VAGRANT

VAGRANT
Makna Kepatuhan


__ADS_3

Diseperempat malam, Ling terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang bergemetar hebat karena suhu ruangan yang terlalu dingin. Angin sejuk kerap kali memasuki kamarnya karena pintu masuk yang dibuka lebar entah oleh siapa. Di luar sana terlihat ada sosok seorang pria yang sudah lama ini ingin Ling temui. Tapi karena rasa takut yang sangat hebat, Ling pun menghindar. Maka karena itu, untuk saat ini, Ling akan memberanikan diri dan menghampirinya.


"Yin Chen." Panggil Ling.


Biksu itu melirik, lalu kembali menaruh matanya pada pemandangan indah yang berada tepat di hadapannya, yakni lautan bintang yang bersinar terang pada malam hari. "Lihatlah, bulan sedang menghakimiku."


"Kenapa?"


"Karena aku gagal dalam banyak hal." Jawab Yin Chen, dengan mata yang tersenyum. "Aku gagal melindungi seorang teman, gagal menjadi seorang yang patuh, gagal dalam menentukan kebenaran, gagal dalam membimbingmu kejalan yang benar..."


"Tidak, bukan kau yang gagal dalam membimbingku." Bantah Ling. "Tapi Aku lah yang gagal dalam melaksanakan perintahmu."


"Aku sedang mencari makna kekuatan, Yin Chen. Tapi bukannya menemukan sebuah jawaban, aku malah kembali kepada diriku yang dulu." Ujar Ling dengan badan yang perlahan membungkuk. "Awalnya aku kira semua sudah berjalan dengan baik. Aku menaklukan puluhan Dojo tanpa membunuh, aku mengajarkan beberapa dari teknik ku kepada mereka... Tapi ternyata, itu semua sia sia. Aku tetap gagal. Aku kembali menemukan rasa takut yang sama, aku kembali membunuh untuk keselamatanku sendiri. Aku kembali menjadi mahluk liar. Aku kembali menjadi Setan.


"Seolah-olah, Qi Ling kembali hidup." Simpulnya.


"Dari ketiga perintah yang ku beri, berapa yang sudah kau kerjakan?" Tanya Yin Chen.


"Aku sudah melayani seseorang."


"Maka Qi Ling akan tetap mati." Tandas Yin Chen. "Qi Ling adalah seorang pembunuh yang tidak menyayangi hidupnya. Sementara kau, kau adalah seorang pelayan, seorang guru, seorang pengembara, Seorang idola, seorang teman, seorang murid, dan yang pasti, kau adalah seseorang yang dicintai."


Yin Chen berdiri, lalu beranjak pergi kekamarnya. "Tidurlah, besok akan menjadi hari yang sangat berat."


Ling menatap kepergian biksu itu, lalu menoleh ke arah langit.


"Seorang guru? Benar juga, aku pernah mengajarkan beberapa teknik yang kumiliki kepada ratusan murid. Seorang idola? Apakah diluar sana benar ada seseorang yang mengidolakanku?" Ling menatap pedangnya dalam diam, lalu terkekeh.


"Kenapa aku selalu merendahkan diriku sendiri?"


...----------------...


Di lain tempat, sang Malaikat dan para Apotheosis-nya juga sedang menyiapkan rencana untuk mengagalkan Silver dan teman-temannya.


Langkah pertama yang mereka ambil adalah membuat sebuah sistem pemantau yang saling terhubung satu sama lain, sehingga dengan begitu, maka ruang gerak Silver dan yang lainnya akan menjadi sangat terbatas.

__ADS_1


Untuk melakukan hal tersebut, sang Malaikat kemudian memperkenalkan Apotheosis ke-5 yang baru kepada Caius dan Red. Seorang pria berwajah kekanak-kanakan, berambut putih berantakan. Matanya merah, telinganya tegak, senyumannya mengejek. Apotheosis tersebut bernama Frost, dan kemampuan pertama Frost terletak pada sepasang mata miliknya. Yang mana, ia bica mencuri penglihatan orang lain hanya dengan menatap mata korbannya.


Kemudian dengan gabungan kekuatan dari Vaas, Yeoul, dan Frost, mereka akhirnya menciptakan sebuah sistem pemantau yang berada diseluruh titik kerajaan Selatan dan tentunya saling terhubung satu sama lain.


Maka dengan begitu, sekecil apapun pergerakan yang dilakukan oleh Silver dan teman-temannya pasti akan mudah diketahui oleh mereka.


Namun untuk membuat sistem tersebut tetap berjalan, maka Yeoul beserta Frost akan membutuhkan banyak sekali kekuatan jiwa. Oleh sebab itu, Vaas pun ditugaskan untuk mengalirkan air dari telaga emas yang berfungsi untuk mengisi ulang kekuatan Yeoul juga Frost. Sehingga energi jiwa mereka tetap terisi penuh.


Beberapa waktu telah berlalu.


Yeoul yang sudah mengetahui tempat persembunyian Silver dan teman-temannya kemudian segera melaporkan hal tersebut kepada Malthael. Namun sayang, Malthael tidak memberikan misi lanjutan kepada Caius dan Yeoul. Ia malah mempercayakan tugas tersebut kepada Frost dan Dusk.


(Dusk adalah Apotheosis ke-10 negeri Air. Dan Dusk juga memiliki tubuh Tyrael yang telah dihidupkan kembali)


Caius dan Yeoul tentu saja merasa dihinakan oleh Malthel. Karena secara tingkatan, mereka berdua jauh lebih tinggi dan jauh lebih senior jika dibandingkan dengan dua Apotheosis yang baru diangkat tersebut.


Tapi bagaimana pun juga, mereka tidak mungkin untuk menentang perintah Malaikat Malthael. Kejadian itu juga membuat Caius dan Yeoul semakin menaruh curiga jika sang Malaikat sedang merencanakan sesuatu dibalik mereka secara diam-diam. Dan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Caius kemudian mengirimkan empat gulungan rahasia kepada bangsa Api, bumi, petir, dan juga angin. Yang mana gulungan tersebut berisikan sesuatu yang sangat penting, mengenai rahasia para Malaikat di negeri tersebut.


"Jangan bermain-main denganku, Malthael..."


...----------------...


Oleh karena itu, Feng Lian pun memutuskan untuk membagi aliran gaib keabadian miliknya kepada Haerin agar kekuatan gaib Haerin menjadi lebih kuat. Tapi tetap saja ada sebuah konsekuensi yang harus Feng Lian terima, yang mana, jiwa dirinya dan Haerin akan saling terikat. Dengan kata lain, jika Haerin mati, maka Feng Lian juga akan mati.


Tapi Feng Lian sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Karena menurutnya, itulah harga mahal yang harus mereka bayar demi mencapai tujuan besar mereka.


Di malam itu pula, Frost dan Dusk pun berangkat menuju persembunyian Silver dan teman-temannya untuk menjalankan misi yang sudah diberikan oleh Malaikat Malthael. Perlahan mereka berdua memasuki kamar Yin Chen, dan kemudian meneteskan darah hitam kepadanya. Yang mana darah tersebut membuat Yin Chen kini bisa dikendalikan oleh Dusk.


Tidak hanya itu, Frost juga berhasil menangkap tatapan Yin Chen. Sehingga mulai saat itu, apapun yang dilihat oleh Yin Chen, juga akan dilihat oleh Frost.


Keesokan harinya, Yin Chen pun menceritakan kepada Silver dan yang lainnya mengenai kejadian pada malam itu. Dan oleh karenanya, mereka pun memutuskan untuk segera berangkat menjalankan misi. Meskipun sebenarnya, persiapan mereka masih belum matang.


Di saat bersamaan, Malthael juga mengirimkan Caius beserta pasukannya untuk menghabisi Silver dan teman-temannya sebelum mereka berhasil meninggalkan Kerajaan.


Pertarungan pun tidak dapat dielakkan lagi, aksi kejar-kejaran pun terjadi disepanjang jalan menuju lautan. Hal tersebut menguras banyak energi jiwa Silver dan teman-temannya, dan tentu saja membuat perjalanan mereka menjadi terhambat. Sebab, mereka tidak hanya menghadap Caius dan bala tentaranya, namun mereka juga bertarung melawan bayangan mereka sendiri akibat terkena pantulan dari cermin gaib milik Caius.

__ADS_1


Berhubung perjalanan mereka masih sangat panjang, dan masih banyak rintangan yang harus dilewati, Yin Chen pun segera memanggil hewan gaibnya untuk membawa mereka semua pergi menjauh kearah lautan.


Tapi sialnya, Caius dan bala tentaranya masih terus berusaha mengejar mereka. Mau tidak mau, mereka terpaksa harus kembali berhadapan dengan Caius sembari menunggu sesosok mahluk gaib muncul ke permukaan.


"Orochi!!!!" Raung Yin Chen dengan sangat lantang, membuat seekor ular naga raksasa muncul dari bawah laut, dan melahap mereka semua dengan mulutnya yang besar.


Frost kemudian segera melaporkan kepada Malthael jika Silver dan yang lainnya berhasil meloloskan diri dan sedang menuju kereruntuhan Sean.


Sementara itu, Silver dan yang lainnya telah sampai ditujuan. Mereka kini sedang bersiap untuk melewati rintangan yang pertama, yang tidak lain adalah sekumpulan Bless.


"Semuanya, ikuti aku!!" Yin Chen kemudian langsung terjun dari ketinggian, disusul oleh Silver dan yang lainnya. Segera setelah itu, Yin Chen pun menghipnotis para Bless untuk memberikan mereka jalan menuju reruntuhan Sean.


Namun sialnya, Yin Chen tiba-tiba kehilangan kekuatannya karena pengaruh dari Dusk. Para Bless yang sudah kembali sadar, lalu segera menyerang Yin Chen dan kemudian menariknya.


"Yin Chen!!!" Ling mencoba menyelamatkan Yin Chen, namun Silver menahannya. Karena Silver tahu, kalau mereka tidak bisa berbuat banyak.


Mereka kemudian memutuskan untuk terus melanjutkan misi agar pengorbanan Yin Chen tidak menjadi sia-sia.


"Ingat, kita datang kesini dengan kesungguhan hati. Jadi jangan pernah sekalipun kalian meragukan keteguhan hati seorang Yin Chen." Tegas Silver.


...----------------...


Malaikat Malthael kemudian kembali menugaskan Vaas, Caius, dan Red untuk menghentikan Silver dan teman-temannya.


Sang Malaikat lalu mengatakan, jika mereka bertiga akan ditempatkan secara terpisah.


Red sebenarnya kurang setuju dengan rencana tersebut, karena dengan terpisahnya mereka bertiga, maka mereka akan sangat mungkin untuk dikalahkan.


Namun sang Malaikat kembali mempertegas, jika tidak ada keraguan pada rencana tersebut. Sebab dirinya sudah memikirkan semuanya secara matang.


Mendengar pernyataan tersebut, Red pun tidak bisa berkata-kata lagi. Vaas kemudian segera membuka portal teleportasi untuk mengirimkan Red dan Caius ke tempat yang sudah ditentukan.


Tapi anehnya, sebuah diskusi kembali terjadi antara Malthael dengan Vaas. Malaikat Malthael rupanya sudah menyiapkan sebuah misi khusus untuk Vaas. Bahkan Malthael juga sudah menyiapkan sebuah tim yang akan membantu Vaas untuk menyelesaikan misi rahasia tersebut.


"Patuhlah kepadaku, Vaas. Karena kau adalah andalanku."

__ADS_1


__ADS_2