VAGRANT

VAGRANT
Keteguhan Hati


__ADS_3

Ling yang sedang memanjat kebawah secara perlahan, memperhatikan segala macam pijakan yang bisa ia ambil, tiba-tiba saja berpindah ruang ke sebuah bukit hijau yang terkesan begitu damai namun begitu kosong.


Tempat yang sebenarnya sangat Ling butuhkan. Sebuah kemenangan tersendiri baginya. Kemenangan yang tidak perlu diperjuangkan.


Tapi apakah kemenangan itu akan tetap berarti?


"Apa yang kau lakukan dibawah sana?" Tanya Vaas, lelaki itu tidak berubah sekeriput pun dari peristiwa di dataran Sean.


"Menyelamatkan Haerin dan Feng Lian. Mereka ada di bawah sana."


"Bagaimana dengan Yin Chen dan Eunchae?"


"Ada apa dengan mereka?"


"Yin Chen mati." Ungkap Vaas. "Bagaimana bila pengorbananmu kali ini juga berujung sama seperti di dataran Sean? kau tidak bisa mengubah apapun, Ling."


"Kembalikan aku ke bawah sana." Titah Ling.


"Bagaimana jika aku menolak?"


"Akan kubunuh kau." Ancam Ling. "Tidak ada yang bisa menghalangi jalanku. Karena aku tidak takut untuk menyingkirkan siapapun dari jalanku."


"Apakah kematian Silver dan Yin Chen tidak berarti bagimu?" Tanya Vaas. "Mereka gurumu bukan? Mereka yang membuatmu terus hidup bukan?"


"Ya. Dan apakah dengan berhenti disini kematian mereka akan berarti?" Balas Ling. "Mereka adalah guruku, pejuang dalam hidupku, mereka yang membantuku untuk tetap terus melanjutkan hidup. Tetapi mereka juga adalah orang yang memberikan perintah kepadaku agar terus hidup dengan melayani seseorang, membantu banyak orang, dan membentuk sebuah keluarga."


"Melayani siapa? Mereka semua sudah mati." Bantah Vaas.


"Gilgamesh." Kata Ling. Lelaki itu berdiri tegak tanpa tongkat, melawan rasa nyeri dari kaki dominannya yang terluka itu. "Tidak ada yang bisa menghalangiku. Bahkan ruang dan waktu sekalipun."


Vaas merendahkan kepalanya kemudian tersenyum. Ia meremehkan segala hal yang bisa Ling gapai. Lelaki itu sudah menemui Gilgamesh dan menjadi salah satu muridnya. Ling memang seorang manusia yang spesial.


Segala jalan seolah sudah diluruskan oleh yang maha kuasa untuknya, dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh seluruh mahluk di negeri air.


Dia memiliki keteguhan hati yang murni.


Begitulah menurut Vaas. Sampai-sampai dia mau membantu Ling untuk sampai di dasar lubang cacing. Dia bahkan memulihkan kaki Ling.


"Laksanakan perintahmu, Ling." Pinta Vaas. Dilihatnya Ling mengangguk lemah. Lelaki berpakaian lusuh itu kemudian melirik kaca raksasa yang merupakan musuh utamanya.


"Malthael..." Bisik Ling.


Malthael menatap rendah diri Ling. Melihat seorang manusia kerdil di wilayah kekuasaannya membuat Malthael merasa jijik. "Jadi dia yang selama ini mengacaukan rencanaku?" Pikir Malthael.


"Aku akan membunuhmu, Malthael. Aku pasti akan membunuhmu." Cecar Ling sebelum menunjuk Malthael dengan pedang Hocrux-nya.

__ADS_1


Bertepatan dengan itu, Vaas tiba-tiba terjatuh. Ling juga mendadak tidak bisa merasakan energi jiwanya sama sekali. "Hah?"


Seorang pria berbadan kekar dengan pedang unik berukuran besar ditangannya, berjalan mendekati Ling. "Kau Ling?"


"Kau siapa?"


Pria itu mengayunkan pedangnya, namun berhasil Ling hindari. Dia tidak mengenal wajah lelaki itu, tetapi dia mengingat gaya bertarungnya. "Susanoo..."


Mereka saling tatap dalam diam, saling menghina dalam diam, saling membenci dalam diam.


"Nuwa." Panggil Susanoo. Seorang perempuan keluar dari balik badannya lalu menyerang Ling dengan gerakan yang begitu cepat. Ling menghindar dan terpaksa untuk terus menjauh dari Susanoo.


Terlihat bola-bola arwah kelam sudah terkumpul semuanya. Mereka lalu menyatukan diri, menjadi sesosok mahluk baru yang terbalut dengan ribuan ular, ia di panggil sebagai Orochi X. Sosok iblis dari neraka yang bisa membawa kiamat bagi dunia.


Tetapi pembunuh mahluk itu sudah berada tepat didepan matanya, belum sempat ia melihat langit, Ia sudah mati ditangan Susanoo.


Ledakan energinya mampu meretakkan segel kaca Malthael, memecahkan tabung gas yang mengurung Haerin dan Feng Lian.


Malthael secara perlahan keluar dari segelnya, dan mulai merasuki tubuh Orochi X.


Ling mendecih, karena harga dirinya melarang Ling untuk membunuh seorang wanita. Namun karena situasi yang memaklumkan, Ling pun menebas wanita itu, lalu berlari menuju Haerin.


"Haerin!!!"


Ling tergelincir, namun ia berhasil bertahan dengan menancapkan pedangnya ke pijakan.


Sebuah pemandangan mengerikan ia lihat dengan mata telanjang. Dari punggung Malthael, keluar seekor ular yang masih menyatu pada tubuhnya. Ular itu menggigit tubuh Haerin dan Feng Lian untuk menyedot darahnya secara perlahan.


"Ahhhh..." Malthael nampak antusias pada momennya. "Udara menyentuh kulitku, sungguh sempurna."


Langit menghitam, hewan-hewan gaib mengelilingi menara itu seperti sedang mengelilingi tahta milik rajanya.


Susanoo melirik Ling, menatapnya dengki.


"Bunuh dia, Susanoo. Berikan aku hiburan pertama." Titah Malthael.


Susanoo berlari kearah Ling lalu menghunuskan pedang tajamnya. Ling melompat untuk menghindar, lalu memberikan serangan balasan yang membuat pipi Susanoo tergores.


Susanoo menyentuh pipinya, mengusap darah merah yang keliar darinya. "Tidak mungkin..."


Ling diam memperhatikan tingkah laku Susanoo. Tersadar kalau ego lelaki itu baru saja tersenggol.


Semua iblis sama dengan Qi Ling. Dan hanya Ling lah yang mampu membunuh Qi Ling.


"Seolah-olah memang inilah takdirku." Gumam Ling.

__ADS_1


Mereka berlari kearah satu sama lain, lalu mengadukan berbagai seni tebasan. Gerakan Susanoo yang agresif memberikan Ling berbagai kesempatan untuk menang. Berbagai macam luka Ling berikan kepadanya, membuat Susanoo tambah marah.


Susanoo mulai menggunakan kekuatannya, menyerap energi jiwa Ling dan berniat membunuh Ling dengan itu.


Tapi Susanoo belum menyadari sesuatu, Ling adalah murid dari Gilgamesh, mantan Apotheosis ke-1.


Apotheosis yang memiliki kekuatan terunik, kekuatan yang menjadi musuh alami dari kekuatan Susanoo sendiri.


Kekuatan Gilgamesh adalah peningkatan energi jiwa.


Ling berseru kencang, bersamaan dengan energi jiwanya yang meledak-ledak. Ia berdiri tegar diatas tanahnya, mempertahankan pijakannya. "Aku tidak akan mundur, tidak akan lari!" Raung Ling. "Aku sudah berjanji akan membunuh malaikat di hari ini!"


Ling memanggil berbagai Hocrux murni dari bukit gaib. Hocrux milik banyak Apotheosis menjadi miliknya. Kain dewi menyelimuti tubuhnya, Keling terkunci di kepalannya, rantai kebangkitan terikat di lengannya, tasbih suci terbang mengelilinginya, begitu juga pedang-pedang Hocrux lain.


"Apakah kau benar-benar manusia?" Tanya Susanoo.


"Tidak, aku adalah iblis yang lebih berpengalaman darimu." Ling melesat kencang lalu memotong pedang Susanoo saat berada di posisi pertahanan. Susanoo terbungkam, lalu mati dalam waktu yang bersamaan.


Malthael begitu takjub, dia tidak bisa berkata-kata.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau Ling akan menjadi sekuat ini.


"Sekarang giliranmu, Malthael." Tantang Ling.


Malthael menembakkan sihir abnormal kearah Ling, lalu melesat kencang berusaha untuk membunuhnya.


Negara air sedang dilanda gempa sekuat-kuatnya.


Awan terbelah berulang kali, menandakan betapa dahsyatnya pertarungan diatas menara itu. Namun Ling mampu memenangkan pertarungan karena informasi kecil dari Ken.


Informasi yang mengatakan bahwa Malthael membutuhkan darah Haerin dan Feng Lian untuk terus hidup.


Ling memotong kedua ekor ular yang menggigit tengkuk Haerin dan Feng Lian, membuat aliran darah Malthael terhenti begitu saja. Setiap detiknya dia akan kekurangan darah, dan akan mati dalam hitungan waktu.


Kelemahan yang bodoh, karena tidak ada pertarungan yang benar-benar apik dan sulit. Semakin besar impianmu, semakin besar pula kelengahanmu.


Malthael sama sekali tidak menyangka kalau Susanoo akan mati ditangan Ling. Dia pula tidak menyangka kalau Vaas akan berkhianat.


Malthael pun mati diatas menara itu. Meninggalkan kehancurkan besar diatas negara air.


Haerin dan Feng Lian perlahan sadar dari tidurnya, kemudian menemukan Ling yang tengah tergeletak diatas tanah dengan tubuh yang tremor. Kekuatan Gilgamesh rupanya terlalu besar untuk tubuh Ling, dan mengerahkan kedua kekuatan itu semaksimal mungkin rupanya adalah salah satu tindakan ceroboh.


Mereka pun turun dari menara itu dengan burung raksasa milik Haerin.


Mereka menyelamatkan diri tanpa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2