
Dengan melakukan sistem yang berulang, Yin Chen berhasil menemukan lokasi Trinitas dengan spesifik. Mereka berada disebuah kuil besar di tengah hutan neraka. Hutan yang memiliki energi jiwa terbesar kedua di negeri air.
Jelas mereka tidak memiliki bisnis apapun di sana. Yeoul hanya bermain licik dengan bersembunyi di dalam, mengetahui kalau dirinya sedang di incar mati-matian.
Mereka yang berada didalam hutan bersama Yeoul sudah pasti siap mati. Tapi tidak begitu dengan sisi Yin Chen. Lelaki itu tau kalau Eunchae masih ingin hidup, sehingga dia akan menjaga wanita itu hingga akhir hayatnya.
Beberapa murid trinitas menyerang Yin Chen dan Eunchae dengan suara yang amat berisik. Mereka menjadi tanda bahaya untuk gurunya, sungguh menyedihkan.
Walau hanya bertarung dengan murid, kalau jumlahnya terlalu banyak sudah pasti Yin Chen akan kewalahan. Trinitas berniat untuk menghabisi Yin Chen ketika lelaki itu sudah tak berdaya. Yeoul memang licik.
Melihat Yin Chen yang sedang berusaha lebih keras dari sebelumnya membuat Eunchae merasa kasihan kepada lelaki gundul itu. Ia tidak ingin menjadi beban, tapi dalam waktu bersamaan ia tidak ingin menghalangi pergerakan Yin Chen.
Ia jadi ragu dalam membidik panahannya.
Setelah menghabisi beberapa pasukan trinitas, Yin Chen mulai bermulut besar. Ia menghina, menyindir, dan memaki Yeoul untuk memancingnya keluar dari persembunyian. Tetapi kehati-hatian Yeoul jauh lebih tinggi dari perkiraan Yin Chen.
Biksu itu pun bertindak cerdas denhan mengganti targetnya menjadi Nero. "Bagaimana rasanya hidup di balik bayangan seseorang?!" Tanya Yin Chen, dengan suara lantang. "Berpindah tempat persembunyian dari balik punggung Ling hingga ke punggung mereka berdua tidak akan mengubah siapa jati dirimu yang sebenarnya, Qi Feng!"
"Kau adalah pengecut, penakut, dan pengkhianat. Pembohong, hina, dan haus pujian. Siapa di dunia ini yang akan memuji seseorang seperti itu?"
"Keluarlah dan hadapi aku, buktikan kalau semua yang aku katakan adalah salah!"
Nero keluar dari balik pohon dengan garis wajah amarah yang sangat kuat. Lelaki itu langsung melempar beberapa serangan ke arah Yin Chen membuat lelaki itu tertawa karena merasa berhasil.
Yeoul dan Noel pun terpaksa ikut keluar dari persembunyiannya, Eunchae langsung menembaki mereka agar mereka tidak menganggu pertarungan Yin Chen.
"Kau tidak mengetahui apapun! Kau hanyalah orang luar!" Nero menduplikasi dirinya, lalu menyerang Yin Chen dari berbagai arah.
__ADS_1
Dengan bantuan Hocrux tasbihnya Yin Chen selamat dari berbagai kondisi buruk.
"Ini adalah pertarungan suci, tidak ada yang keluar dari pertarungan ini hidup-hidup." Ucap Yin Chen.
"Apa-apaan perubahan sikap itu?" Batin Nero.
Yin Chen maju mendekati Nero dengan cepat, lalu menghajarnya dengan beberapa tinju mematikan. Tanpa jeda, ia memerintah tasbih-tasbihnya untuk mencabik-cabik tubuh Nero dengan ganas.
Namun seseorang datang mengacau, dia adalah Noel. Lelaki itu menarik tubuh Nero menjauh, lalu melemparnya kesembarang arah. Walau hubungan mereka terkesan kasar, namun hubungan trinitas adalah sesuatu yang spesial. Mereka tidak dapat dipisahkan, dan saling mementingkan satu sama lain.
Nero belum memahami konsep itu, sementara Noel menjadikan prinsip itu sebagi pedoman hidup. Lelaki itu sangat menyayangi rekannya, dan rela berkorban untuk rekan-rekannya. Bukan hanya Yeoul, tetapi juga Nero.
"Kukira kau hanya boneka, ternyata kau bisa mesra juga." Ledek Yin Chen.
Tanpa berbicara sekalipun, Noel langsung meninju rahang Yin Chen.
Yin Chen adalah lawan yang seimbang untuk Noel. Biksu itu memiliki fisik yang tak masuk di akal. Mereka bertukar tinju dengan beberapa gerakan indah, menggetarkan hutan neraka beserta hewan-hewan gaib di dalamnya.
...----------------...
Pasukan trinitas yang tengah berjaga di sekitar mulut lubang cacing mulai berjatuhan dengan jarum darah di jantungnya serta tenggorokan yang terbuka lebae. Ling dan Ken sudah sampai di pintu masuk, semua akan bertambah rumit bila sudsh di dalam sana.
"Hei, bocah hitam." Panggil Ling, ia lupa nama Ken. Ken yang merasa terhina, namun mengerti kondisinya hanya menatap Ling kesal. "Apakah kau pernah melihat malaikat berdarah?"
"Tidak. Belum. Kenapa memangnya?"
Sebuah gerakan tiba-tiba membuat Ken terjatuh pada kedua lututnya. Ling baru saja menyerang beberapa titik fatal ditubuh Ken, membuatnya tidak sadarkan diri dalam beberapa waktu kedepan.
__ADS_1
"Aku belum terlalu mempercayaimu, datanglah kembali kepadaku bila niatmu memang tulus." Pamit Ling, sebelum memanjat kedasar lubang.
...----------------...
Pertarungan tangan di dominasi oleh Yin Chen. Mereka berdua sudah berlumuran darah dan di banjiri oleh rasa sakit. Namun yang satu sedang menangis kesakitan, sementara yang lainnya tertawa karena merasa terhibur. "Sudah berakhir?" Yin Chen melepaskan cekikannya, membuat Noel jatuh tergeletak di atas tanah dengan rahang juga leher yang patah.
Dari arah belakang, energi jiwa berkumpul dijemari Yeoul. Wanita itu sudah siap membunuh Yin Chen. Namun ketinggian hatinya membuat bibir berkata: "ada kata-kata terakhir?"
Pada saat itu Yin Chen baru tersadar kalau Eunchae sudah tertidur diatas tanah penuh luka. Dia terbawa suasana.
Ia mencoba untuk melihat situasi ini dari berbagai arah dalam waktu yang tidak banyak. Yeoul bisa melepaskan kumpulan energi jiwa itu kapan saja bila ia malas menunggu. Menghindar juga sepertinya sudah mustahil. Hanya mulut besarnya lah yang bisa membuat pertarungan suci ini berakhir buruk untuk kedua pihak.
"Buktikan aku salah, Qi Feng!!"
Yeoul melepaskan energi jiwanya, menembak Yin Chen tepat di dada. Membuat lelaki kekar itu jatuh disebelah Noel, lawan kuat terakhirnya.
Suasana hening sebentar, Yeoul mencoba memastikan kalau Yin Chen masih hidup. Namun ternyata, laki-laki itu sudah benad-benar tewas. Kematian yang bodoh untuk lelaki bijak sepertinya.
Yeoul yang hendak berkata-kata tiba-tiba tersedak oleh darahnya sendiri. Ia menyentuh lehernya dan menyadari kalau ia sudah tertebas dari belakang.
"pengecut, penakut, dan pengkhianat. Pembohong, hina, dan haus pujian." Ulang Qi Feng dengan nada yang lirih. "Itulah diriku, dan aku muak berlari darinya."
Yeoul terjatuh rubuh bersama dengan segenap kepercayaannya pada pria berambut putih itu, ia merasakan kekecewaan menusuk hatinya begitu dalam. Perempuam itu masih ingin hidup.
Sungguh kematian yang tidak istimewa untuk seorang wanita cantik yang sudah membantu banyak dalam pelaksanaan rencana kiamat sesosok malaikat. Sebaliknya sebuah kemenangan yang tidak terduga untuk seorang pengecut yang mulai menaruh rasa percaya pada jati dirinya sendiri.
Qi Feng berjalan pergi dari hutan neraka tanpa rasa sesal sedikitpun. Ia merasa jatuh cinta pada setiap langkah yang ia ambil selama kepergiannya menuju jalan yang selama ini ia anggap benar.
__ADS_1
Eunchae yang masih hidup mulai merasa penasaran dengan sudut pandang Qi Feng, wanita itu pun tanpa berpikir panjang mulai mengikuti lelaki itu secara diam-diam.