
Keluarga Qi adalah keluarga pekerja keras yang sudah lama berlumut di desa Shengcun. Ayah Qi Ling, yang bernama Qi Quan, adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ia menjadi seorang pemabuk setelah ditinggal pergi oleh istrinya yang dikabarkan menjual diri ke pemerintah. Suatu hari, dia ditemukan tewas dalam kamarnya, dengan luka sayat yang melebar pada leher.
Banyak yang menduga bahwa Qi Quan bunuh diri. Namun, bukan berarti tidak ada dugaan lain dari orang yang berbeda. Entah darimana datangnya, muncul sebuah dugaan baru yang dipercaya oleh banyak orang. Dugaan itu mengatakan bahwa Qi Ling membunuh ayahnya sendiri saat sang ayahanda sedang kelelahan dan tertidur pulas.
Hal tersebut membuat nasib Qi Ling berubah drastis. Ia dikucilkan oleh warga desa, bahkan sebagian besar dari keluarganya sendiri.
Hanya adik Qi Quan, yakni Qi Yuan lah yang mau menerima Qi Ling dengan lapang dada. Walau terkenal galak serta disegani, Qi Yuan peduli pada keponakannya dan seluruh anggota keluarganya sendiri, ia bahkan rela memasukkan ****** susu 'penggoda pria' -nya ke mulut Qi Ling yang pada saat itu sudah berusia sepuluh tahun.
Saat menginjak masa remaja, Qi Ling sering kabur dari rumah besarnya dan tinggal diatas gunung. Dia selalu membuat Qi Yuan jengkel karena dia selalu pulang dalam keadaan kotor dan bau.
Ia tidak mau sekolah, juga tidak mau diatur.
Sikap egois dari anak remaja itu membuat Qi Yuan membedakan kasih sayangnya terhadap Qi Ling dan Qi Feng. Qi Yuan lebih menyayangi Qi Feng dengan selalu memberikan sesuatu yang lebih kepadanya.
Saat berusia Lima belas tahun, Qi Ling dan Qi Feng menjadi lebih akrab dan selalu pergi kegunung bersama-sama. Tidak hanya berdua, mereka ditemani oleh seorang perempuan yatim piatu bernama Chou Yu.
Chou Yu tidak dijadikan anak oleh Qi Yuan, tetapi Chou Yu selalu diurus penuh cinta. Dari awal bertemu, Qi Yuan sudah berencana untuk menikahkan Chou Yu dengan anak kandungnya Qi Feng. Namun, dilihat dari sisi manapun, Chou Yu terlihat lebih dekat dengan Qi Ling. Chou Yu bahkan sampai mengadopsi gaya bicara Qi Ling yang tergolong "seenaknya", membuat wanita rupawan itu tumbuh dengan gaya bicara yang tidak sopan pula.
Saat di gunung, Qi Ling dan Qi Feng selalu bermimpi dengan lantang, berjanji untuk menjadi sosok yang dikenal satu negara. Mereka juga berjanji untuk menjadi kuat bersama, dan memenangkan banyak pertarungan bersama.
Mereka mulai melakukan hal-hal unik bersama, sampai mereka diberi julukan "bocah kembar pembawa malapetaka" oleh desa.
Mereka jadi sering sekali berlatih tombak diatas gunung, menambahkan daftar baru ke catatan Qi Yuan, yakni kotor, bau dan penuh luka.
Qi Ling sudah seperti anak bagi Qi Yuan.
Qi Ling, adalah anak pertama Qi Yuan.
...----------------...
Qi Yuan mengelus-elus tangan rampingnya yang memerah sebab ditepis cukup kencang oleh Qi Ling. Kepalanya menunduk kebawah agar Qi Ling tidak dapat melihat wajah cantiknya yang sedang menangis.
"Maaf. Aku tidak bermaksud." Ucap Qi Ling, sebelum mengangkat dagu Qi Yuan dengan sangat hati-hati, lalu menyeka air matanya yang secara terus menerus membasahi pipi merah wanita itu.
"Apakah itu benar, Qi Ling?" Tanya Qi Yuan dengan suara yang bergetar. "Apakah kau berani bersumpah?"
__ADS_1
"Ya. Aku berani." Jawabnya.
Qi Yuan mendorong keponakannya itu agar menjauh, lalu mengusap wajahnya dengan pakaian. "Lalu, kenapa dia tidak pulang?"
Qi Ling bergeming, menatap tantenya dengan tatapan mengasihani. "Ini semua salah. Kamu yang membawanya ke medan perang, tapi kenapa kamu yang pulang? kenapa dia tidak ikut pulang?"
Qi Ling tetap terdiam. Namun kepalanya jadi sedikit lebih tertunduk. "Dimana dia?" Tanya Qi Yuan, sebelum berjalan mendekat dan mencengkram pakaian Qi Ling dengan ssangat erat. "Beraninya kamu pulang sendiri?! Kembalikan dia kepadaku, Qi Ling!! Kembalikan Qi Feng!!"
"Aku tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa??"
"Dia pergi dengan seorang wanita dari provinsi lain." Jujur Qi Ling.
"Wanita... provinsi... lain?" kaki Qi Yuan gemetar tak karuan, dan wanita janda itu pun terjatuh ketanah. "Bagaimana bisa?"
Tanpa menjawab, Qi Ling menggendong tubuh rapuh dari wanita itu, dan memasukannya kedalam rumah agar tidak kotor.
"Terimakasih." Ucap Qi Yuan.
"Dimana Chou Yu dan Qi Tan?" Tanya Qi Ling, yang sedang celingak-celinguk.
Terdengar suara tangisan dari seorang wanita yang semakin lama semakin mendekat. "Ibu!!" Dia adalah Chou Yu.
"Ibu!!" Chou Yu menerobos masuk kedalam rumah, dan memeluk Qi Yuan dengan begitu erat.
"Kenapa?" Tanya Qi Yuan.
Chou Yu mengulurkan sepucuk surat, yang bertuliskan "Untuk Chou Yu."
Qi Yuan membukanya, dan membaca isinya dalam hati.
"...Maafkan aku Chou Yu, Lupakanlah aku, dan hiduplah dengan ceria. - Qi Feng."
Surat itu adalah surat pengakuan dari Qi Feng. Dia mengaku kalau sudah menghamili seorang wanita, dan akan segera mendapatkan anak dikemudian hari.
__ADS_1
Kebetulan yang sangat menarik.
Qi Yuan langsung menyobek surat itu, dan membalas pelukan Chou Yu yang masih menangis tersedu-sedu dipundakannya. Mereka terus menangis bersama-sama, dan berusaha saling menenangkan satu sama lain, mereka terbawa suasana sampai mereka sadar kalau ada bau yang menyengat diruangan itu.
"Qi Ling, ambil handuk dikamarmu, dan pergilah mandi. Kamu kotor." Titah Qi Yuan, dengan tangan yang mengipas-ngipas seolah mengusir.
"Eh, Qi Ling?" Chou Yu tertoleh, dan menatap punggung Qi Ling yang hendak menutup pintu.
Wajah Qi Ling...
Chou Yu lebih mengingat wajah Qi Ling dibandingkan wajah Qi Feng, tunangannya sendiri.
Malam telah berlalu.
Dan kini, Qi Ling sedang duduk di depan meja makan keluarga Qi dengan mulut lebar yang tak bisa berhenti mengunyah makanan-makanan enak diatasnya. Makanan-makanan itu telah disajikan oleh Qi Yuan dengan jemari lentiknya sendiri. Perlahan-lahan, hubungan mereka kembali berubah menjadi sedia kala, walau rasa-rasanya masih cukup janggal dengan menghilangnya sosok Qi Feng si anak kandung, mereka tetap harus berusaha untuk bisa menjadi keluarga lagi.
"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Qi Ling?" Tanya Qi Yuan.
"Entahlah, mungkin melarikan diri dari kejaran tentara." Jawab Qi Ling, lalu menaruh mangkuk bekasnya disembarangan tempat, dan pamit untuk pergi keluar dari rumah.
Qi Yuan menggeleng kesal, karena ternyata, setelah pergi berperang sekalipun, sisi tidak sopan milik Qi Ling tidak akan pernah hilang.
Qi Ling tersenyum sepanjang jalan.
Percakapannya bersama Chou Yu di kemarin malam membuatnya tidak bisa berhenti tersenyum. Mengingat kenangan saat diatas gunung, membuatnya ingin berkunjung kesana.
Tetapi, saat dia sudah berada di luar desa, ia berpapasan dengan seorang warga, dan warga itu secepatnya berteriak dengan lantang, memanggil para tentara untuk segera mengepungnya.
Qi Ling berdecak kesal, ia terpaksa menebas mati beberapa Tentara, dan kembali masuk kesisi gelap hutan untuk membutakan mata mereka.
Qi Ling adalah pria berbahaya. Dia rela membunuh banyak orang hanya untuk keselamatannya sendiri. Pada hari itu, warga yang melihat pembantaian tadi, memberikan julukan baru padanya. Yakni, "Iblis!"
Saat sedang berlari ketengah hutan, ia merasa sangat senang. Ia menjadi tidak waspada dan terjatuh pada suatu perangkap lemah seperti kayu yang dibentangkan lurus-lurus diatas tanah yang berdebu.
"Haha, aku menangkap sesuatu!" Seorang pria dengan pakaian bak petani terlihat sedang berjalan menghampiri Qi Ling.
__ADS_1
Qi Ling ingin kabur. Namun, kakinya yang terluka membuatnya kesulitan untuk sekadar berdiri. "Apakah itu seekor rusa, atau babi hutan?" Reaksi pria itu, ketika mendengar suara rusuh yang terlalu menggebu dari perangkapnya.
"Hm?" Pria itu mendelik kebingungan kearah Qi Ling. Dia melepas topi jeraminya, sambil tersenyum. Dia berkata, "apapun itu, dia sangatlah besar. Tapi sayangnya, dia memiliki hati yang kecil."