yang bisa menghancurkan sel-sel didalam tubuh Orochi dalam sekejap mata.
"Berhasil!" Sahut Feng Lian ketika melihat tubuh Orochi yang kembali merubah bentuknya menjadi sebuah bola arwah berwarna kelam.
Tinggal 5 Orochi lagi, dan mereka akan terbebas dari kiamat ular.
Mereka semua terjatuh dengan nafas yang tergesa-gesa karena habisnya energi jiwa mereka. "Sepertinya, ini akan memakan waktu yang cukup banyak." Keluh Yin Chen.
...----------------...
Desa yang indah adalah desa Shengcun.
Desa itu sangat hijau, diatasnya juga ada sungai. Perumahan disusun dengan strategis, warganya cukup ramah pada satu sama lain bahkan pada pengunjung baru.
Tapi apa-apaan ini? kenapa penampakan yang Ling lihat tidak sesuai dengan ingatannya?
Kenapa desa Shengcun...
hancur berantakan?
Ling berlari masuk kedalam desa, menuju ke suatu tempat secara spesifik yang tidak lain dari rumah besar keluarga Qi.
Pintunya hancur seperti dibobol masuk, temboknya menghitam seperti habis di bakar. Dan yang lebih memilukannya lagi, terlihat Qi Yuan sedang bersandar di pohon beringin dengan tubuh tanpa kepala.
Ling membisu, lelaki itu tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun dan terjatuh pada kedua lututnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Haerin, sesudahnya berduka di depan pohon beringin.
"Keluarlah, Qi Feng." Panggil Ling dengan suara yang bergetar.
Lelaki beramput putih dengan pakaian yang bersimbah darah keluar dari balik dinding suatu rumah untuk membalas tatapan kebencian Ling dengan wajah datar.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Ling. "Kenapa?!"
Nero bersikap tidak acuh, lalu pergi ke arah yang berlawanan. "Mereka menunggu kepulanganmu, Qi Feng!!"
"Mereka keluargamu!!"
Langkah Nero terhenti. "Mereka hanya akan menghalangiku." Ucapnya.
"Menghalangimu?"
Pada saat itu, Ling tersadar, kalau kedatangan Nero ke Shengcun adalah untuk mengakhiri kelemahannya, sama seperti Ling namun dengan cara yang berbeda. "Kali ini aku tidak akan membiarkanmu lari, Qi Feng!"
Nero menoleh, lalu terdiam.
"Kali ini aku akan mencincangmu dengan keji, lalu membawamu ke neraka!"
Ling melesat kearahnya, dengan pedang yang sudah tercabut dari selongsong. Namun ada yang aneh dengan Nero. Dia sama sekali tidak berkenan untuk bertarung dengan Ling. Dia menyingkir dari arah laju Ling, memperlihatkan seorang wanita berpakaian serba putih yang sedari tadi berdiri dibelakangnya.
"Yeoul?!" Batin Ling. Lelaki itu menoleh kearah Haerin, lalu berteriak: "Haerin!! Pasang kain dewi mu!!"
Noel hendak menangkap tubuh mungil Haerin tetapi raganya malah menembus kain itu membuatnya terjungkal cukup jauh, ia pun mendecih kesal.
Seperti sudah di prediksi, pergerakan "Trinitas" tiba-tiba berubah drastis. Noel dan Nero mendekati Ling, sementara Yeoul bergegas menuju Haerin.
"Apa yang sedang terjadi?" Batin Ling, sambil terus menepis juga menghindar dari serangan Noel dan Nero. Ia mendapatkan segelintir pengelihatan dari Yeoul yang sedang memasuki kain dewi Haerin. "Mungkinkah?"
Ling melakukan tebasan memutar, memaksa Noel dan Nero untuk menjaga jarak darinya. Penglihatan Ling pun menjadi lebih jelas, terlihat Yeoul sedang berdiri didepan tubuh Haerin yang sudah tertidur.
"Haerin!!" Ling berteriak parau. Lelaki itu melupakan pertarungannya untuk mengejar Haerin, tapi itu semua percuma saja. Dia hilang kesadaran setelah Yeoul menyerangnya dengan sihir kegelapan yang sudah di variasikan dengan begitu mahir. Walau sudah bertemu dengan perempuan itu sebanyak 3 kali, Ling belum mengerti kekuatan apa yang ia punya.
...----------------...
Yin Chen yang sedang berjalan diposisi paling depan dikejutkan dengan keberadaan FuXi, yakni salah satu murid dari Susanoo.
Energi jiwa mereka saling bertabrakan, membuat keduanya kini saling adu tatap.
"Waspada." Ucap Yin Chen dengan tenang.
__ADS_1
Dari arah lain, muncul Jiang Ziya dengan Hocrux uniknya yang memiliki bentuk menyerupai tongkat pancing. Berdasarkan kondisinya, Yin Chen yakin betul kalau Susanoo sedang berada didekat sini. "Begitu, ya..."
Yin Chen nampak menyimpulkan sesuatu didalam kepalanya. Dengan senyuman sempurna, ia berkata: "Baiklah."
"Ada apa?" Tanya Feng Lian.
"Kalian berdua larilah. Biar kuurus yang ada disini." Titahnya.
"Apa maksudmu, Yin Chen?!"
"Kau tahu betul apa maksudku. Sekarang pergilah."
Eunchae menarik lengan Feng Lian, membawanya masuk lebih dalam ke hutan gelap.
Yin Chen mengeluarkan Hocrux-nya untuk pertama kali dalam banyaknya pertarungan. Ia tidak akan meremehkan kedua murid dari Apotheosis pertama, apalagi mereka itu utusan langsung dari Malaikat Malthael. "Pertarungan ini adalah pertarungan suci. Tidak ada yang keluar dari pertarungan ini hidup-hidup." Terang Yin Chen.
Hocrux-nya yang berupa tasbih raksasa mulai memancarkan energi jiwa. Senjata itu adalah senjata dewa, salah satu Hocrux terkuat di bukit gaib.
Yin Chen membacakan sebuah mantra yang mengakibatkan terputusnya bola-bola tasbih. "Mari kita mulai, Apotheosis."
Yin Chen menepuk tangannya, membuat salah satu bola tasbih yang terbang di sebelahnya melesat dengan kecepatan tinggi menuju Fu Xi. Lelaki itu terpental cukup jauh, menyisakan Jiang Ziya seorang diri. Yin Chen pun mengincar lelaki bersenjatakan alat pancing itu dengan menciptakan pertarungan jarak dekat.
Bola-bola tasbihnya sesekali menembakkan laser panas yang mampu membuat targetnya melepuh. Hal tersebut membuat Yin Chen berada di posisi dominan.
Di tengah adu pukul, Yin Chen lagi-lagi menepuk kedua tangannya, sebagai tanda perintah agar bola-bola tasbih disekelilingnha menyerang lawan yang tengah ia hadapi.
"Harus kuselesaikan sebelum mereka terbiasa dengan gaya bertarungku." Batin Yin Chen.
Dia kembali membaca sebuah mantra untuk merubah bentuk bola tasbih menjadi sebuah benda tajam. Yin Chen kemudian menciptakan sebuah simbol dengan tangannya untuk memerintah benda-benda tajam itu agar menusuk Jiang Ziya. "Bila saja aku berhasil menjatuhkan satu orang, itu sudah cukup bagiku."
Satu persatu sajam berhasil Jiang Ziya hindari, namun tanpa ia sangka, semua sajam itu membentuk sebuah pola lingkaran yang mengelilingi dirinya.
Jiang Ziya sudah jatuh pada perangkap, dia sudah mati saat Yin Chen mengeluarkan tasbihnya. "Skakmat."
Yin Chen menjentikkan jarinya, membuat seluruh sajam tadi melesat cepat kearah Jiang Ziya dan menusuknya hingga tewas.
"Aku memang tidak tahu bagaimana caranya, dan aku juga tidak tahu mengapa. Tetapi aku tahu betul kalau kalian akan mencoba untuk kembali menghidupkannya." Ucap Yin Chen sambil menatap FuXi dengan mata sipitnya. "Langkahi mayatku dulu, sialan."
__ADS_1