
Suatu keluarga kecil di kerajaan Selatan sedang berkumpul diatas meja makan. Mereka tampak antusias, senyuman bahagia dan berbagai emosi lainnya terlukis dengan sempurna. Sampai tiba-tiba saja, terdengar suara gedebuk kencang diatas atap yang membuat mereka semua melompat kaget seperti domba yang ketakutan. "Apa itu? Kucing?" Sang bapak keluar dari rumahnya, dan melihat keatas. "Eh?"
Seorang perempuan dengan rambut pirang yang dikuncir dua, terlihat sedang melarikan diri dari kejaran seorang pria.
Perempuan itu bernama Feng Lian. Dia adalah pengikut You Ming. Sementara lelaki yang mengejarnya adalah Lotus, dia merupakan salah satu pengikut Apotheosis ke-3, yakni NeZha.
Sama seperti You Ming, Feng Lian di cap sebagai seorang pengkhianat oleh para Malaikat. Mereka tidak pernah berhenti berlari dan bertarung setelah itu.
Sebuah lompatan jauh Feng Lian ambil agar dia bisa terlepas dari kejaran Lotus yang terkenal lincah. Ia menggapai atap lain, lalu lanjut berlari. Sementara lelaki yang mengejarnya itu lebih memilih untuk melompat keatas sebuah atap yang berdasarkan jarak lebih dekat, kemudian dia berlari cepat untuk mengejar ketertinggalannya.
"Tch, matilah!" Lotus melakukan sebuah sihir, yakni tiga langkah api, untuk menyerang tubuh lemah Feng Lian dari atas udara.
Perempuan itu terjatuh dari atap, lalu terbaring lemah cukup lama di atas tanah yang berdebu.
Sesaat sebelum Lotus memenggal kepala Feng Lian dengan senjata pusakanya yang berbentuk kapak, You Ming datang tepat waktu, dan mendorong lelaki itu dengan sihir telekinesisnya hingga menembus beberapa rumah dibelakang. "Feng Lian! Lari!"
Feng Lian berdiri diatas kakinya lalu mereka kembali berpencar, meninggalkan Lotus yang masih tergeletak ditempatnya.
Kerajaan Selatan adalah satu-satunya kerajaan yang memiliki pintu portal menuju bukit gaib, tempat senjata pusaka, atau yang lebih dikenal sebagai Hocrux, berada. Senjata pusaka atau Hocrux, adalah senjata yang harus dimiliki oleh seorang Apotheosis beserta muridnya. Sebab itu, You Ming dan Silver harus membawa murid baru mereka ketempat tersebut dengan selamat.
Lantunan musik parade menggelegar kencang disalah satu titik kerajaan selatan. Mereka sedang bersuka cita dan bersenang-senang dibawah lampu-lampu kuning yang menerangkan seisi kota. Semua sedang berbahagia, sementara Silver dan murid-muridnya harus duduk diam di sebuah kamar hotel untuk bermalam.
Eunchae nampak bosan, gadis cerewet itu sebenarnya ingin pergi keluar sana dan ikut bersenang-senang. Ling yang peka pun berdiri dari duduknya, lalu mengajak perempuan itu untuk pergi ke parade.
Jalanan dibanjiri manusia, makanan enak melimpah dipinggirannya. Langit dihiasi oleh petasan, bintang jatuh simpang siur seolah tidak ada yang melihat. Semuanya terjebak dalam satu moment.
Garis wajah Eunchae ceria, perempuan itu menyukai keramaian. Sementara Ling, dia terhipnotis dengan senyuman itu. Senyuman Eunchae yang sangat manis dan menenangkan hati.
"Sial, dia cantik sekali."
Sebuah tekanan besar melintas, menghancurkan semua yang ada dihadapan mereka. Ling dengan refleks memeluk Eunchae, dan membawanya ketempat aman.
You Ming dan Lotus telah sampai di kota ini.
"Astaga, para warga!" Teriak parau Eunchae. Wanita itu membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, dan berusaha untuk menahan tangisnya yang tak bisa dibendung lagi. Melihat banyaknya nyawa direnggut dalam sekejap mata membuat trauma lamanya kembali bangkit.
"Kali ini ulah siapa?" Tanya Ling.
"Sihir telekinesis ini... sudah pasti ulah You Ming!" Jawab Eunchae, tangannya terus menyeka tiap tetes air mata yang mengalir.
"Apakah aku bisa melawannya?" Ling penasaran.
__ADS_1
"Dia bukan lawan."
Ling tersentak, lalu menatap Eunchae heran. "Tapi dia merenggut banyak nyawa."
"Begitu juga denganmu." Ingat Eunchae. "Pasti ada sebuah perlawanan, kita harus membantunya!"
"Tidak. Kita tidak akan membantunya." Bantah Silver yang baru saja muncul karena merasakan ledakan energi jiwa yang begitu besar. "Kita datang kesini untuk mengambil Hocrux, bukan membantu You Ming."
Eunchae mendecih kesal, lalu mengalihkan pandangannya dengan hidung yang berkedut. Dia benci dengan kepatuhan yang dianut oleh Silver.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang portal yang tersembunyi dibalik tembok sihir. Hanya para Apotheosis beserta murid-muridnya lah yang bisa keluar masuk dengan seenaknya.
Saat mereka sedang berjalan menyusuri lorong gelap bermodel kuno itu, seseorang menyusul masuk keruangan dengan nafas yang sangat tergesa-gesa.
Dia adalah You Ming.
"Eunchae, tolong temani Ling." Pinta Silver, sebelum berjalan kearah yang berlawanan.
"Ikuti aku. Cepat." Ajak Eunchae, ia mempercepat langkah kakinya bersama dengan Ling.
You Ming menatap Silver, lalu mengangkat kedua tangannya keatas tinggi-tinggi. "Aku kesini bukan untuk bertarung. Muridku juga sedang berada di bukit gaib." Ungkapnya.
Silver berhenti melangkah, lalu merubah raut wajahnya menjadi iba. "Dimana Tyrael?"
"Bawa aku ketempatnya."
...----------------...
Dengan penuh keraguan, Ling melangkahkan kakinya untuk melewati sebuah garis eclipse berpercik cahaya oren, sebuah perbatasan antarruang paling unik dalam hidupnya. Dia bisa berpindah tempat dalam waktu yang sangat singkat. Semua terasa sangat mustahil, bagaikan mimpi!
Eunchae yang sudah lebih dulu sampai di seberang, menyarankan untuk berpencar supaya mempercepat pencarian. Ling pun setuju, dan mulai mengelilingi bukit gaib seorang diri.
"Wow..." Ling terpana dengan pemandangan diluar sana. Banyak sekali bukit yang berdiri sendiri, seperti pemandangan di Zhangjiajie, namun dilengkapi dengan kabut tebal di dasarnya. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan mau jatuh kebawah sana." Batinnya.
Di bukit gaib ini, Hocrux seperti rumput. Mereka tersebar dimana-mana. Namun, kekuatan mereka sangatlah menguji keuntungan. Ada yang kekuatannya super duper besar, dan ada juga yang kekuatannya sangat amat lemah.
Ling jadi harus lebih berhati-hati dalam memilih.
Saat laki-laki itu ingin memungut sebuah pedang, ia bertemu dengan seorang wanita berambut pirang yang balik menatapnya. "Kau siapa?" Tanya wanita itu.
"Aku Ling, dari desa Shengcun. Kau sendiri?"
__ADS_1
"Feng Lian. Namaku Feng Lian." Merasa kalau Ling adalah satu individu yang baik, Feng Lian melangkah mendekat, dan mencoba untuk berkenalan dengannya. Dia terkurung di bukit gaib, mencari teman dan mencari jalan keluar bersama adalah jalan yang dia pilih.
"Apakah itu Hocrux-mu?" Tanya Ling, saat mendapati rantai panjang yang membelit lengan Feng Lian.
"Ya. Rantai kebangkitan, adalah Hocrux yang guru ku minta."
"Kebetulan sekali, Silver juga menginginkan Hocrux itu untuk Ling." Celetuk Eunchae dari sisi lain bukit.
Feng Lian menoleh, diikuti dengan Ling yang kebingungan. "Mungkin saja mereka bekerja sama." Pikir positif Feng Lian.
"Hmm, kalau begitu, berikan Hocrux itu pada Ling." Tantang Eunchae.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Karena aku lebih memercayai Ling, daripada kau."
"Eunchae." Potong Ling. "Sudahlah, jangan bertengkar. Aku akan mencari Hocrux yang lain, lagipula aku lebih menyukai pedang daripada rantai."
Ling kembali berjalan meninggalkan yang lainnya, untuk mencari sebuah pedang yang memikat mata. Eunchae melengus malas, lalu mengekori Ling, disusul oleh Feng Lian yang masih mencari jalan untuk pulang.
Dengan kekuatan sihir telekinesis yang dimiliki Feng Lian, mereka mampu melompat dari bukit ke bukit. Namun, energi jiwanya yang terbatas membuat wanita itu gampang kelelahan, dan hampir pingsan.
"Kita tidak bisa seperti ini terus." Ucap Eunchae.
"Ya. Setelah ini, aku akan mengambil pedang pertama yang aku lihat." Ujar Ling, sebelum pergi meninggalkan Eunchae karena perempuan itu berinisiatif untuk melindungi Feng Lian yang membutuhkan istirahat.
"Ah!" Ling menemukan sebuah pedang panjang berbentuk katana. Ia memungutnya, lalu kembali ketempat Eunchae dan Feng Lian berada. "Aku sudah dapat."
"Oke, kita siap pulang!"
"Kemana?" Tanya Feng Lian.
"Ke bawah." Jawab Eunchae.
"Eh?" Ling tertoleh dengan wajah terkejut.
"Dibawah sana ada gerbang gaib yang akan membawa kita semua kembali ke dunia manusia." Jelas Eunchae. "Dibalik kabut itu ada sesosok monster berwujud tentakel. Jumlah mungkin puluhan ribu. Jadi tolong, jangan lengah."
Feng Lian meneguk ludahnya kuat-kuat, lalu menyudahi sesi istirahatnya. "Baiklah, ayo kita pulang."
Mereka terjun kebawah secara bergantian. Ling yang melompat lebih dulu harus membuka jalan untuk mereka semua.
__ADS_1
"Ayolah, Ling. Ini bukan kali pertama kau menebas seribu kali, bukan?" Batin Pria itu, lalu memasang kuda-kuda menebasnya. Setelah sekian lama, Ling akan kembali mengayunkan pedang panjangnya untuk membunuh sesuatu. "Oke, mari kita mulai!!!"