
Yin Chen berdiri di tepi jurang, membelakangi Ling yang tengah antusias menjabarkan sudut pandangnya mengenai kejadian di pagi hari tadi. Dimulai dari perubahan wujud Orochi hingga kedatangan NeZha, semua ia jelaskan dengan gamblang. Bahkan rasa takutnya yang menggeliat pada saat itu pula ia tanyakan kepada Yin Chen si biksu kekar. "Aku belum pernah setakut itu sebelumnya. Di mata Orochi, aku tidak bisa melihat adanya belas kasih, hanya ada nafsu membunuh yang terlalu kuat juga murni. Seolah-olah aku sedang beradu tatap dengan sesosok iblis yang datang langsung dari neraka."
"Bukankah itu membuatnya sama persis bahkan identik dengan sosok dirimu yang dulu?" Yin Chen menoleh kebelakang, lalu tersenyum. "Disaat aku melihat Orochi, aku melihat Qi Ling."
Ling membulatkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Jika hatimu terpaut pada sesuatu, kau tak akan bisa mengeluarkan jurus berpedangmu." Yin Chen memungut sepotong ranting, lalu membalik badannya. "Terlalu asyik dengan sehelai daun, maka kau akan lupa untuk melihat pohon. Terlalu fokus pada satu pohon, akan membuatmu lupa akan hutan. Lihatlah secara keseluruhan. itulah yang dikatakan benar-benar melihat."
"Benar-benar... melihat?"
"Sekarang, lawan aku dalam pertarungan hidup dan mati." Tantang Yin Chen mendadak. Lelaki gundul itu memasang wajah ceria membuat Ling tidak menanggapinya dengan serius.
"Apakah ini sebuah tes?" Curiganya.
"Ya, benar. Serang aku dengan niat membunuhmu yang dulu." Titah Yin Chen.
Ling mencabut katananya, lalu memasang kuda-kuda tebasan sempurna. "Aku tidak mengerti apa yang sedang kau rencanakan, tetapi aku juga tidak akan meremehkanmu." Ucapnya, mengingat jika Yin Chen benar-benar menghukum dirinya dengan hukuman paling memalukan sejagat raya.
Saat angin berhenti menghempas, tatapan keduanya saling mengunci, serta jemari kapalan yang telah menyatu dengan senjata. Yin Chen berkata: "Oh, ya. Mengenai Qi Yuan..."
"Hah?"
Sepotong ranting menghantam kepala Ling dengan kencang sampai membuatnya tertunduk kesakitan. "Hahahahaha, kalau ini pertarungan asli, kau pasti sudah mati, bukan?"
Ling berkedik kesal. "Tapi kau lic--"
"Tidak." Koreksi Ling dalam hati. Yin Chen yang bingung dengan perubahan sikap Ling yang drastis hanya diam memperhatikan. "Itu adalah serangan valid. Untuk mencapai kemenangan, untuk bertahan hidup...! serangan tadi, adalah serangan yang adil dan valid."
__ADS_1
"Dan aku tertipu dengan trik paling mudah dalam buku." Ling kembali memasukkan pedangnya kedalam sarung, lalu berjalan pergi. "Puluhan dojo, ribuan lawan, mengalahkan 4 Apotheosis beserta muridnya, dan selamat dalam pertarungan dengan Susanoo membuatku menjadi seseorang yang Arogan!!"
"Teralihkan dengan hanya Qi Yuan, apa yang sedang aku lakukan? Aku seperti bajingan tak bertulang!" Ling melompat masuk ke sebuah danau didekat sana untuk menyadarkan dirinya sendiri dari alam kesombongan. "Apa kabar Qi Yuan, apa kabar Chou Yu, apa kabar dengan desa Shengcun? Apakah aku benar-benar sudah melupakan jati diriku?"
"Hei, apa yang kau pikirkan? airnya beku mendingin, loh." Ujar Yin Chen dari atas tebing.
"Aku akan kembali ke desa Shengcun." Cetus Ling, sambil menyeka rambut panjangnya ke daun telinga.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Aku harus mengakhiri rasa takutku pada kematian. Aku akan berpamitan dengan mereka yang kukasihi dan kuanggap tempat untuk berpulang, sehingga aku bisa kembali ke pertarungan dengan kekuatan penuh dan tidak kenal gentar sekalipun." Tegas Ling. "Selama di perjalanan, aku akan mencoba untuk merendahkan diriku. Sehingga aku tidak pernah menganggap tinggi diriku, dan merendahkan dunia."
Eunchae yang mendengar keputusan tiba-tiba itu hendak menolak. Tetapi Yin Chen menahannya, dan berkata: "Aku dukung jalan muliamu itu, tetapi dengan satu syarat, bawalah Haerin bersamamu."
"Haerin?" Tanya Ling dan Eunchae.
Pada pagi harinya, Eunchae bertanya soal pembagian tim ini, dan mengapa Ling harus pergi bersama Haerin. Lalu Yin Chen menjelaskan mengenai fungsi dan kelemahan ikatan milik Haerin dan Feng Lian berserta tujuan mereka. "Ling mungkin membutuhkan regenerasi Haerin, tetapi aku sudah pasti membutuhkan kekuatan telekinesis milik Feng Lian juga kekuatan pemanggil Hocrux milikmu." Terang Yin Chen. "Kita akan kembali memburu Orochi, sementara Ling akan menghadapi masa lalunya yang belum selesai."
"Belum selesai?"
"Ling sempat lari dari masa lalunya, dan ternyata masa lalu bisa mengejar kita begitu cepat." Ucap Yin Chen.
"Tapi kenapa Haerin?"
"Ikatan Haerin dan Feng Lian adalah tanda bahaya untuk kedua tim. Bila saja Feng Lian mati tanpa diserang, berarti Ling sedang dalam bahaya. Begitu juga sebaliknya." Yin Chen melirik Feng Lian, lalu kembali menatap langkahnya. "Kita harus bisa memanfaatkan kelemahan kita sebaik mungkin. Mengerti?"
...----------------...
__ADS_1
Disuatu daerah di tengah hutan gelap menuju desa Shengcun, Ling kembali bertemu dengan sebuah air terjun yang dulu sempat ia lewati. Air terjun itu terlihat sangat menyeramkan, tetapi Ling mengingat tujuan utamanya yang tidak lain adalah melawan rasa takut itu sendiri.
Dia memilih untuk berhenti disana dan duduk dibawah air terjun itu. Tiap tetesan air terjun yang mengenai tubuh Ling terasa seperti lemparan batu para warga yang pernah ia dapatkan.
Ling menggeram kesakitan, Haerin yang melihatnya dari pinggir sungai hanya bisa menatapnya iba. Dia sesekali meminta Ling untuk berhenti dan menghangatkan diri, namun lelaki itu menolak. Ia akan duduk disana untuk lebih lama lagi, bahkan hingga matahari diganti bulan, dan bintang membanjiri langit dengan pesona cantiknya.
Pada satu titik, lelaki itu melompat keluar dari hantaman air terjun karena rasa takut akan ketidakpastian. Rasa takut akan rasa sakit, rasa takut akan kematian.
Ia melirik kearah tepian, melihat sosok Haerin yang tertidur disanamasuh, setia menunggunya.
Ling pun kembali memfokuskan diri, dan kembali masuk kedalam Air terjun hingga pagi hari tiba.
Air terjun itu telah mengajarinya banyak hal mengenai ketenangan, keberanian, dan juga masuk angin. Haerin berakhir memijat pundak tegang lelaki itu hingga tubuh Ling terasa lebih ringan.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka diiringi dengan suara alam yang menggetarkan hutan. Haerin sering kali menatap Ling dalam diam dengan kedua mata uniknya yang menyerupai kucing, dan Ling sama sekali tidak keberatan dengan hal itu. Dia malah merasa lebih senang dan bahagia, dia suka membalas tatapan itu dengan perasaan gemas.
Sesekali Ling mencubit pipi Haerin, mengelus rambut hitamnya, dan memeluk tubuh mungilnya dari belakang sambil menikmati pemandangan langit berbintang megah dari pinggir sungai dangkal yang terus mengalir dengan berisik.
"Ling."
"Hm?"
"Ada apa di desa Shengcun?"
Ling memainkan rambut Haerin sambil tersenyum, "Rumah, keluarga, dan banyak cerita."
"Boleh ceritakan salah satu cerita itu padaku?"
__ADS_1
Ling mengangguk, lalu memasang posisi nyaman. "Dulu, aku memiliki seorang teman..."