VAGRANT

VAGRANT
Reuni Di Luar Rencana


__ADS_3

Suatu ketika, Apotheosis ke-1 dari negari bumi mendatangi Daratan Sean, yang berada di negara air, bersama dengan ketiga pengikut setianya. Dengan kekuatan pengendalian tanah yang dirinya miliki, ia pun bisa dengan mudah menyingkirkan para mahluk yang mendiami kuil itu.


Tindakannya tersebut terhitung sebagai tindakan yang sangat terlarang. Oleh karena itu, Vaas pun segera datang dan mencoba memperingati Apotheosis ke-1 bumi tersebut untuk segera meninggalkan wilayah kekuasaan bangsa air. Sebab jika tidak, maka bangsa air akan menganggap pelanggaran tersebut sebagai sebuah pernyataan perang.


Namun, Apotheosis tersebut sama sekali tidak menggubris peringatan Vaas. Ia dan ketiga pengikutnya malah berusaha menyerang Vaas, dan membunuhnya ditempat.


Pada awalnya, Vaas mampu mendominasi pertarungan tersebut dengan kekuatan manipulasi waktu miliknya yang bisa membuat pergerakannya menjadi sangat cepat dibandingkan para musuh. Tapi sayangnya, lawan utama yang dia hadapi adalah Apotheosis ke-1 di negeri bumi yang tentu saja memiliki tingkat kekuatan lebih tinggi dibandingkan Vaas yang cuma Apotheosis ke-4 di negeri air.


Dengan sangat terpaksa, Vaas pun melarikan diri dari pertarungan tersebut, dan melapor kepada malaikat Malthael (Malaikat tertinggi di negeri air). Malthael curiga jika yang menjadi alasan penyerangan tersebut tidak lain karena Apotheosis 1 Bumi menginginkan mata emas yang tersembunyi disana. Sang malaikat kemudian mengabarkan kepada Caius beserta muridnya jika mereka semua harus segera menyelesaikan tugas yang sudah dirinya berikan.


...----------------...


Di sebuah hutan gelap yang terletak didekat kerajaan selatan, Ling menatap lesu tubuh Lotus yang sudah tidak bernyawa. Dia baru saja membunuh seorang murid dari Apotheosis ke-3 yang terkenal sangat lincah. Membunuh hanya untuk keselamatannya seorang diri. Apakah Ling benar-benar sudah lebih baik dari hari itu?


Ling menengadah ke langit, lalu bertanya. "Apa yang kau inginkan dariku, tuhan?"


Dua ekor burung raksasa melintasi kedua mata sipitnya. Ling tersentak, dan langsung berlari mengejar burung-burung itu.


"Ada apa?" Tanya Eunchae, perempuan itu turun dari pohon lalu segera mengekori Ling.


"Yin Chen! Aku melihat Yin Chen!"


...----------------...


Melihat kerusakan berskala besar di Kerajaan Selatan membuat Silver, Yin Chen, bahkan Feng Lian pun merasa iba. Mereka mendarat diatas istananya, lalu melihat Caius berserta ketiga muridnya yang sedang membantai pasukan pertahanan, memaksa untuk masuk.

__ADS_1


"Caius!" Seru Silver, lelaki itu langsung melompat kebawah sana dan terlibat kedalam pertarungan dan menyerang Caius dengan seluruh kekuatannya. Berbagai macam Hocrux ia lemparkan kelelaki berdarah dingin itu, tetapi Caius mampu menahan semuanya dengan hanya tebasan.


Sementara itu, Feng Lian dipaksa berlawananan dengan Yeoul. Lalu Yin Chen, dia sedang berhadapan dengan Noel.


Mereka semua dibuat sibuk, tanpa menyadari kalau Nero sudah menculik putri Haerin dari istana. Lelaki itu menyelinap keluar, namun sialnya ia kembali dipertemukan oleh Ling juga Eunchae yang tadi mengejar burung-burung Yin Chen.


"Eunchae, formasi B!" Titah Ling, sebelum maju untuk menyerang Nero.


Nero yang sedang menggendong tubuh putri Haerin yang sudah tak sadarkan diri jadi kesulitan untuk melawan.


Ditambah dengan Eunchae yang terus menembakinya dari atas atap membuat Nero terpaksa melepas Haerin untuk sementara waktu. "Jangan menghalangiku!" Nero menghempaskan tebasan hitam untuk kedua kalinya, namun Ling berhasil menghindar.


"Kukira Apotheosis adalah organisasi yang bergerak dari balik bayangan, tapi apa-apaan semua ini? Apa yang sebenarnya kalian rencanakan?!" Bentak Ling.


Tanpa menjawab, Nero berlari mendekati Ling dan menyerangnya tanpa ampun. Pedang tajam mereka saling menghantam, membuat Eunchae kesulitan dalam membidik.


Melihat Nero yang lengah karena kesakitan, Ling langsung maju dan menebas tubuhnya hingga sekarat.


Caius dan sisa muridnya tiba-tiba saja mendapatkan sebuah perasaan yang mengganjal, seolah salah satu dari mereka baru saja ditumbangkan oleh seseorang. Caius pun langsung pergi dari tempatnya menuju tempat Nero kini berada diikuti oleh Yeoul dan Noel.


Melihat kedatangan dari ketiga orang itu, tanpa rasa bimbang sedikitpun, Ling langsung mengunci Caius. Dia berusaha menebas lelaki itu, sementara Noel berusaha menyelamatkan Nero, dan Yeoul masih nekat untuk mencuri tubuh Haerin.


Eunchae pun masuk ketahap ragu, dia tidak tahu siapa yang harus di prioritaskan. Namun entah kenapa, insting alaminya menyuruh Eunchae untuk membantu putri Haerin dengan menembak tangan Yeoul hingga putus.


Wanita itu menjerit kesakitan, lalu kembali melarikan diri, meninggalkan tubuh lemah Haerin.

__ADS_1


Caius menghantamkan pedang panjangnya ke pedang katana Ling, mereka kemudian saling tatap dalam hitungan beberapa detik.


Menyadari kalau Silver membuntutinya, Caius pun menendang tubuh Ling dan kembali melarikan diri, menyusul murid-muridnya.


"Silver!" Panggil Eunchae, lalu turun dari atas atap.


"Dimana sang putri?" Balas Silver.


Eunchae menunjuk kesebuah arah, dan Silver langsung bergegas diri menuju kesana. Ia meraba nadi perempuan itu, dan membuang napas lega ketika ia dapat merasakan detakannya.


"Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Ling, namun tidak kunjung mendapat jawaban dari sisi lain. "Jawab aku, sialan! Misimu berhasil karena ada kami disini!"


Silver menoleh, dengan dahi berkerut. "Jaga gaya bicaramu, murid."


"Kalau begitu jawab pertanyaanku! Kau sudah menelantarkan kami berbulan-bulan dan kau kembali dengan semua masalah ini... apa yang sebenarnya terjadi di pulau abadi?" Cecar Ling. Membuat Eunchae termenung, gadis itu jelas tidak menyangka kalau Ling masih mempertanyakan semua pertanyaan itu.


Silver tersenyum tipis, lalu menepuk-nepuk pundak Ling seperti seorang ayah yang bangga. "Maaf dan terimakasih. Ayo ke istana. Bersihkan dirimu, nanti akan kujelaskan semuanya di sana."


Silver menggendong tubuh Haerin, lalu pergi mendahului Ling juga Eunchae yang masih terdiam.


...----------------...


Caius merebahkan tubuh Nero yang kini telanjang bulat keatas telaga emas, membuat tubuh dari pria muda itu kembali pulih dan segar seperti sedia kala.


"Maafkan aku." Mohon Nero.

__ADS_1


Caius tersenyum, lalu membawa tubuh Nero keatas daratan. "Tidak apa, kedua murid Silver memang tidak ada direncana kita, karena kita kira mereka berdua sudah mati ditangan Lotus. Tapi ternyata, dia lebih kuat dari perkiraan kita semua. Jadi mulai saat ini, kita akan memasukkan mereka berdua kepermainan kita, sehingga tidak ada kelengahan lagi diantara kita." Tegas Caius.


Nero, Noel, dan Yeoul mengangguk paham. Mereka semua tersenyum dengan bangga atas kekalahan yang mereka ambil kali ini. "Kedua kali kita bertemu, kita akan menang." Ucap Caius.


__ADS_2