VAGRANT

VAGRANT
Biksu dan Pendosa


__ADS_3

"Kamu mungkin besar, tapi hatimu kecil."


Qi Ling menatap pria itu dengan tatapan kosong. Ujung alisnya terangkat tinggi, keringat rasa sakit membasahi tubuhnya. Ia sesekali mendesis, dan menyempatkan diri untuk bertanya, "kau siapa?"


Pria berkepala botak itu tersenyum ramah, lalu menjawab pertanyaan Qi Ling dengan santun, "kenapa mahluk liar sepertimu menginginkan namaku?"


Suara gemersak dedaunan yang diinjak membuat Qi Ling tertoleh kebelakang. "Mereka akan datang, kau tidak ingin lari?" Tanya pria itu.


Diperhatikan dari gaya bicara, penampilan, juga aura tenang yang terpancar dari tubuhnya, lelaki itu adalah seorang biksu. "Aku akan membunuhmu, walaupun kau adalah seorang yang suci sekalipun." Ancam Qi Ling.


"Apa kau takut?"


"Hah?"


"Kau akan memotongku jika aku bahkan menyentuhmu. Kau tetap gugup, dan kau selalu siap untuk menyerang. Kau menjauhkan diri dari semua orang karena kau terlalu takut pada manusia." Ceramah Biksu. "Kau adalah orang terlemah di desa ini."


Merasa terhina, Qi Ling berkenan untuk menebas pria itu. Namun, seruan dari para tentara yang melihatnya, membuat bahkan Qi Ling pun lari ketakutan dan bersembunyi dalam semak.


"Kemana dia pergi?" Tanya seorang tentara. "Yin Chen! dimana Qi Ling? Ke arah mana dia pergi?"


Yin Chen menunjuk kesebuah arah dengan jempolnya. "Kesana."


Para tentara langsung cabut dari lokasi itu, membawa kerusuhan pergi menyertainya.


"Yin Chen, aku tidak tahu siapa kamu, tapi aku tidak memerlukan bantuanmu." Ucap Qi Ling yang sedang bergelantungan diatas pohon bambu. "Rakyat desa dan tentara itu takkan bisa menangkapku. Aku tidak berhutang apapun padamu."


Yin Chen menyeringai, lalu berteriak. "Hei! Itu dia! Qi Ling disini!"


Qi Ling mengerjap, dan kabur dari sana bagaikan macan kumbang yang ketakutan.


Yin Chen tertawa terbahak ketika melihat para tentara yang bergerombol mengubah arah laju, dan pergi melewatinya lagi untuk mengejar punggung Qi Ling tanpa kenal lelah.


Keesokan harinya, upaya pemburuan diintensifkan. Pasukan pendukung dikirim dari provinsi lain. Para warga desa lanjut berpatisipasi dalam pemburuan. Mereka diperintah untuk meninggalkan ladang mereka. Mereka terpaksa menjelajahi pegunungan hanya berbekal tombak bambu. Namun setelah itu semua, Qi Ling masih belum tertangkap.


...----------------...


Kuil Shengcun.


Seorang pria berkumis tebal menuangkan Baijiu kegelasnya sendiri di dalam kuil Shengcun yang suci. Ia menyeruput minuman itu, dan untuk sesekali ia mengeluh dan berkomentar pada tuhan.

__ADS_1


"Ini kacau... kalau kita tidak segera menangkap Qi Ling, aku akan kalah suara dan dihukum mati." Ucap Yong Kai, si calon gubernur.


"Tenanglah, Tn. Yong Kai. Kita pasti akan segera menemukannya." Tenang seorang biksu yang tinggal di kuil itu.


"Chou Yu, dimana Chou Yu?!" Bentak Yong Kai. "Kalau aku harus mati, aku mau mati ditemani oleh wanita cantik!"


"Aku sedang berusaha mencarinya..."


"Kalau begitu dipercepat, dasar botak!!"


Biksu itu membungkukkan badannya, lalu keluar dari kuil dan berteriak memanggili nama Chou Yu ke sekeliling desa.


Tanpa biksu itu sadari, di balik sebuah pohon tua, Chou Yu duduk disana sambil menangisi Qi Feng yang sudah sebulan ini pergi meninggalkannya. "Qi Feng, kamu bajingan." Umpat Chou Yu dengan suara yang begitu pelan.


Seseorang ikut duduk dihadapannya. Seorang biksu yang dikenali Chou Yu, tapi bukan biksu yang sedari tadi mencari namanya. "Yin Chen?"


"Chou Yu, mereka mencarimu." Jawab Yin Chen.


"Aku tidak peduli." Balas Chou Yu. "Aku benci pria berkumis itu. Setiap hari yang dia lakukan hanyalah minum-minum, dan mencoba untuk memperkosaku didalam kuil. Lelaki seperti itu takkan bisa menangkap Qi Ling."


"Hmm... kau benar. Baiklah, mau kutemani?"


Yin Chen menatap mata Yong Kai lalu berkata padanya, "bagaimana bisa seorang pemabuk cabul menangkap pria sepeti Qi Ling?"


Biksu yang melayani Yong Kai langsung ternganga dan berkeringat dingin.


"Apa katamu?" Balas Yong Kai dengan satu alis yang terangkat.


"Berapa bulan, berapa ratus pria yang kau butuhkan hanya untuk menangkap satu orang?" Tanya Yin Chen, sebelum duduk berhadapan dengan Yong Kai. "Penduduk desa bosan denganmu dan ketidakmampuanmu dalam melakukan hal ini."


Yong Kai mengeluarkan pisau dari sakunya, lalu menodongkan benda pipih itu pada Yin Chen. Chou Yu yang ada disebelah Yin Chen menjerit histeris, sementara Yin Chen sendiri masih tetap terlihat tenang. "Hmmm..." Lelaki itu memijat rahang tegasnya, lalu berkata. "Bagaimana bisa seorang kapten yang tidak kompeten menebas ragaku?"


Yong Kai menghentakkan kakinya begitu kencang diatas lantai jerami, memperlihatkan betapa kesalnya dia. "Ulangi perkataanmu, biksu!"


"Ha ha ha. Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Baiklah, aku akan mengulanginya sekali lagi." Yin Chen nyengir, dengan tangan yang menunjuk Yong Kai. "Aku akan berbicara secara per-la-han, agar kau bisa mengerti dengan apa yang aku katakan."


"Ti-dak-kom-pe-t--"


"Shhh!!" Chou Yu memotong omongan Yin Chen lalu membekapnya. "Maaf, dia selalu seperti ini. dia cerewet, dan selalu berkata tidak jelas. Jangan dimasukkan kehati." Mohon Chou Yu.

__ADS_1


"Tidak, Tidak. kita tidak seharusnya menyembunyikan fakta darinya, Chou Yu." Tolak Yin Chen. "Tidak Kompeten ya tidak kompeten. Jika seseorang tidak sadar kalau dia tidak kompeten, maka seserorang perlu memberitahukannya tepat didepan muka."


"Berani-beraninya kau menghinaku?! kubunuh kau!"


Yin Chen mengelak dari tusukkan pisau Yong kai, lalu berkata. "Aku tidak percaya kalau Qi Yuan tidak membunuh lelaki ini!! aku benar-benar tertarik."


"Hah?"


"Maksudku, warga desa seharusnya sudah berhenti bekerja dilapangan kalau bukan karena ke tidak kompeten-an mu." Jelas Yin Chen. "Mereka dipaksa bergabung misi pemburuan dan bekerja tanpa dibayar. Itu sangat memilukan. Warga seharusnya sedang mencari nafkah sekarang."


"Diatas itu, Qi Ling adalah mahluk liar. Kenapa mereka harua membuang nyawa hanya untuk membantumu menangkap lelaki itu." Imbuhnya.


"Tapi, itu untuk keselamatan des--"


"Keselamatan desa? itukah alasan mereka harus berkorban nyawa? Hmmm, mungkin kau benar." Yin Chen berdiri, lalu berjalan keluar dari kuil. "Kalau begitu, aku akan pergi kegunung untuk ikut menangkap Qi Ling. Tapi dengan dua syarat, tarik mundur semua orang yang sudah kau kirim, dan selama aku pergi juga seterusnya, kau tidak boleh menyentuh Chou Yu atau bahkan Qi Yuan sekalipun."


"A-- Apa?! Bahkan Qi Yuan??"


Bagi Yong Kai, Qi Yuan adalah menu spesialnya di malam hari. Kalau tidak bisa menyentuhnya lagi, rasanya seperti ingin mati. "Rrrahhhh!!!" Yong Kai menebas Yin Chen.


"Yin Chen!!!" Teriak parau para biksu, yang mengintip dari pintu.


Lelaki gundul itu tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Dan anehnya, dia malah tertawa terbahak-bahak sambil menjilati darah yang mengalir dari kulit lengannya yang terluka. "Kalau kau tidak menaruh kekuatan pada pinggulmu, yang bisa kau potong hanyalah kulit!!"


"Yin Chen... Mereka barusan memanggilnya Yin Chen..!?" Batin Yong Kai.


"Kesetiaan pada tuan. Beramal untuk orang banyak. Ini semua adalah kebajikan dasar yang di butuhkan oleh posisimu."


"Cukup, Yin Chen."


"Y-Yi-- Yin Chen!!" Batin Yong Kai lagi. "Yin Chen, teman dekat dari Sun Jian, si raja dari kerajaan selatan!?"


"Kau tidak peduli dengan mengganggu kehidupan penduduk desa, kau juga tidak peduli dengan penderitaan pasukanmu. Satu hal yang kau pedulikan adalah memaksa wanita cantik dan seksi untuk melayani Baijiu-mu." Tegas Yin Chen. "Kau hanyalah seorang yang korup. Kau datang kesini hanya untuk mencari suara terbanyak. Aku berkenan untuk mengatakan lebih banyak hal lagi, tapi ini sudah berakhir untukmu. Setelah semua kekacauan yang kau buat, kau masih belum bisa menangkap seorang pria muda bernama Qi Ling."


"Kau akan dihukum mati, Yong Kai." Jujur Yin Chen. "Tapi, untuk sekarang aku akan menyelamatkan nyawamu dengan menangkap bocah nakal satu ini sebelum tenggat waktunya tiba."


"Kau... membantuku?" Ulang Yong Kai tak percaya.


"Ya. Gunakanlah kesempatan ini untuk bertaubat kepada buddha." Jawab Yin Chen, lalu pergi keluar kuil, di susul oleh Chou Yu yang masih kebingungan dengan apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2