VAGRANT

VAGRANT
Penangkapan Mahluk Liar


__ADS_3

"Kau tentu tahu kalau kau tidak di ajak, bukan?"


Chou Yu berjalan penuh semangat didepan Yin Chen dengan sebakul perlatan memasak di pundak kecilnya. Perempuan itu sangat antusias dalam misi penangkapan ini. Seolah hidup dan mati seseorang sedang dijadikan taruhannya.


Tapi kalau memang Yin Chen ingat-ingat, Yin Chen sempat berjanji: kalau pagi nanti dia belum menangkap Qi Ling dan membawanya pulang ke desa, maka Yin Chen harus bunuh diri dengan Seppuku. Seppuku adalah tradisi bunuh diri secara terhormat dari jepang, negara yang pernah di jelajahinya dulu, tradisi membelek perut selebar-lebarnya hingga organ tubuh kita keluar dan berserakan.


"Qi Ling! Qi Ling!" Panggil Chou Yu.


Tentu saja tidak ada yang menjawab panggilan itu. Mereka saja baru separuh jalan dari desa menuju hutan gelap.


Setibanya di pedalaman hutan gelap, Chou Yu teriak histeris. Ia menemukan selusin tubuh dari belasan pria yang terkapar, tersusun berantakan, tanpa kepala dilehernya.


Yin Chen langsung bertekuk lutut, dan mengeluarkan tasbihnya dari kantung pakaian. Ia mendoakan mayat-mayat itu, agar bisa diterima di surga kelak.


"Apakah Qi Ling pelakunya?" Tanya Chou Yu.


"Siapa lagi?" Balas Yin Chen.


Chou Yu ikut bertekuk latut, lalu berdoa. "Tolong maafkan Qi Ling." Batin gadis perawan itu.


Di kesunyian tengah hutan, Yin Chen membuat api unggun untuk di jadikan sumber penerangan di malam hari, panas api unggun itu juga dimanfaatkan untuk memasak rebusan diatasnya. Sementara wanita yang ikut bersama lelaki itu sedang mencari Qi Ling dengan meneriaki nama pria itu dari sekitar api.


"Chou Yu, makanlah." Pinta Yin Chen.


"Kenapa kau bersikap santai sekali? Kalau kita tidak menangkapnya sekarang, kau bisa mati besok." Komentar Chou Yu, lalu duduk didepan Yin Chen dengan mangkok kecil ditangannya.


"Aku adalah seorang biksu. Kalau aku benar mati, aku tidak akan membawa penyesalanku kebawah tanah." Jawab Yin Chen.


Asap hitam dari api unggun yang mereka buat menjuntai tinggi keatas langit. Qi Ling yang pada saat itu sedang dalam kondisi kelaparan bukan main, melihat asap itu dari kejauhan ratusan meter. Tanpa berpikir lagi, dia langsung berlari kesana seperti singa betina yang telah mengunci mangsanya.


"Chou Yu, apa yang sedang mengganggumu?" Tanya Yin Chen, sebelum menyendokkan sepotong jamur kedalam mulutnya. "Maukah kau menceritakannya padaku?"

__ADS_1


Mendapatkan perlakuan halus seperti itu, air mata Chou Yu tiba-tiba saja meluap, lagi-lagi dia menangis lepas sambil bercerita panjang pada si biksu.


"Begitu, ya." Sahut Yin Chen setelah mendengar cerita lengkap Chou Yu yang diselingi banyak isakan. "Sangat disayangkan, semua itu terjadi tepat sebelum kalian menikah..."


"Qi Feng pembohong!" Umpat Chou Yu, kesal.


Yin Chen mengisi ulang mangkuk Chou Yu, lalu mengembalikan wadah kayu yang sudah berisikan lauk berkuah itu kepada pemiliknya. "Apakah kau mencintai Qi Feng?"


Chou Yu mengangguk kecil, sambil terus terisak. Perlahan, dia melahap makanan panas ditangannya itu sedikit demi sedikit. "Apa yang kau suka darinya?"


Apa yang kusuka?


Mendengar pertanyaan yang itu, Chou Yu meminta waktu jeda untuk berpikir. "Jadi begini..."


"Dari kami kecil, Qi Ling sudah dikucilkan oleh warga desa. Seperti mahluk liar, dia jarang sekali turun dari atas gunung. Saat usianya masih 15 tahun, dia membunuh seseorang untuk pertama kalinya. Orang yang dibunuhnya itu adalah seorang penantang yang datang ke desa kami untuk mencari nama. Sejak kejadian itu, dia tambah dikucilkan oleh warga Shengcun."


"Jelas. Mereka jadi takut padanya." Celetuk Yin Chen.


"Itulah yang kusukai dari Qi Feng." Tutup Chou Yu.


Yin Chen mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, lalu tersenyum girang. "Itu sangat aneh, Chou Yu."


"Hah?"


"Kau menyukai Qi Feng, karena dia mau terus berteman dengan Qi Ling?" Tanya Yin Chen. "Ha ha ha, manusia memang misterius. Terkadang perkataan dan kenyataannya suka berbeda, bahkan setelah kau menguliknya sedalam lautan pun kau takkan bisa mengenali diri orang lain secara menyeluruh."


"Tapi tidak usah sungkan, apalagi malu. Lagipula, kita hanyalah seorang manusia."


Mata Yin Chen melirik kesebuah pohon rimbun yang berada dibelakangnya secara spesifik. "Bukan begitu, Qi Ling?"


Qi Ling keluar dari sana, dengan penampilan yang sangat lusuh. "Kemarilah dan bergabung dengan kami." Ajak Yin Chen. "Qi Ling, kamu terlihat sangat lelah."

__ADS_1


Qi Ling mengerutkan dahinya, berusaha untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Penglihatannya buram, namun dalam beberapa waktu singkat, dia bisa melihat.


"..Cho--"


"Kau bahkan tidak bisa bicara." Sahut Yin Chen. "Kami disini untuk menangkapmu."


Qi Ling mengangkat pedangnya, bersiap untuk menyerang.


Melihat Chou Yu yang sedang berjalan kearahnya, Qi Ling merasa dikhianati. "Chou Yu, apakah kau sama seperti yang lain?" Batinnya.


"Qi Ling." Panggil Chou Yu dengan tatapan sayu. "Siapa Yue?"


"Hah?"


"Seperti apa rupanya?"


Benar. Mereka belum membahas soal ini. Walau malam itu mereka sempat berbincang, mereka tidak membahas soal ini. Mereka terlalu sibuk dengan masa lalu, terlupa dengan apa yang baru saja Chou Yu rasakan, yakni patah hati.


Pada detik itu, yang Qi Ling lihat hanyalah Chou Yu kecil yang ia kenal dekat. Wanita itu berlari sambil merengek, dan memeluk Qi Ling erat.


"Qi Ling."


Bibir Chou Yu bergetar. Ia tersadar kalau sudah lama sekali rasanya ia tidak menyebut nama itu untuk memanggil pria dipelukannya. "Qi Feng... Qi Feng jahat..."


"Aku telah ditinggalkan lagi."


Tubuh Qi Ling melemah, genggamannya pada pedang pun menghilang. Pedang itu terjatuh, bersama dengan dirinya yang sudah hilang kesadaran.


"Rencanaku hanyalah memasak makanan enak ditengah hutan untuk memanggil Qi Ling. Tapi, aku lupa untuk mencari eksekusi bagus." Ucap Yin Chen yang sedang berjalan mendekati mereka. "Ternyata, membawamu adalah pilihan yang tepat."


Yin Chen memeluk dua manusia itu, lalu berkata. "Qi Ling, Chou Yu adalah yang terkuat diantara kita semua. Dia sama sekali tidak takut. Dia bahkan tidak takut padamu, Qi Ling."

__ADS_1


__ADS_2