
Pria berahang tegas itu menoleh kencang ketika merasakan setitik energi jiwa lain didekatnya. Mereka saling tatap dalam diam, seolah pernah mengenal satu sama lain.
Dengan gegabah, Ling berjalan cepat kearahnya. Pedang ia keluarkan dari selongsong. Rasa kebencian pada Gilgamesh tiba-tiba meluap dari hati Ling.
Di setiap langkah, Ling meneguhkan hatinya.
Satu tebasan ia ayunkan, tapi berhasil dihindari oleh Gilgamesh karena ia belum terbiasa dengan kaki dominannya yang pincang.
Gilgamesh menepis pedang Ling hingga terlepas dari genggamannya, lalu menahan lengan Ling keatas untuk mencegah perlawanan lebih lanjut. "Kau siapa?" Ia bertanya.
Ling mendelik kearah Gilgamesh— Perbedaan kekuatan diantara mereka terlalu jauh, ia bisa mati bila saja nasibnya buruk.
Ling menarik kembali tangannya, lalu menjawab: "Aku ingin bicara denganmu, Gilgamesh."
Gilgamesh tersenyum, lalu mendongak. Mata beriris hijaunya memicing kepada langit yang sekilas terlihat mendung. "Sebentar lagi hujan, meneduhlah."
...----------------...
Hujan yang deras mampu menyembunyikan tetes air mata yang mengalir tanpa henti di pipi Eunchae. Tetapi isakan hati yang kecewa tidak akan bisa di tutupi oleh suara bising mana pun.
Yin Chen berdiri dengan kepala tertunduk dihadapan Eunchae yang sedang patah hati. Mental perempuan itu hancur, tidak ada yang bisa menolongnya. Melihat tubuh Feng Lian yang terjatuh tiba-tiba, menandakan kalau Haerin sudah tiada. Hal tersebut juga mengartikan kalau Ling sedang dalam bahaya.
Bahaya apa yang lelaki itu tengah hadapi? melawan satu orang wanita dengan perisai saja Eunchae sudah gagal, apalagi melawan sesuatu yang membuat Haerin terbunuh?
Dunia ini memiliki sistem yang berantakan. Kematian selalu mengelilingi kehidupan Eunchae tanpa henti. Semua orang yang ia cintai selalu diambil satu persatu. Seolah dia dilarang untuk mencintai seseorang.
"Bangkitlah, Hong Eunchae. Pertarungan masih belum berakhir." Ucap Yin Chen.
"Pertarungan apa yang aku perjuangkan? Aku sudah kalah sebelum bertarung." Balas Eunchae.
"Kau masih hidup... dan menurutku, kehidupan adalah pertarungan yang layak untuk diperjuangkan." Nasihat Yin Chen.
Eunchae menengadahkan kepalanya, dengan dahi yang berkerut. "Ling benar. Nasihatmu memang yang terburuk."
__ADS_1
"Ling yang kau kenal adalah Ling yang hidup atas nasihatku." Balas Yin Chen sebelum mengulurkan tangannya, mengajak Eunchae untuk kembali berdikari. "Oh, ya. Tolong kembalikan dua Hocrux ini ke bukit gaib."
Eunchae mengerjap kebingungan. "Kau membunuh mereka?"
Yin Chen diam, tidak mau menjawab. Membuat Eunchae merasa canggung lalu menurutinya dengan kikuk. Perempuan itu menyentuh kedua Hocrux tadi, lalu menyerapnya hingga sirna. Selain memanggil Hocrux, energi jiwa Silver juga mampu mengembalikan semua Hocrux yang ada di bumi kembali ke bukit gaib. "Bagaimana dengan tubuhnya? Bukankah mereka bisa dihidupkan kembali?"
"Sudah ku kubur dengan cara tuhan. Tidak ada lagi yang bisa menemukannya apalagi menghidupkannya." Sahut Yin Chen.
Eunchae mengangguk paham, "lalu apa pergerakan kita selanjutnya?"
"Kita akan pergi mencari Yeoul. Kita butuh jawaban darinya."
...----------------...
"Aku tidak pernah berharap untuk di bebaskan." Ungkap Gilgamesh yang sedang duduk di atas teras teduh bersama dengan Ling di depan bahunya. "Kebebasanku akan membawa bencana yang lebih besar untuk negeri air dan aku yakin Silver tahu akan hal itu."
"Ya, memang. Fapi sekarang kau sudah bebas, Silver sudah mati, dan banyak orang akan ikut mati bila dibiarkan begitu saja! kenapa kau, Apotheosis terkuat di negeri air, malah bersembunyi di desa ini seperti seorang pengecut?"
"Pengecut? Mungkin... mungkin aku memang pengecut." Sahut Gilgamesh. "Aku sudah pernah mati ditangan Vaas, Ling. Kita sudah kalah sejak lama."
Ling berdiri dengan tangan yang mengepal kencang disampingnya. Didalam kepala lelaki itu, ia tengah berusaha untuk menerima dengan lapang dada jawaban egois dari Gilgamesh barusan. Ia juga sedang berusaha untuk mencari jawaban baru yang paling memungkinkan untuk memenangkan semua permainan diatas papan.
"Berikan aku kekuatanmu." Cetus Ling. Membuat bahkan Gilgamesh sendiri terkejut. "Tidak ada yang bilang kalau kau tidak bisa memiliki dua guru. Berikan aku kekuatanmu."
"Tapi kau bisa saja mati."
"Pengorbanan selalu diperlukan di dalam segala situasi. Bila kau begiti ketakutan, biar aku yang berkorban."
Garis wajah Gilgamesh berubah, ia ikut berdiri lalu menepuk pelan pundak Ling. "Dunia tidak pernah menjadi tanggung jawabmu, sobat."
"Aku tahu. Tapi aku membutuhkan dunia ini untuk bisa menyelamatkan lebih banyak orang, dan membentuk sebuah keluarga baru dengan orang yang aku kasihi." Argumen Ling.
Gilgamesh tersenyum tulus karena dia mengingat perintah gamblang itu. Sebuah perintah mulia yang dulu pernah ia berikan kepada Yin Chen beberapa tahun silam.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menjadikanmu muridku." Ucap Gilgamesh, lalu mulai menyalurkan energi jiwanya melalui telapak tangan, kemudian ke tubuh Ling yang berukuran lebih kecil darinya. "Pasti akan terjadi konflik antara aliran jiwaku dengan aliran jiwa Silver. Rasa sakitnya akan sangat luar biasa. Jadi, tolong bertahanlah."
"Dan tolong, laksanakan perintah itu dengan baik, Ling."
Ling memejamkan matanya, mempersiapkan segenap mental rapuhnya untuk menghadapi siksaan baru yang sebelumnya tidak pernah ia hadapi dalam hidup.
"Tunggu aku, Haerin."
...----------------...
Feng Lian dimasukkan kedalam sebuah tabung kaca yang nantinya akan diisi oleh cairan nitrat yang berfungsi untuk terus melemahkan tubuh Feng Lian. Tabung itu berdiri di sebelah kanan segel kaca milik Malaikat Malthael yang telah dipindahkan kedalam lubang raksasa dengan bantuan sihir ruang dan waktu milik Vaas.
Di sebelah kirinya terdapat satu tabung lagi yang telah di isi oleh Kang Haerin.
Tujuh bola arwah juga sudah terkumpul di satu lubang, Susanoo lah yang memburunya, tinggal menunggu bola terakhir, maka rencana Malthael akan berjalan dengan sempurna.
...----------------...
Ratusan hewan gaib bergerak secara terkoordinasi ke berbagai arah, mereka diperintahkan oleh Yin Chen untuk mencari pancaran energi jiwa Yeoul disepenjuru negara air. Biksu itu mengerahkan seluruh energi jiwa dan pikirannya untuk ini. Sehingga Eunchae harus selalu sigap untuk menjaga tubuh fisiknya dari sebuah ancaman yang akan datang kepadanya. Ancaman yang telah diprediksi oleh Yin Chen sendiri.
Frost dan Dusk, mereka akan menaruh curiga pada semua pergerakan hewan gaib yang teratur dan mencoba untuk mencuri pengelihatan hewan gaib. Dengan koneksi energi jiwa yang terpancar, Frost bisa menemukan lokasi Yin Chen dengan mudah dan mulai memburunya dari jarak yang begitu jauh.
Untuk memperlambat pergerakan mereka dan mempermudah tugas Eunchae, Yin Chen akan mengelabui kontrol energi pada beberapa hewan gaib untuk mengecoh pengelihatan Frost.
"Jangan gentar, jangan takut." Batin Eunchae. "Balaskan dendam mereka, jadilah lebih kuat lagi!"
Suara gemersak daun dari arah barat membuat Eunchae melempar arah bidiknya kearah sana. Seseorang melompat keluar dari sana, dan hendak membunuh Yin Chen dengan sekali tebas. Namun, Eunchae yang telah menyembunyikan energi jiwanya, mampu mencuri tempo dan membunuh pria itu dalam sekali tembak.
Pria itu meronta-ronta kesakitan, selama darah merahnya mengalir deras dari leher.
Pria itu bukanlah pria yang Yin Chen minta Eunchae untuk bunuh. Pria itu adalah Frost, bukan Dusk.
Yin Chen menonaktifkan sihirnya, lalu menatap Eunchae dengan tatapan ingin membunuh.
__ADS_1
Rencana Yin Chen kacau, dan Eunchae harus membenarkan semuanya.