
"Hmmm... bagaimana bisa aku tidur?" Monolog Qi Feng, yang sedang tenggelam pada pesona pedang panjang ditangannya. Ia duduk di luar ruangan seorang diri, ditemani langit hitam yang penuh bintang, juga rumput hijau yang bergoyang. "Hari ini, untuk pertama kalinya aku membunuh seseorang."
Kilasan memori menerjamnya, perasaan lega saat berhasil menjatuhkan musuh pertamanya, yakni lelaki tua dengan rambut hitam yang terikat kebelakang. Apakah dia memiliki keluarga? "tujuh belas tahun..." Qi Feng memejamkan matanya sebentar, lalu kembali membukanya bulat-bulat. "Sekarang, aku adalah lelaki dewasa."
Lelaki dewasa, apa yang dimaksudnya dengan itu? Apakah lelaki dewasa adalah mereka yang berani membuang nyawanya demi kehidupan banyak orang? Seseorang yang memiliki tanggung jawab besar? Seseorang yang memiliki keluarga untuk dilindungi?
Tidak. Bukan salah satu dari itu semua.
Lelaki dewasa bagi Qi Feng adalah, lelaki yang bisa menyetubuhi seseorang dengan kekuatan juga kekuasaan yang dimiliki olehnya.
Qi Feng berjalan kedepan pintu kamar Yue dengan jantung yang berdegup-degup. Nafas mempercepat dengan sendirinya, keringat dingin mengucur dari pelipis kepalanya.
"Aku menginginkanmu... Yue." Batin Qi Feng.
Pria itu memasuki kamar Yue, melepas pakaiannya, dan menatap wanita yang sedang tertidur itu dengan hawa nafsu yang bergejolak.
Pakaiannya terbuka, dadanya yang mulus memperlihatkan bentukannya. Rok Yue juga sangat terangkat sampai paha montoknya dapat dilihat mata Qi Feng tanpa perlu mengintip.
"Yue..." lelaki itu panas dingin.
Qi Feng langsung menaiki tubuh Yue. Dalam kegelapan, Qi Feng mengendus sumber susu milik Yue. Dan begitu Qi Feng menaruh lidahnya pada benda itu, Qi Feng senang bukan main. Susu Yue adalah susu kualitas nomor satu; manis dan kental di lidah. Qi Feng mabuk tak alang kepalang. Semakin lama ia menikmati susu Yue, semakin banyak kuantitas yang dikucurkan.
Sesekali Yue mendesah, namun perempuan itu belum terbangun. Qi Feng menertawai kedunguannya, dia menggigiti telinga Yue, menjilati pipi Yue dengan lidahnya yang besar dan basah. Embusan napas Yue membuatnya terangsang dan wanita janda itu dibuat melenguh lagi saat tubuh Qi Feng membelit tubuhnya seperti seekor ular.
"Kamu yang mana?" Bisik Yue, saat mereka mulai menerkam satu sama lain.
Qi Feng tersentak, gerakan pinggulnya terhenti saat mata Yue memicing kearahnya, seperti berusaha untuk melihat wajah dari pria yang baru saja menyetubuhinya.
"Yang mana? Apakah maksudnya Qi Ling atau aku?" Batin Qi Feng. "Yang mana? Apakah itu maksudnya dia menginginkan satu, dan bukan yang lain...?!"
"Aku bodoh! aku adalah manusia terbodoh!! apa yang sedang kupikirkan?!" Batin Qi Feng, cemas. "Aku menebas empat orang! Empat perampok!"
"Aku Qi Ling." Bohong Qi Feng.
Kebohongan itu membuat Yue tersenyum, gadis itu lalu mengikat tubuh Qi Feng dengan kakinya, memaksa Qi Feng untuk menusuk dirinya lebih dalam lagi.
"Hm?" Yue nampak menyadari sesuatu.
Seharusnya saat ini Qi Feng sedang keenakan hingga ingin mencapai surga, Namun, bukannya merasa gairahnya di manjakan, ia malah jadi tambah takut ketahuan, ia jadi memikirkan segala dampak dari tindakannya beribu-ribu jam kedepan.
"Apa yang baru saja aku katakan?!" Batin Qi Feng. "Apa yang sedang aku lakukan?!"
Qi Feng kembali menggoyangkan pinggulnya, namun Yue meminta Qi Feng untuk berhenti dengan tangannya yang mendorong perut Qi Feng menjauh. "Kamu nakal, ya?" Ucap perempuan itu, sebelum meremas batang milik Qi Feng dengan kencang untuk memastikan tebakannya. "Kupikir kau sudah punya calon istri."
Qi Feng menganga lebar, tersadar bahwa dirinya sudah ketahuan. "Punya Qi Ling lebih besar dari ini." Ucap Yue, lalu memakai pakaiannya, dan pergi kekamar Qi Ling untuk memperkosa lelaki yang sedang tidur itu.
...----------------...
Pagi harinya, Qi Feng terlihat sangat lemas. Wajahnya murung, pundaknya juga turun. Suara aliran sungai sesekali membuatnya tersadar dari lamunannya yang menghantui dari tadi malam.
__ADS_1
"Kamu harus mencuci darah secepatnya atau dia takkan hilang." Terang Yuna yang sedang mencuci pakaian Qi Ling.
Qi Ling cemberut, lalu melirik ke arah Qi Feng yang sedari tadi hanya diam.
Byur
Qi Feng langsung masuk kedalam air saat Qi Ling menatap mata coklatnya. Ia merasa malu dan bersalah, sehingga reaksi alami pertamanya adalah kabur dari tatapannya.
"Maafkan aku, Qi Ling... kenapa aku memakai namamu?" Batin Qi Feng. "Maafkan aku, Chou Yu!!"
Saat Qi Feng mengeluarkan wajahnya dari air untuk mengambil napas, ia terkejut karena sudah dikelilingi oleh Yuna dan Qi Ling. "Kau kenapa?" Tanya Qi Ling.
"Ayo pulang... hari ini." Ajak Qi Feng. "Kembali ke Shengcun."
"Shengcun?" Tanya Yuna.
"Aku merindukan Chou Yu." Ucap Qi Feng, wajahnya seketika merona ketika mengingat wajah dari wanita itu.
"Sebelum pulang..." Qi Ling menoleh kearah barat, dan langsung menemukan sekelompok pria dengan kudanya sedang menuju rumah Yue untuk membalaskan dendam Ting An, mencuri hartanya, memerkosanya, dan membunuhnya ditempat. "Kita akan menghabisi orang-orang itu."
"Aku ikut." Ucap Yuna.
"Kau tetap disini." Titah Qi Ling, sambil mendelik kearahnya, membuat tubuh Yuna merasakan getaran hebat disekujur tubuh langsingnya
"Kamu hanya akan menghalangi kami, tetaplah disini... kami janji akan membawa Yue kemari, aku janji!" Qi Feng memberikan pengertian pada Yuna, lalu menyusul Qi Ling yang sudah berlari dengan cepat.
"Tetap disini?" Batin Yuna. "Qi Ling, aku ingin terus ikut bersamamu... disaat ibu menyuruhku memilih... didalam hatiku, aku sudah memilihmu! Aku sudah memilihmu dari malam aku menyelamatkanmu..."
Keringat sudah membanjiri tubuhnya, kakinya sudah merasa sakit, mustahil rasanya untuk terus berlari. Namun, melihat teman masa kecilnya yang masih terus berlari membuat Qi Feng ingin selalu berada disampingnya. Ia pun memilih untuk terus berlari, mengabaikan rasa sakit yang secara terus menerus menyerang kakinya.
"Tunggu, Qi Ling! Jangan tinggalkan aku dibelakang! Jangan tinggalkan aku sendiri!!!" Batin Qi Feng.
Saat sudah sampai di depan rumah Yue, Qi Ling langsung masuk kedalam sana dan bertempur.
Sementara Qi Feng, dia berhenti dan diam dibalik pohon, dia ketakutan ketika melihat banyaknya ekor kuda yang terparkir didepan rumah Yue. "Bukannya mereka terlalu banyak??" Bisik Qi Feng. "Ini bukan misi penyelamatan, Qi Ling. Ini misi bunuh diri!!"
"Lagipula aku lupa membawa pedangku, aku bisa bantu apa didalam sana?"
"Yue!!" Teriak Qi Ling dengan lantang. Matanya terus mencari Yue, sementara tangannya terus menebas preman-preman itu, dan memenggal mereka satu demi satunya.
"Kenapa aku hanya berdiri disini?" Tanya Qi Feng. "Pergilah dan bergabung dengannya!! Ambil pedang mereka dan bantu Qi Ling!!"
Tangannya mengepal erat, keringatnya menetes membasahi dagu. "Ayo, lawan rasa takut ini, Qi Feng!! Kalau kamu tertinggal di belakang Qi Ling sekarang, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu didalam bayangannya!!"
Masih terdengar suara riuh keributan dari dalam rumah Yue. "Mereka masih bertarung!! aku membunuh empat orang kemarin!!"
"Kenapa aku merasa sangat rendah dengan sahabat sendiri?! Umurnya sama denganku, dan kami dari desa yang sama!! Tapi, kenapa... kenapa kami bisa berbeda?!"
"Aku akan masuk!! Aku akan melawan preman-preman itu dan menyelamatkan Yue!! Baiklah, dalam hitungan ketiga aku akan masuk!! Satu!! Dua!! Tig--"
__ADS_1
"Qi Feng!" Panggil seorang perempuan dari arah belakang.
"Yue?!" Qi Feng membalikkan badannya, dan berjalan mendekati Yue. "Jadi kamu selamat!! Bagaimana kau bisa keluar?!"
"Aku sedang diluar saat para preman mulai memasuki rumah. aku sangat beruntung." Jawab Yue.
Pundak wanita janda itu bergetar hebat, membuat Qi Feng yang melihatnya merasa kasihan dan menyentuh kedua pundak itu sebagai bentuk penenang. "Jadi bahkan kau juga... merasa ketakutan?"
"Aku hanya berpura-pura tenang, karena aku tahu kalau Ting An memiliki rasa padaku " Jujur Yue. "Jangan jahat padaku." Pintanya.
Qi Feng menjatuhkan badan Yue, lalu mulai memasukan batangnya kedalam wanita itu. "Kita lanjutkan yang kemarin." Ucap Qi Feng.
"Bagaimana dengan Qi Ling?!" Tanya Yue.
Qi Feng terdiam, lalu mulai menggerakkan pinggulnya secara kasar, kedepan juga kebelakang.
Bercak darah selalu bermuncratan ketembok saat Qi Ling mulai mengayunkan benda pipih ditangannya itu kesana dan kemari. Orang-orang didalam sana nampak ketakutan, karena awalnya mereka pikir, kalau Qi Ling hanyalah seorang bocah.
Namun ternyata, Qi Ling adalah sebuah ledakan.
Tidak butuh jumlah yang banyak, hanya butuh kelengahan.
"Yue!! Qi Feng!!! Dimana kalian?!" Raung Qi Ling, mulai khawatir. "Qi Feng!! kalau kau hidup, katakanlah sesuatu!!"
"Vaginamu sangat basah." Ucap Qi Feng. "Kau yakin kalau punya Qi Ling lebih besar dariku?"
"Tentu aku yakin... ah... karena lihat saja sekarang... ah... dia sedang bertarung untuk menyelamatkanku... ah... ah... dan kau... kau malah sibuk memuaskan nafsumu." Jawab Yue.
Dia membela Qi Ling, namun tubuhnya terpuaskan oleh tiap hantaman dari pinggul Qi Feng.
Hm, betapa indah bukan?
Perempuan yang sedang dicari oleh tokoh utama ternyata sedang di hamili oleh pria yang mengaku sebagai sahabat.
Ketegangan dari suasana ini... rasa takut yang menyelimutinya, rasa bersalah juga perasaan lemah ini membuat Qi Feng tambah terangsang.
"Koak! Koak!"
Burung gagak mulai berkumpul saat pembantaian itu telah berakhir.
Qi Ling keluar dari rumah Yue, dengan badan penuh darah. Anehnya, tidak satu tetes darah pun berasal dari tubuhnya.
Lelaki itu hendak kembali ke tempat Yuna berada, namun, matanya tiba-tiba saja terpaku pada sejuntai tali dari pakaian Qi Feng hari ini, juga kain Yue yang berserakan dibalik sebuah pohon.
"Qi Feng..." Qi Ling bersandar pada pohon itu, dan berakhir duduk disana.
Hal terburuk dari sebuah pengkhianatan adalah kenyataan bahwa perlakuan itu tidak akan datang dari musuhmu.
Melainkan dari orang yang kau pilih untuk bisa di percaya.
__ADS_1
Bukan salah siapa-siapa. Sifat pecundang adalah sifat manusia.